banner 728x250

Penembakan di Sekolah Aubagne, Siswa 14 Tahun Ditahan Setelah Tiga Orang Terluka

Penembakan di Sekolah Aubagne, Siswa 14 Tahun Ditahan Setelah Tiga Orang Terluka
banner 120x600
banner 468x60

Kota Aubagne | Seorang siswa berusia 14 tahun ditahan setelah diduga terlibat dalam penembakan di Joseph Lakanal Middle School, Aubagne, Prancis selatan, pada Senin. Insiden tersebut menyebabkan tiga orang terluka, termasuk kepala sekolah dan seorang guru yang menjadi sasaran tembakan. Pihak berwenang segera mengamankan siswa itu setelah kejadian berlangsung di lingkungan sekolah.

Menurut informasi awal, siswa tersebut diduga menggunakan senapan berburu. Senjata itu disebut disembunyikan di dalam sebuah kotak gitar sebelum dibawa ke area sekolah. Rincian mengenai bagaimana senjata tersebut diperoleh dan alasan di balik tindakan itu belum dijelaskan secara lengkap oleh penyidik.

banner 325x300

Suara beberapa tembakan memicu kepanikan di para siswa dan staf. Sejumlah siswa berlarian untuk mencari perlindungan ketika mendengar letusan di lingkungan sekolah. Situasi tersebut kemudian ditangani oleh aparat, sementara kawasan sekolah diamankan untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan serta memungkinkan petugas memberikan pertolongan kepada para korban.

Aubagne berada di dekat Marseille. Sekolah menengah pertama tersebut menjadi lokasi perhatian setelah penembakan terjadi pada awal pekan dan seorang pelajar ditahan untuk menjalani pemeriksaan. Penahanan itu tidak serta-merta menetapkan kesimpulan hukum, karena penyidik masih perlu memeriksa saksi, mengumpulkan bukti, serta menjelaskan rangkaian peristiwa sebelum dan selama penembakan.

Ketiga korban yang terluka menjadi bagian utama dari penanganan awal setelah kejadian. Kepala sekolah dan guru yang disebut dalam laporan awal diduga mengalami luka akibat tembakan, sedangkan kondisi korban lainnya belum dirinci. Aparat juga diperkirakan akan menelusuri situasi di sekolah, termasuk bagaimana siswa tersebut dapat membawa senapan berburu yang disembunyikan dalam kotak gitar. Perkembangan penyelidikan akan menentukan kronologi dan kemungkinan dakwaan dalam perkara ini.

Kronologi penembakan di sebuah sekolah di Aubagne disampaikan berdasarkan keterangan Jaksa Penuntut Umum Marseille Nicolas Bessone dan Wali Kota Aubagne Jean-Pierre Squillari. Peristiwa itu bermula ketika seorang siswa berusia 14 tahun diduga membawa senjata dan melepaskan tembakan di dalam lingkungan sekolah. Aparat masih mendalami motif serta rangkaian kejadian secara menyeluruh, tetapi keterangan awal memberikan gambaran mengenai perpindahan pelaku dari satu lantai ke lantai lainnya.

Di lantai pertama, pelaku disebut melepaskan satu atau dua tembakan. Tembakan tersebut mengenai kaki kepala sekolah dan seorang guru. Kedua korban utama kemudian mendapatkan penanganan medis. Selain mereka, satu orang lain juga terluka setelah terserempet tembakan. Cedera yang dialami korban ketiga menambah jumlah orang yang terdampak dalam insiden itu menjadi tiga, meskipun informasi mengenai kondisi masing-masing korban tetap menunggu pembaruan resmi dari pihak berwenang.

Setelah kejadian di lantai pertama, pelaku bergerak menuju lantai dua. Di lokasi tersebut, ia kembali melepaskan dua tembakan. Situasi kemudian berusaha dikendalikan oleh seorang staf sekolah yang berada di sekitar tempat kejadian. Staf itu berhasil mendekati pelaku dan melucuti senjata yang digunakan, sebelum polisi tiba di sekolah untuk mengamankan area.

Polisi selanjutnya menangkap siswa tersebut tanpa laporan mengenai tembakan tambahan setelah senjatanya berhasil diamankan. Menurut keterangan awal, amunisi yang digunakan merupakan jenis yang dipakai pada senapan kaliber 12. Informasi mengenai jenis amunisi tersebut menjadi bagian dari penyelidikan, termasuk untuk memastikan asal senjata, bagaimana pelaku memperolehnya, dan urutan penggunaan peluru dalam setiap tembakan. Penyelidikan juga akan mencakup pemeriksaan saksi serta rekaman yang mungkin membantu menjelaskan pergerakan pelaku di dalam gedung sekolah.

Seorang siswa menceritakan kepada Reuters bahwa suasana di dalam sekolah berubah dengan cepat setelah terdengar suara tembakan. Pada awalnya, guru matematika siswa tersebut tidak langsung menyadari bahwa suara itu berasal dari senjata. Ia sempat mengira bunyi pertama merupakan kebisingan dari pekerjaan konstruksi yang berlangsung di sekitar sekolah. Situasi itu membuat beberapa orang di dalam kelas belum segera memahami adanya bahaya.

Namun, suara tembakan berikutnya menimbulkan kepanikan. Alarm sekolah kemudian berbunyi, dan para siswa berhamburan keluar dari ruang kelas menuju koridor. Menurut kesaksian tersebut, siswa-siswa berlari dalam keadaan panik, berusaha menjauh dari sumber suara dan mencari tempat yang dianggap paling aman. Ketika keadaan menjadi semakin tidak terkendali, pihak sekolah menyediakan dua jalur penyelamatan bagi para siswa.

Salah satu jalur mengarah ke gedung olahraga, sementara jalur lainnya menuju ke luar kompleks sekolah. Siswa yang memberikan kesaksian itu memilih jalan keluar sekolah karena dorongan untuk segera menyelamatkan diri. Ia menggambarkan keputusan tersebut sebagai reaksi spontan di tengah kepanikan, ketika para siswa berusaha bergerak secepat mungkin dan tidak sepenuhnya mengetahui apa yang sedang terjadi. Kesaksian itu memperlihatkan bagaimana suara tembakan membuat kegiatan belajar mengajar berubah menjadi situasi darurat dalam hitungan detik.

Petugas kepolisian kemudian menyampaikan bahwa kepala sekolah dan seorang guru yang tertembak telah mendapat penanganan. Keduanya dilaporkan tidak berada dalam kondisi kritis. Informasi tersebut disampaikan ketika penyelidikan terhadap penembakan di sekolah masih berlangsung, termasuk untuk memastikan rangkaian kejadian dan kondisi seluruh korban yang terdampak.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyampaikan tanggapan melalui media sosial X setelah penembakan di sebuah sekolah di Aubagne melukai tiga orang dan menyebabkan seorang siswa berusia 14 tahun ditahan. Ia menyebut tindakan tersebut tidak dapat diterima serta menegaskan bahwa peristiwa itu mencerminkan meningkatnya kekerasan yang tidak terkendali di tengah masyarakat. Menurut Geffray, kecenderungan tersebut harus dilawan secara bersama-sama, dengan melibatkan lembaga negara, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Kantor perdana menteri Prancis mengatakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan sedang menuju lokasi kejadian. Kehadiran kedua pejabat itu menunjukkan perhatian pemerintah terhadap penanganan langsung insiden, kondisi para korban, serta situasi keamanan di lingkungan sekolah. Pemerintah diperkirakan akan berkoordinasi dengan aparat setempat dan pihak sekolah untuk memastikan proses penyelidikan berlangsung, sekaligus memberikan dukungan yang diperlukan kepada siswa dan tenaga pendidik.

Kekerasan bersenjata yang dilakukan siswa di sekolah tergolong jarang terjadi di Prancis. Namun, negara tersebut pernah mengalami insiden serupa. Pada 2017, seorang siswa berusia 16 tahun membawa senapan, pistol, dan sejumlah granat kecil sebelum menembak di sebuah sekolah menengah atas di wilayah selatan Prancis. Peristiwa itu melukai tiga siswa dan kepala sekolah.

Meski demikian, belum ada informasi awal yang mengaitkan penembakan di Aubagne dengan aksi protes siswa sekolah menengah atas yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Aksi tersebut berfokus pada tuntutan peningkatan sumber daya dan dukungan bagi sekolah, bukan pada kekerasan bersenjata. Pemisahan konteks ini penting agar penyelidikan tidak dipengaruhi oleh dugaan yang belum terverifikasi, sementara perhatian tetap diarahkan pada keselamatan warga sekolah dan pengungkapan motif kejadian.

Baca juga: Penembakan Tragis di Jayawijaya: Tiga ASN Tewas oleh KKB | Kebijakan PJJ di Jakarta Berakhir, Sekolah Kembali Normal

banner 325x300