banner 728x250

Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan

Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Papua Selatan Terapkan Belajar Daring Kabut | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengubah pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di Papua Selatan. Ketika kualitas udara menurun, pembelajaran yang biasanya berlangsung secara langsung di sekolah dialihkan ke sistem daring. Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap terhadap pelajar selama kondisi lingkungan belum mendukung kegiatan pendidikan tatap muka.

Tiga kabupaten yang menerapkan pengalihan tersebut adalah Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Di wilayah-wilayah ini, sekolah tidak menjadi lokasi utama pelaksanaan pembelajaran untuk sementara dalam situasi kualitas udara yang memburuk. Sebagai gantinya, proses penyampaian materi dan pelaksanaan tugas dilakukan melalui sarana pembelajaran jarak jauh sesuai pengaturan masing-masing satuan pendidikan.

banner 325x300

Peralihan ke pembelajaran daring menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan. Asap yang menyelimuti wilayah terdampak dapat menurunkan kenyamanan serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi orang yang beraktivitas di luar ruangan. Karena itu, kegiatan belajar dari rumah dipandang sebagai pilihan yang lebih aman bagi para pelajar ketika kondisi udara tidak layak untuk mendukung pembelajaran di sekolah.

Kebijakan tersebut juga menegaskan pentingnya menyesuaikan penyelenggaraan pendidikan dengan keadaan darurat lingkungan. Meskipun kegiatan berlangsung secara daring, tujuan utamanya tetap menjaga keberlanjutan pembelajaran sekaligus melindungi kesehatan siswa. Sekolah, keluarga, dan pelajar perlu mengikuti arahan yang berlaku agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan risiko yang ditimbulkan oleh kabut asap. Pengalihan ini dilakukan berdasarkan kondisi kualitas udara, sehingga pelaksanaannya berkaitan langsung dengan kebutuhan perlindungan terhadap kesehatan pelajar di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.

Pemerintah daerah di tiga kabupaten Papua Selatan memilih menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai respons terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Keputusan tersebut diambil karena kegiatan belajar mengajar di sekolah dinilai berisiko bagi kesehatan pelajar apabila kualitas udara masih terganggu. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dapat mengurangi kenyamanan saat beraktivitas, terutama bagi anak-anak yang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan. Dengan memindahkan proses pembelajaran ke rumah, pemerintah berupaya memastikan kegiatan akademik tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa terpapar kondisi udara yang kurang sehat.

Penerapan pembelajaran daring dipandang sebagai langkah pencegahan, bukan penghentian proses pendidikan. Siswa tetap memperoleh materi dan arahan dari guru melalui sarana komunikasi yang tersedia, sementara aktivitas belajar dapat disesuaikan dengan keadaan masing-masing keluarga. Kebijakan ini juga memberi ruang bagi sekolah untuk memantau perkembangan pelajaran tanpa mengabaikan situasi darurat lingkungan. Pemerintah daerah akan mempertimbangkan kondisi kabut asap dan perkembangan kualitas udara sebelum menentukan kapan kegiatan tatap muka dapat dilaksanakan kembali. Pertimbangan kesehatan menjadi dasar utama dalam setiap penyesuaian kebijakan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Paskalis Prayitno, mendukung langkah pemerintah daerah untuk mengalihkan pembelajaran ke sistem jarak jauh. Dukungan itu diberikan karena keselamatan siswa harus ditempatkan sebagai pertimbangan utama selama kabut asap masih berpotensi memengaruhi kesehatan. Menurutnya, penyelenggaraan pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan materi pelajaran, tetapi juga kewajiban melindungi peserta didik. Karena itu, pembelajaran dari rumah dinilai sebagai pilihan yang lebih aman sampai kondisi memungkinkan siswa kembali belajar di sekolah. Sekolah dan orang tua diharapkan berkoordinasi agar kegiatan belajar tetap terlaksana secara teratur.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan terus memantau perkembangan kabut asap yang berdampak pada kegiatan pembelajaran di empat kabupaten. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi pendidikan di wilayah terdampak, sekaligus mengikuti perubahan keadaan kabut asap dari waktu ke waktu. Informasi yang dihimpun menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana situasi lingkungan memengaruhi aktivitas sekolah, peserta didik, guru, serta penyelenggaraan pembelajaran secara umum.

Pernyataan mengenai pemantauan itu disampaikan Paskalis Prayitno di Jayapura pada 13 Oktober 2026. Ia menerangkan bahwa perkembangan kondisi di empat kabupaten menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan. Perhatian tersebut mencakup situasi kabut asap dan kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran, sehingga perkembangan di lapangan dapat terus diikuti berdasarkan informasi yang tersedia dari wilayah masing-masing.

Pemantauan berfungsi sebagai dasar untuk mengikuti perkembangan situasi pendidikan dan kondisi kabut asap secara lebih terukur. Melalui pemantauan berkelanjutan, dinas dapat memahami perubahan keadaan yang terjadi di sekolah-sekolah serta mencatat dampaknya terhadap proses belajar mengajar. Data dan laporan dari daerah juga membantu memberikan gambaran mengenai kondisi aktual di empat kabupaten, termasuk dinamika yang mungkin muncul selama kabut asap masih berlangsung.

Langkah tersebut menempatkan pengumpulan dan pembaruan informasi sebagai bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan pendidikan. Kondisi setiap kabupaten dapat berbeda, sehingga perkembangan kabut asap dan dampaknya perlu diamati secara berkala, bukan hanya berdasarkan keadaan pada satu waktu. Dengan demikian, pemantauan menjadi sarana untuk mengikuti situasi pendidikan dan lingkungan secara bersamaan. Keterangan yang disampaikan di Jayapura itu menegaskan adanya perhatian terhadap perkembangan di empat kabupaten, tanpa menyebutkan keputusan lanjutan atau perubahan kebijakan tertentu.

Berbeda dengan tiga kabupaten lain di Papua Selatan, Kabupaten Merauke masih mempertahankan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka di sekolah. Kebijakan ini berarti siswa dan guru tetap menjalankan proses pembelajaran secara langsung di ruang kelas, sementara kabut asap belum menjadi alasan untuk mengalihkan kegiatan pendidikan ke pola lain. Pelaksanaan tatap muka tersebut menjadi bagian dari perbedaan penanganan pembelajaran di tengah kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah.

Menurut Paskalis Prayitno, kondisi kabut asap di Merauke dinilai belum setebal kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Perbedaan ketebalan tersebut menjadi dasar yang membedakan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di Merauke dari kebijakan di tiga kabupaten lainnya. Dengan kondisi kabut yang disebut tidak setebal wilayah tersebut, sekolah-sekolah di Merauke masih melaksanakan pembelajaran secara langsung.

Informasi mengenai Merauke menegaskan bahwa kegiatan tatap muka tetap berlangsung karena adanya perbedaan ketebalan kabut asap antardaerah. Keterangan itu tidak menyebut adanya penghentian kegiatan belajar-mengajar di Merauke. Oleh karena itu, kebijakan yang berlaku di kabupaten tersebut perlu dipahami dalam konteks kondisi kabut asap setempat, bukan sebagai kebijakan yang sama dengan Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa respons terhadap gangguan kabut asap diterapkan sesuai keadaan yang dilaporkan di masing-masing kabupaten. Di Merauke, kegiatan pendidikan masih berjalan melalui pertemuan langsung guru dan siswa. Sementara itu, kabut asap yang disebut lebih tebal di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat menjadi latar peralihan pembelajaran di wilayah-wilayah tersebut. Keterangan yang tersedia hanya menegaskan keberlangsungan tatap muka di Merauke dan kaitannya dengan perbedaan ketebalan kabut asap.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Melawi Kalbar | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat

banner 325x300