Jakarta | Kericuhan terjadi ketika penertiban trotoar dan parkir liar berlangsung di kawasan Bulungan. Situasi yang semula berfokus pada penataan area publik tersebut berkembang menjadi aksi dorong-dorongan pekerja proyek Kejaksaan Agung dan sejumlah petugas. Dalam insiden itu, petugas yang terlibat mencakup anggota Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP, polisi, serta petugas Dinas Perhubungan.
Aksi saling dorong tersebut menjadi bagian paling menonjol dari penertiban yang kemudian menarik perhatian warga dan pedagang di sekitar kawasan. Pekerja proyek dan petugas tampak berhadapan ketika proses penataan trotoar serta penertiban kendaraan yang parkir secara liar sedang dilakukan. Kondisi itu membuat suasana di lokasi menjadi tegang dan mengubah kegiatan penertiban menjadi peristiwa yang diwarnai kericuhan.
Kesaksian pedagang warteg menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana peristiwa tersebut berlangsung dari sudut pandang orang yang berada di sekitar area. Pedagang menyaksikan keterlibatan berbagai unsur dalam keributan, mulai dari pekerja proyek Kejaksaan Agung hingga aparat yang menjalankan tugas penertiban. Kehadiran Satpol PP, polisi, dan Dinas Perhubungan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut melibatkan sejumlah petugas dengan fungsi berbeda dalam penataan ruang publik.
Peristiwa itu tidak hanya berkaitan dengan penertiban trotoar, tetapi juga mencakup upaya menertibkan parkir liar di kawasan Bulungan. Ketika proses tersebut berlangsung, hubungan pekerja proyek dan petugas menjadi tegang hingga muncul dorong-dorongan. Rangkaian kejadian inilah yang kemudian membuat penertiban berujung ricuh, sekaligus menjadi perhatian para pedagang dan warga yang berada di sekitar lokasi.
Mike, pedagang warteg keliling yang berada di kawasan Bulungan, menceritakan situasi yang ia lihat saat penertiban berlangsung. Ia disebut baru tiba di lokasi ketika petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mendatanginya. Pada tahap awal, petugas mengarahkan Mike secara persuasif agar memindahkan tempat berjualannya dari area tersebut. Menurut kesaksian yang disampaikan, tidak terjadi penolakan terbuka ketika arahan itu diberikan. Mike kemudian berusaha mengikuti permintaan petugas dan mengamati perkembangan keadaan di sekitar lokasi.
Situasi berubah setelah proses penertiban berlanjut. Mike menyaksikan adanya dorong-dorongan yang melibatkan petugas Satpol PP, polisi, personel Dinas Perhubungan, serta pekerja proyek. Ia tidak secara langsung menyimpulkan pihak yang memulai ketegangan tersebut. Kesaksiannya lebih banyak menggambarkan perubahan suasana dari penertiban yang semula berlangsung dengan arahan menjadi keadaan yang ramai dan tegang. Karena itu, keterangan mengenai urutan kejadian perlu dipahami sebagai pengamatan seorang pedagang yang berada di lokasi, bukan sebagai penetapan penyebab kericuhan.
Mike juga menyebut kondisi para pekerja proyek yang berada di tempat tersebut. Mereka dikabarkan merasa lapar dan kepanasan ketika penertiban berlangsung. Selain itu, ban sepeda motor mereka disebut telah dikempiskan dalam proses penertiban, sehingga keadaan tersebut berpotensi menambah ketegangan. Mike menggambarkan suasana dengan mengatakan bahwa kondisi panas dan rasa lapar membuat waktu makan mereka terganggu. Pernyataan itu menunjukkan situasi yang dirasakan di lapangan, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat tindakan penertiban dan kericuhan. Kesaksian Mike penting untuk melengkapi gambaran peristiwa, sekaligus perlu dibaca secara hati-hati bersama keterangan dari pihak-pihak lain yang berada di Bulungan.
Dampak langsung setelah kericuhan terlihat pada kondisi kendaraan milik para pekerja di sekitar lokasi. Mike menyampaikan bahwa ia tidak mengetahui adanya korban dalam peristiwa tersebut. Namun, ia melihat sebagian besar sepeda motor pekerja mengalami kondisi ban kempis. Keadaan itu membuat kendaraan tidak dapat segera digunakan untuk meninggalkan area atau kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.
Untuk mengatasi masalah tersebut, para pekerja kemudian mendatangkan kompresor. Peralatan itu digunakan untuk mengisi kembali ban sepeda motor yang telah dikempiskan. Aktivitas pengisian ban berlangsung sebagai upaya praktis agar kendaraan dapat kembali bergerak. Kesaksian Mike menunjukkan bahwa selain menimbulkan ketegangan di lokasi, kericuhan juga berdampak langsung terhadap sarana transportasi yang digunakan para pekerja.
Gangguan tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekitar titik kejadian. Naryo, pedagang lain, menyebut perseteruan tersebut menyebabkan kemacetan total di kawasan Bulungan. Arus kendaraan dari arah Taman Puring menuju lokasi dilaporkan tidak dapat bergerak. Kondisi itu membuat akses menuju area kejadian terhambat dan mengganggu kelancaran lalu lintas di sekitarnya.
Kemacetan tersebut menjadi dampak lain yang segera terlihat setelah kericuhan berlangsung. Kendaraan yang datang dari arah Taman Puring tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi, sementara situasi di sekitar kawasan masih terdampak oleh perseteruan. Kesaksian para pedagang memperlihatkan bahwa peristiwa itu tidak hanya memengaruhi pekerja dan kendaraan mereka, tetapi juga aktivitas lalu lintas serta mobilitas masyarakat di jalan sekitar.
Pramono menjelaskan bahwa keributan di kawasan Bulungan bermula dari kegiatan penertiban terhadap pedagang kaki lima serta kendaraan yang parkir secara liar. Penertiban tersebut dilakukan karena sebagian kendaraan menggunakan lahan yang tidak semestinya dan dinilai mengganggu ketertiban masyarakat. Menurut penjelasan yang diterimanya, langkah itu merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menata ruang publik, menjaga kelancaran arus lalu lintas, dan memastikan fasilitas umum dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Dalam operasi tersebut, Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP bekerja bersama Dinas Perhubungan untuk menindak kendaraan yang ditemukan parkir sembarangan. Salah satu tindakan yang dilakukan petugas adalah mencabut pentil ban kendaraan yang melanggar aturan parkir. Tindakan itu kemudian menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang memicu ketegangan di lokasi. Pramono menyatakan bahwa informasi mengenai kronologi awal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi.
Keterangan itu disampaikan Pramono ketika ditemui wartawan di Jakarta Timur pada Senin, 12 Oktober 2026. Ia menuturkan bahwa situasi mulai memanas setelah sejumlah pekerja proyek diduga melakukan provokasi. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi bentrokan para pekerja dan petugas Dinas Perhubungan. Penggunaan kata “diduga” penting karena informasi mengenai provokasi itu masih merujuk pada laporan awal dan belum menyatakan kepastian mengenai pihak yang memulai eskalasi.
Pramono menambahkan bahwa penertiban pedagang dan kendaraan semestinya berlangsung dengan memperhatikan kondisi lapangan serta komunikasi dengan masyarakat. Penjelasan mengenai kronologi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih utuh tentang rangkaian kejadian, tanpa mengabaikan proses pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang terlibat. Aparat terkait masih perlu memastikan fakta di lapangan melalui keterangan saksi, rekaman, dan bukti lain sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab bentrokan.







