banner 728x250

Embung Kebagusan Dikebut, Tampung 30.000 Meter Kubik Air dan Siapkan Ruang Publik

Embung Kebagusan Dikebut, Tampung 30.000 Meter Kubik Air dan Siapkan Ruang Publik
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Peninjauan pembangunan Embung Kebagusan berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau lokasi proyek yang berada di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut menjadi agenda lapangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di kawasan Kebagusan.

Peninjauan itu menempatkan pembangunan Embung Kebagusan sebagai fokus kegiatan pemerintah daerah pada hari tersebut. Dalam agenda itu, Gubernur DKI Jakarta hadir di lokasi proyek untuk meninjau secara langsung pembangunan yang sedang dikerjakan. Lokasi peninjauan berada di Jalan Baung, wilayah Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rangkaian informasi awal mengenai proyek ini mencakup waktu pelaksanaan peninjauan, lokasi pembangunan, serta kehadiran gubernur di lapangan.

banner 325x300

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang mengebut pembangunan Embung Kebagusan. Percepatan pembangunan tersebut menjadi inti peristiwa yang melatarbelakangi peninjauan Gubernur Pramono Anung. Dengan demikian, kegiatan pada Selasa itu memperlihatkan bahwa proyek embung tersebut berada dalam agenda kerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Peninjauan berlangsung di wilayah administratif Jakarta Selatan, tepatnya di Kelurahan Kebagusan, tanpa mengubah fokus utama berita dari kegiatan lapangan dan lokasi proyek.

Secara keseluruhan, peristiwa ini berpusat pada kunjungan Gubernur DKI Jakarta ke lokasi pembangunan Embung Kebagusan. Peninjauan dilaksanakan pada 13 Oktober 2026 di Jalan Baung, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mempercepat pengerjaan proyek tersebut. Fakta mengenai peninjauan gubernur, lokasi kegiatan, waktu pelaksanaan, dan percepatan pembangunan menjadi pembuka informasi tentang proyek Embung Kebagusan.

Embung Kebagusan dibangun di area seluas dua hektare sebagai bagian dari upaya menyediakan tampungan air sekaligus mendukung penataan kawasan. Luasan tersebut menjadi ruang bagi pembangunan badan embung dan fasilitas pendukung yang dirancang sesuai kebutuhan proyek. Dengan adanya infrastruktur ini, kawasan Kebagusan akan memiliki sarana penampungan air yang terencana, bukan hanya untuk fungsi pengelolaan air, tetapi juga untuk mendukung pemanfaatan ruang publik di sekitarnya.

Proyek tersebut memiliki anggaran sekitar Rp62 miliar. Nilai itu mencakup pelaksanaan pembangunan embung beserta kebutuhan fasilitas yang menjadi bagian dari penataan kawasan. Besaran anggaran, luas lahan, dan kapasitas tampungan menjadi tiga unsur utama dalam spesifikasi proyek. Ketiganya menunjukkan bahwa pembangunan Embung Kebagusan diarahkan sebagai infrastruktur yang menggabungkan fungsi pengendalian dan penampungan air dengan penyediaan ruang yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Embung ini dirancang memiliki daya tampung air sekitar 30.000 meter kubik. Kapasitas tersebut berkaitan langsung dengan ukuran area yang disiapkan, karena lahan seluas dua hektare digunakan untuk membentuk fasilitas penampungan dengan kemampuan menampung volume air tersebut. Informasi mengenai kapasitas disampaikan sebagai perkiraan, sehingga angka sekitar 30.000 meter kubik tetap dipertahankan sesuai sumber. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan pembangunan Embung Kebagusan selesai pada Desember 2026. Target waktu itu menjadi acuan penyelesaian proyek, termasuk pembangunan fasilitas penampungan dan penataan ruang publik yang direncanakan dalam kawasan tersebut.

Embung Kebagusan merupakan salah satu infrastruktur pengendali banjir yang disiapkan di wilayah Kebagusan, Jakarta Selatan. Keberadaannya dirancang untuk menjalankan fungsi tampungan air, sehingga aliran yang berpotensi meningkatkan debit banjir dapat dikelola melalui fasilitas tersebut. Dalam konteks ini, embung tidak ditempatkan sebagai satu-satunya solusi atas persoalan banjir, melainkan sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir di kawasan terkait.

Fungsi utama Embung Kebagusan berkaitan dengan upaya menahan dan menampung air sebelum alirannya memberikan tekanan lebih besar terhadap saluran penghubung atau saluran PHB Joe, Kali Mampang, dan Kali Krukut. Berdasarkan peran yang dirancang untuk fasilitas ini, keberadaan embung diharapkan membantu mereduksi debit banjir pada aliran-aliran tersebut sekitar 2,3 persen. Angka itu menggambarkan kontribusi yang diharapkan dari embung dalam mendukung pengelolaan aliran air, bukan jaminan bahwa seluruh risiko banjir di Jakarta Selatan akan hilang.

Dengan demikian, Embung Kebagusan perlu dipahami dalam lingkup fungsi infrastrukturnya sebagai fasilitas tampungan dan pengendali aliran. Manfaat pengurangan debit sekitar 2,3 persen masih berada dalam konteks harapan serta peran yang dirancang bagi embung tersebut. Fasilitas ini diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap sistem pengendalian banjir di wilayah Kebagusan, terutama melalui pengurangan sebagian debit yang mengalir menuju PHB Joe, Kali Mampang, dan Kali Krukut. Namun, informasi tersebut tidak menunjukkan bahwa embung akan mengatasi banjir secara keseluruhan. Perannya tetap terbatas pada kontribusi pengendalian yang menjadi tujuan pembangunannya.

Kawasan Embung Kebagusan tidak hanya dirancang sebagai tempat penampungan air dengan kapasitas sekitar 30.000 meter kubik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan pengembangan kawasan tersebut sebagai ruang publik yang dapat digunakan masyarakat. Perencanaan ini menunjukkan bahwa pembangunan embung diarahkan untuk memiliki manfaat yang lebih luas, tidak terbatas pada fungsi teknis sebagai bagian dari infrastruktur pengelolaan air. Area di sekitar embung akan ditata agar dapat menjadi lingkungan yang lebih terbuka, tertata, dan mendukung berbagai kegiatan warga.

Salah satu rencana utama dalam pengembangan kawasan itu adalah penyediaan ruang terbuka hijau. Keberadaan ruang terbuka hijau diharapkan membuat kawasan embung terasa lebih nyaman sekaligus memperkuat fungsi lingkungan di sekitarnya. Selain itu, akan dibangun amfiteater yang dapat menjadi bagian dari penataan ruang publik. Fasilitas tersebut dirancang untuk memperkaya karakter kawasan dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas dalam suasana terbuka.

Kawasan Embung Kebagusan juga akan dilengkapi jogging track sebagai sarana aktivitas fisik warga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan fasilitas olahraga berupa lapangan futsal atau mini soccer. Penyediaan berbagai fasilitas ini bertujuan menambah ruang aktivitas masyarakat sekaligus mempercantik kawasan embung. Dengan penataan yang memadukan fungsi pengendalian air dan ruang publik, embung diharapkan dapat menjadi bagian yang lebih menyatu dengan kehidupan warga sekitar.

Pengembangan tersebut diharapkan mendukung upaya pengendalian banjir di Jakarta Selatan melalui fungsi utama embung sebagai tempat penampungan air. Pada saat yang sama, kawasan ini dapat dimanfaatkan warga untuk berolahraga dan menjalankan aktivitas di ruang terbuka. Kehadiran ruang terbuka hijau, amfiteater, jogging track, serta lapangan futsal atau mini soccer akan menjadikan Embung Kebagusan tidak sekadar infrastruktur air, tetapi juga ruang bersama yang fungsional dan memperindah lingkungan.

Baca juga: Siapkan Capex Rp400 Miliar Lebih, ACES Targetkan hingga 75 Gerai Baru | PSSI Siapkan Fasilitas Optimal untuk Tim Tamu di FIFA Asean Cup 2026

banner 325x300