Jakarta | Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi perhatian publik di tengah proses gugatan hak asuh anak yang masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Perkara tersebut belum mencapai tahap akhir, sehingga belum ada keputusan hukum mengenai pengasuhan kedua putri mereka. Keduanya juga memperlihatkan sikap yang berbeda melalui pernyataan di ruang publik, membuat persoalan keluarga ini kembali ramai dibicarakan.
Ruben mengajukan gugatan karena mengaku tidak memperoleh hak untuk bertemu kedua putrinya. Anak-anak tersebut saat ini berada dalam pengasuhan Sarwendah. Pernyataan mengenai alasan gugatan itu menjadi bagian dari penjelasan Ruben kepada publik terkait langkah hukum yang ditempuhnya. Sementara itu, Sarwendah menyampaikan curhat melalui ruang publik, termasuk podcast, yang kemudian turut menjadi sorotan di tengah proses persidangan.
Dalam perkara ini, proses mediasi yang telah dijalani belum menghasilkan kesepakatan kedua pihak. Karena itu, sengketa hak asuh masih diproses sesuai tahapan hukum yang berlaku di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya penyelesaian final ataupun perubahan resmi mengenai pengasuhan anak. Perbedaan pernyataan Ruben dan Sarwendah sebaiknya dipahami sebagai keterangan dari masing-masing pihak, sedangkan keputusan mengenai perkara tetap menunggu proses persidangan. Perkembangan selanjutnya akan ditentukan oleh tahapan hukum dan pertimbangan pengadilan, bukan semata-mata oleh pernyataan yang disampaikan melalui media atau podcast.
Sarwendah menyampaikan curahan hatinya melalui Instagram Story yang kemudian dikutip pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam unggahan tersebut, mantan personel Cherrybelle itu menyinggung persoalan yang masih berlangsung dengan mantan suaminya. Ia mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan ketika menghadapi situasi tersebut, terutama karena belum mengetahui kapan persoalan itu akan berakhir.
Melalui tulisan singkatnya, Sarwendah mempertanyakan kelanjutan masalah yang dihadapinya. Ia menuliskan, “Jujur setiap malam saya berpikir, kapan masalah ini selesai?” Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung melalui Instagram Story, tanpa penjelasan tambahan mengenai hal-hal lain di luar persoalan yang sedang dihadapinya.
Ungkapan itu memperlihatkan bahwa persoalan dengan mantan suaminya masih menjadi hal yang ia pikirkan. Sarwendah menyebut bahwa pertanyaan mengenai kapan masalah tersebut selesai muncul setiap malam. Ia tidak menguraikan lebih jauh mengenai penyebab munculnya pikiran itu, tetapi menyampaikan perasaannya melalui kalimat yang ia bagikan kepada publik.
Selain mempertanyakan waktu berakhirnya persoalan tersebut, Sarwendah juga mengakui bahwa situasi yang berlangsung membuatnya merasa malu terhadap dirinya sendiri. Pengakuan itu menjadi bagian dari curahan hati yang ia sampaikan dalam unggahan yang sama. Ia tidak menjelaskan secara terperinci alasan di balik rasa malu tersebut, sehingga pernyataannya hanya dapat dipahami berdasarkan isi unggahan yang tersedia.
Curahan hati melalui Instagram Story itu menunjukkan bahwa Sarwendah memilih menyampaikan kegelisahannya secara singkat dan personal. Dalam unggahan tersebut, ia berfokus pada pertanyaan tentang akhir persoalan serta pengakuan mengenai perasaannya terhadap diri sendiri. Pernyataan itu kemudian menjadi sorotan karena disampaikan di tengah sengketa hak asuh dan persoalan yang masih dikaitkan dengan mantan suaminya.
Dalam unggahan yang sama, Sarwendah menyinggung dampak dari perseteruan yang terus menjadi perhatian publik. Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pihak-pihak yang terlibat secara langsung, tetapi juga dapat menyakiti banyak pihak. Pernyataan itu disampaikan ketika isu hak asuh dan hubungan personal kembali dibicarakan melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk media sosial.
Sarwendah menggambarkan persoalan pribadi yang berlarut-larut sebagai keadaan yang semakin sulit apabila terus terbuka di ruang publik. Menurutnya, pembahasan yang berulang dapat membuat persoalan pribadi, termasuk hal-hal yang semestinya menjadi ranah internal, ikut diketahui khalayak. Ia juga menyinggung terbukanya aib serta kondisi yang dinilai semakin memburuk seiring pernyataan yang terus muncul.
Konflik hak asuh yang melibatkan Sarwendah dan Ruben Onsu memang turut diwarnai pernyataan dari kedua pihak melalui media sosial dan podcast. Kanal-kanal tersebut menjadi ruang bagi masing-masing pihak untuk menyampaikan pandangan, menjelaskan posisi, atau menanggapi isu yang berkembang. Dalam konteks itu, unggahan Sarwendah memperlihatkan keprihatinannya terhadap cara persoalan pribadi terus hadir di hadapan publik. Pernyataannya berfokus pada dampak keterbukaan konflik, yakni rasa sakit bagi banyak pihak, terbukanya aib, dan keadaan yang menurutnya semakin memburuk, tanpa menjelaskan dampak lain di luar hal-hal tersebut.
Sebelum Sarwendah menyampaikan kegelisahannya mengenai persoalan keluarga, Ruben Onsu lebih dahulu menanggapi kemunculan mantan istrinya dalam sebuah podcast YouTube. Dalam tayangan tersebut, Sarwendah hadir bersama tim kuasa hukum barunya yang dipimpin Pablo Benua. Podcast itu merupakan kanal milik Pablo Benua dan Rey Utami, yang kembali menjadi ruang bagi Sarwendah untuk membahas gugatan hak asuh anak yang masih berjalan.
Pembicaraan tersebut turut menyoroti pernyataan Sarwendah mengenai teguran dari seorang psikolog. Ia menyebut psikolog itu menilai dirinya terkesan memaksa anak untuk bertemu dengan ayahnya. Pernyataan tersebut kemudian menarik perhatian karena disampaikan ketika proses hukum terkait hak asuh masih berlangsung. Keterangan Sarwendah mengenai dinamika pertemuan anak dengan Ruben menjadi bagian dari pembahasan yang kembali muncul di hadapan publik.
Ruben kemudian memberikan tanggapan melalui siaran langsung di akun TikTok pribadinya. Ia menilai pembahasan yang disampaikan Sarwendah dalam sejumlah podcast tidak banyak mengalami perubahan. Menurut Ruben, topik yang dibicarakan masih berkisar pada persoalan yang sama, termasuk perkara hak asuh anak dan hubungan orang tua dengan anak.
Dalam siaran langsung itu, Ruben juga mempertanyakan alasan persoalan tersebut terus dibicarakan di luar pengadilan. Ia menyinggung bahwa proses hukum masih berlangsung sehingga berbagai hal yang berkaitan dengan perkara semestinya tetap ditempatkan dalam jalur yang sedang ditempuh. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas kemunculan Sarwendah di podcast bersama kuasa hukum barunya, bukan sebagai penjelasan mengenai hasil akhir perkara.
Hingga pembahasan itu disampaikan, belum ada kesepakatan yang tercapai dalam proses mediasi. Dengan demikian, perkara hak asuh anak masih berada dalam tahapan hukum dan belum menghasilkan keputusan atau penyelesaian yang disepakati kedua pihak.







