Jakarta | Pagi belum terlalu tinggi ketika gang-gang kecil di kawasan Pademangan Barat mulai dipenuhi warga yang berjalan menuju Jalan Pemandangan I, Kamis, 21 Mei 2026. Sebagian datang sambil membawa map plastik berisi proposal lingkungan, sebagian lagi hanya membawa catatan kecil yang dilipat di saku baju. Di bawah tenda sederhana yang berdiri di area RW 01, kursi-kursi plastik sudah tertata rapih sejak pagi.
Suasana di lokasi tampak berbeda dari hari biasanya. Obrolan warga terdengar ramai membahas kondisi saluran air, jalan rusak hingga lampu penerangan lingkungan yang mulai redup di beberapa titik. Beberapa ibu rumah tangga memilih duduk di bagian depan, sementara para ketua RT dan tokoh masyarakat sibuk berdiskusi kecil sebelum acara dimulai.
Hari itu, warga mengikuti agenda Masa Reses Ke-III Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta Komisi C Fraksi Gerindra, Alief Bintang Haryadi, S.H. Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.30 WIB hingga menjelang siang dan dihadiri sekitar seratus peserta dari berbagai wilayah di Kelurahan Pademangan Barat.
Berbeda dengan rapat formal di gedung pemerintahan yang cenderung kaku, forum reses kali ini terasa lebih dekat dengan suasana warga sehari-hari. Tidak ada jarak berlebihan antara anggota dewan dan masyarakat. Warga bebas menyampaikan persoalan tanpa harus menunggu prosedur panjang seperti dalam forum birokrasi resmi.
Di sisi kanan lokasi acara, beberapa pengurus RW terlihat mempersiapkan daftar aspirasi yang sebelumnya sudah dihimpun dari warga. Persoalan drainase, jalan lingkungan dan penataan kawasan permukiman menjadi topik paling dominan yang muncul dalam pembicaraan sebelum acara dimulai.
Ketua RW 01 Pademangan Barat membuka kegiatan dengan sambutan singkat mengenai kondisi lingkungan di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa kawasan padat penduduk seperti Pademangan Barat memiliki banyak persoalan yang membutuhkan perhatian serius, terutama berkaitan dengan infrastruktur dasar.
Menurutnya, warga selama ini berharap adanya percepatan pembangunan lingkungan karena sejumlah fasilitas sudah mulai membutuhkan perbaikan. Ia juga menilai forum reses menjadi momen penting agar persoalan masyarakat dapat disampaikan langsung kepada pihak legislatif.
Tidak lama kemudian, Alief Bintang Haryadi mulai memberikan pemaparan di hadapan warga. Mengenakan pakaian sederhana dengan didampingi beberapa staf, ia berdiri di depan peserta sambil sesekali melihat catatan yang dibawanya.
Dalam sambutannya, Alief menegaskan bahwa kegiatan reses bukan hanya agenda rutin anggota DPRD, tetapi bagian dari kewajiban untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Menurutnya, banyak persoalan lingkungan yang baru benar-benar terlihat ketika dirinya turun langsung ke lapangan dan berbicara dengan warga.
Ia mengatakan, pembangunan kota tidak bisa hanya dilihat dari proyek besar atau pembangunan kawasan elite semata. Kondisi lingkungan kecil di tingkat RT dan RW justru menjadi gambaran nyata kualitas pelayanan publik yang dirasakan masyarakat.
“Karena itu kami datang langsung ke lingkungan warga. Supaya tahu apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya di tengah forum.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari peserta yang hadir. Beberapa warga tampak mengangguk ketika Alief mulai menyinggung persoalan drainase dan genangan air yang kerap muncul di kawasan permukiman padat Jakarta Utara.
Ia mengaku menerima banyak laporan mengenai saluran air yang tidak lagi mampu menampung debit hujan, terutama ketika cuaca ekstrem melanda ibu kota. Menurutnya, persoalan drainase memang menjadi salah satu isu utama yang perlu diprioritaskan pemerintah daerah.
Selain itu, Alief juga membahas kondisi jalan lingkungan yang mulai mengalami kerusakan di beberapa titik wilayah Pademangan Barat. Jalan sempit yang setiap hari dilalui kendaraan dan aktivitas warga disebut membutuhkan penataan ulang agar tetap aman digunakan.
Tidak hanya infrastruktur fisik, ia juga menyinggung pentingnya fasilitas sosial dan fasilitas umum bagi masyarakat perkotaan. Menurutnya, kawasan padat penduduk memerlukan ruang yang layak agar kualitas hidup masyarakat bisa meningkat.
“Pembangunan bukan hanya soal gedung besar. Lingkungan warga juga harus nyaman dan aman,” katanya.
Suasana mulai semakin hidup ketika sesi penyampaian aspirasi dibuka. Warga satu per satu mengangkat tangan menyampaikan persoalan yang mereka alami sehari-hari. Sebagian berbicara mengenai banjir lingkungan, sementara yang lain menyoroti masalah penerangan jalan hingga lalu lintas kawasan permukiman.
Seorang warga RW 01 mengaku wilayahnya masih sering mengalami genangan ketika hujan turun dalam waktu cukup lama. Ia mengatakan saluran air yang ada sudah tidak mampu mengalirkan debit air secara maksimal karena ukuran drainase terlalu kecil.
Keluhan serupa juga datang dari warga lain yang meminta adanya normalisasi saluran air di beberapa gang permukiman. Menurut mereka, kondisi drainase yang buruk membuat aktivitas warga terganggu ketika musim hujan tiba.
Selain persoalan banjir, kondisi jalan lingkungan turut menjadi perhatian warga. Beberapa gang disebut mengalami kerusakan akibat usia jalan dan tingginya aktivitas kendaraan. Warga berharap ada perbaikan agar akses lingkungan tetap aman, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Topik lain yang cukup banyak dibahas adalah penerangan jalan umum. Warga mengeluhkan masih adanya titik gelap di kawasan permukiman yang dianggap rawan gangguan keamanan pada malam hari.
Mendengar berbagai keluhan tersebut, Alief bersama stafnya terlihat aktif mencatat setiap usulan yang masuk. Sesekali ia meminta penjelasan lebih rinci mengenai lokasi maupun kondisi lapangan agar persoalan yang disampaikan bisa dipetakan lebih jelas.
Di tengah forum, perwakilan Satpel Dinas Perhubungan Jakarta Utara yang hadir juga menerima berbagai masukan terkait lalu lintas lingkungan. Warga menilai beberapa titik jalan di sekitar kawasan permukiman mulai padat terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Menurut warga, keberadaan parkir liar dan kendaraan besar yang melintas di sekitar kawasan permukiman sering memicu kemacetan dan menghambat akses jalan warga setempat.
Tidak sedikit pula warga yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menanyakan bantuan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Mereka berharap ada perhatian lebih bagi keluarga kurang mampu yang membutuhkan akses bantuan sosial maupun pendidikan yang lebih mudah.
Tokoh masyarakat yang hadir dalam kegiatan itu juga sempat mengingatkan pentingnya menjaga hubungan sosial antarwarga di tengah perkembangan kawasan perkotaan yang semakin padat dan individual.
Menurut mereka, pembangunan fisik harus dibarengi dengan penguatan kehidupan sosial masyarakat agar lingkungan tetap harmonis dan kondusif. Mereka berharap budaya gotong royong yang selama ini menjadi ciri masyarakat Jakarta Utara tidak hilang akibat perubahan zaman.
Alief dalam kesempatan itu turut mengajak masyarakat menjaga situasi lingkungan tetap aman dan tertib. Ia menilai keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga bergantung pada kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.
“Kalau masyarakatnya peduli, pembangunan akan lebih mudah berjalan,” ucapnya.
Forum berlangsung cukup santai meski substansi pembahasan cukup serius. Sesekali terdengar gelak tawa ketika warga menyampaikan persoalan dengan gaya khas lingkungan kampung perkotaan. Namun di balik suasana santai itu, hampir seluruh pembahasan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Beberapa pengurus RT bahkan menyerahkan catatan tertulis berisi daftar usulan pembangunan lingkungan kepada staf anggota dewan. Catatan tersebut mencakup perbaikan saluran air, peningkatan jalan lingkungan hingga kebutuhan fasilitas umum lainnya.
Menurut Alief, seluruh aspirasi masyarakat akan dibahas lebih lanjut dalam forum DPRD Provinsi DKI Jakarta sesuai mekanisme yang berlaku. Ia menegaskan bahwa hasil reses menjadi salah satu bahan penting dalam proses pengawasan dan penganggaran pemerintah daerah.
Ia juga meminta warga terus aktif menyampaikan persoalan yang mereka hadapi agar pemerintah daerah memiliki gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan.
Menjelang pukul 11.00 WIB, kegiatan mulai memasuki penutupan. Setelah doa bersama, warga perlahan meninggalkan lokasi sambil masih melanjutkan obrolan kecil mengenai harapan mereka terhadap pembangunan lingkungan.
Sebagian warga terlihat tetap bertahan di sekitar lokasi untuk berdiskusi langsung dengan staf anggota dewan mengenai prosedur pengajuan bantuan maupun program pemerintah lainnya.
Bagi masyarakat Pademangan Barat, kegiatan reses seperti ini bukan hanya agenda politik tahunan. Forum tersebut dianggap menjadi ruang penting bagi warga untuk menyampaikan kondisi lingkungan secara langsung kepada wakil rakyat yang duduk di parlemen daerah.
Di tengah padatnya kehidupan perkotaan Jakarta Utara, persoalan seperti drainase, jalan lingkungan, penerangan hingga bantuan sosial masih menjadi kebutuhan utama masyarakat. Warga berharap aspirasi yang mereka sampaikan tidak berhenti sebagai catatan forum semata, tetapi benar-benar diwujudkan dalam program pembangunan nyata.
Sebab bagi masyarakat di tingkat RT dan RW, pembangunan bukan sekadar pembahasan anggaran di ruang sidang, melainkan soal bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

















Respon (1)