Jakarta | Padang kembali dilanda banjir besar setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan berlanjut hingga Minggu, 11 Oktober 2026. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan dengan catatan bencana lama yang pernah mewarnai sejarah kota dan wilayah sekitarnya.
Hujan dengan intensitas tinggi menjadi latar utama terjadinya banjir pada pertengahan Oktober 2026. Curah hujan yang turun selama dua hari tersebut memunculkan kembali pembahasan mengenai kerentanan Padang terhadap bencana hidrometeorologi, terutama ketika hujan berlangsung dengan kekuatan dan durasi yang besar. Informasi mengenai dampak rinci peristiwa ini masih belum menjadi bagian dari bahan yang tersedia.
Kejadian terbaru itu memiliki kemiripan dengan bencana yang pernah terjadi di wilayah yang sama sekitar satu abad sebelumnya. Kesamaan tersebut terutama terlihat pada konteks munculnya banjir setelah hujan deras, sehingga catatan sejarah mengenai bencana masa lalu kembali mengemuka. Perbandingan ini bukan hanya menempatkan peristiwa Oktober 2026 dalam urutan waktu, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman kebencanaan yang telah dicatat sejak generasi terdahulu.
Catatan mengenai bencana seabad silam memberikan perspektif bahwa banjir di Padang bukan semata-mata peristiwa yang berdiri sendiri. Setiap kejadian baru dapat dibaca berdampingan dengan rekaman sejarah untuk memahami pola dan kesinambungan ancaman yang pernah dihadapi wilayah tersebut. Dalam konteks itu, banjir besar pada Sabtu dan Minggu tersebut menandai kembali hadirnya persoalan lama dalam situasi masa kini, sekaligus membuka ruang untuk menelusuri hubungan kejadian alam dan perjalanan sejarah Padang.
Pada 8–9 April 1926, Padang menghadapi salah satu banjir besar yang kemudian tercatat dalam ingatan sejarah kota. Hujan deras mulai mengguyur sekitar pukul 18.00 dan terus berlangsung hingga pukul 06.00. Selama kurang lebih dua belas jam, curah hujan yang tidak berhenti membuat permukaan air meningkat secara bertahap, sementara malam semakin gelap. Warga mendengar suara gemuruh yang menandai derasnya aliran air dari arah pegunungan menuju kawasan permukiman.
Aliran dari pegunungan bergerak cepat menuju dataran yang lebih rendah. Sungai-sungai pun meluap, membawa air ke wilayah kota dan sekitarnya. Kanal banjir yang tersedia tidak mampu menampung air kiriman tersebut. Dalam suasana malam yang pekat, air terus menyebar melewati saluran dan batas-batas alirannya. Gemuruh air terdengar oleh warga, bersamaan dengan meningkatnya genangan di berbagai bagian Padang. Keadaan itu membuat perubahan kondisi berlangsung cepat, terutama di kawasan yang berdekatan dengan sungai dan kanal.
Dampak awal banjir segera terlihat pada permukiman, rumah, dan pertokoan. Air merendam kawasan tempat warga tinggal serta memasuki bangunan yang berada di jalur genangan. Sejumlah pertokoan turut terdampak ketika air meluas di lingkungan kota. Peristiwa tersebut memperlihatkan besarnya tekanan air yang datang setelah hujan panjang dan aliran pegunungan mencapai Padang. Banjir pada 8–9 April 1926 menjadi catatan penting karena berlangsung sepanjang malam, ketika warga harus menghadapi gelap, suara gemuruh, serta air yang terus menggenangi lingkungan mereka.
Bencana banjir yang melanda Padang pada 1926 meninggalkan kerusakan fisik luas, terutama pada prasarana penghubung antarkawasan. Arus deras merusak, bahkan menghanyutkan, sejumlah jembatan yang menjadi akses penting bagi warga dan pengangkutan barang. Jalan-jalan turut mengalami kerusakan berat. Sebagian permukaannya terkikis oleh aliran air hingga menyerupai dasar sungai, sementara genangan lumpur menutup ruas-ruas yang masih dapat dilalui. Kondisi tersebut membuat pergerakan penduduk dan distribusi kebutuhan sehari-hari terganggu selama dan setelah banjir.
Jalur kereta api juga tidak luput dari dampak bencana. Beberapa bagian lintasan terputus atau rusak, sehingga lalu lintas kereta menuju wilayah dataran tinggi mengalami gangguan. Kerusakan pada jembatan, jalan, dan rel memperlihatkan bahwa banjir tidak hanya menggenangi permukiman, tetapi juga melumpuhkan jaringan transportasi yang menghubungkan Padang dengan daerah sekitarnya. Di sejumlah wilayah sekitar kota, bencana berlangsung bersamaan dengan longsor dan banjir, memperluas kawasan terdampak serta menyulitkan upaya pertolongan.
Laporan mengenai korban jiwa menunjukkan beratnya keadaan di lapangan. Sebuah rumah tertimbun longsor dan menyebabkan seorang perempuan serta seorang anak meninggal dunia. Dalam peristiwa lain, seorang perempuan bersama anaknya terseret arus ketika berusaha menyeberangi jembatan. Keduanya kemudian meninggal karena tenggelam. Jumlah keseluruhan korban meninggal tidak diketahui secara pasti. Namun, laporan pada masa itu menyebutkan bahwa banyak mayat ditemukan bergeletakan setelah air banjir surut, sehingga angka korban kemungkinan jauh lebih besar daripada yang berhasil dicatat.
Situasi kota semakin mencekam karena listrik padam dan Padang diliputi kegelapan. Tanpa penerangan, warga kesulitan mencari tempat aman, mengenali kerusakan, atau membantu mereka yang terjebak. Lumpur yang mengendap, jalan yang tergerus, serta bangunan dan jembatan yang rusak membuat pemulihan berlangsung tidak mudah. Catatan tersebut menggambarkan banjir 1926 sebagai bencana yang meninggalkan dampak berlapis: korban berjatuhan, infrastruktur lumpuh, dan kehidupan kota terganggu bahkan setelah aliran air menurun.
Besarnya dampak banjir Padang pada 1926 tidak hanya terlihat dari kerusakan bangunan dan terganggunya aktivitas warga, tetapi juga dari nilai kerugian ekonomi yang ditinggalkannya. Kerugian yang dialami penduduk diperkirakan mencapai setengah juta gulden. Dalam sumber sejarah, jumlah tersebut disebut setara dengan sekitar 2–3 ton emas, sebuah gambaran mengenai betapa besar beban yang harus ditanggung masyarakat setelah bencana.
Perkiraan itu belum mencakup kerugian yang dialami sejumlah badan usaha. Perusahaan ekspor milik Eropa dan perusahaan impor milik warga Tionghoa masing-masing dilaporkan mengalami kerugian sekitar 25.000 gulden. Nilai tersebut menunjukkan bahwa banjir turut menghantam kegiatan perdagangan yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi Padang pada masa itu. Kerusakan pada persediaan, tempat usaha, serta jalur distribusi memperluas dampak bencana dari lingkungan permukiman ke sektor niaga.
Pemerintah kota juga mencatat beban kerusakan pada jalan dan berbagai fasilitas lain dengan nilai sekitar 7.000 gulden. Namun, jumlah keseluruhan kerugian yang harus ditanggung pemerintah belum dapat diperkirakan. Keterbatasan pencatatan dan luasnya kerusakan kemungkinan membuat angka resmi pada masa itu belum menggambarkan seluruh dampak yang terjadi, sehingga catatan yang tersedia perlu dibaca sebagai perkiraan, bukan perhitungan final.
Setelah kabar bencana tersebar, bantuan dari berbagai daerah di Hindia Belanda mulai mengalir ke Padang. Dukungan tersebut juga datang dari tokoh-tokoh nasional yang turut mengumpulkan atau menyalurkan dana bagi korban. Rangkaian catatan itu kembali mengemuka ketika banjir melanda Padang pada 2026. Peristiwa terbaru tersebut menjadi pengingat bahwa kota ini memiliki sejarah panjang berhadapan dengan bahaya banjir, sekaligus memperlihatkan pentingnya memahami pengalaman bencana masa lalu dalam membaca kerentanan yang masih dapat muncul pada masa kini.
Baca juga: Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | Kondisi Setu Cilodong Depok: Masalah Sampah Mengemuka di Musim Kemarau | Penerbangan Kembali Normal Setelah Penutupan Akibat Abu Vulkanik







