Jakarta | BYD membawa teknologi pengisian daya supercepat, yang disebut flash charging, ke Indonesia. Teknologi ini diperkenalkan bersama Blade Battery generasi kedua dengan tujuan utama memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterai mobil listrik. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kehadiran teknologi ini menandai upaya BYD untuk membuat proses pengisian energi kendaraan listrik berlangsung jauh lebih singkat dibandingkan teknologi pengisian yang selama ini dikenal.
Melalui flash charging, BYD merancang pengisian baterai agar durasinya semakin mendekati waktu yang diperlukan untuk mengisi bahan bakar kendaraan konvensional. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjawab salah satu pertimbangan penting dalam penggunaan mobil listrik, yakni lamanya waktu yang dibutuhkan ketika baterai perlu diisi kembali. Dengan waktu pengisian yang lebih singkat, aktivitas pengendara diharapkan dapat berlangsung lebih praktis tanpa harus mengalokasikan waktu panjang untuk menunggu baterai mencapai tingkat daya yang diperlukan.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari pengenalan Blade Battery generasi kedua di pasar Indonesia. Kombinasi baterai generasi terbaru dan kemampuan pengisian supercepat menunjukkan fokus BYD pada pengembangan pengalaman penggunaan kendaraan listrik yang lebih efisien. Penyampaian di Jakarta itu sekaligus menegaskan bahwa pengisian baterai bukan hanya berkaitan dengan kapasitas penyimpanan energi, tetapi juga dengan kecepatan pengembalian daya. Dengan demikian, BYD berupaya mempersempit perbedaan waktu mengisi baterai mobil listrik dan mengisi bahan bakar kendaraan konvensional, sehingga penggunaan kendaraan listrik dapat terasa semakin sesuai dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Teknologi flash charging yang diperkenalkan BYD menawarkan kemampuan pengisian baterai dalam waktu sangat singkat. Dalam kondisi lingkungan normal, baterai mobil listrik dapat diisi dari kapasitas 10 persen menjadi 70 persen hanya dalam waktu lima menit. Angka tersebut menunjukkan peningkatan kapasitas sebesar 60 persen dalam satu sesi pengisian, sehingga pengemudi tidak perlu selalu menunggu hingga baterai terisi penuh sebelum melanjutkan perjalanan.
Selain pengisian dari 10 persen hingga 70 persen dalam lima menit, teknologi ini memungkinkan baterai diisi dari 10 persen hingga 97 persen dalam waktu sembilan menit. Kedua capaian tersebut memberikan gambaran mengenai kemampuan utama sistem pengisian cepat yang ditawarkan. Rentang kapasitas dan durasinya berlaku berdasarkan kondisi pengujian yang disampaikan, yakni dalam kondisi lingkungan normal.
Kemampuan tersebut merupakan hasil dari teknologi pengisian yang dipadukan dengan Blade Battery generasi kedua. Kombinasi ini dirancang untuk mendukung proses pengisian berdaya tinggi secara efisien, dengan tetap mengacu pada sistem dan kondisi yang digunakan dalam pengujian. Penyebutan waktu lima menit dan sembilan menit menggambarkan performa teknologi pada rentang kapasitas yang telah ditentukan, bukan waktu yang berlaku untuk setiap situasi pengisian.
Karena itu, capaian 10 persen menjadi 70 persen dalam lima menit serta 10 persen menjadi 97 persen dalam sembilan menit perlu dipahami sebagai kemampuan teknologi flash charging yang dipadukan dengan Blade Battery generasi kedua. Hasil aktual dalam penggunaan sehari-hari dapat bergantung pada kondisi lingkungan, kesiapan infrastruktur pengisian, serta karakteristik kendaraan dan sistem baterai yang digunakan. Data tersebut tidak dengan sendirinya menjadi klaim bahwa seluruh kendaraan listrik atau semua kondisi penggunaan dapat mencapai durasi yang sama.
Richard Li, Flash Charging Director BYD Asia Pacific Auto Sales Division, menjelaskan bahwa teknologi Flash Charging dikembangkan untuk mempercepat proses pengisian baterai mobil listrik secara signifikan. Teknologi ini bekerja bersama Blade Battery generasi kedua, sehingga peningkatan performa tidak hanya bergantung pada kemampuan sistem pengisian, tetapi juga pada rancangan baterai yang menjadi sumber energi kendaraan.
Dalam penerapannya, Flash Charging memungkinkan baterai menerima daya dalam jumlah besar pada waktu yang lebih singkat. Sistem tersebut dirancang agar proses pengisian berlangsung lebih efisien dan dapat mendukung kebutuhan pengguna yang menginginkan waktu tunggu lebih rendah. Namun, penjelasan BYD menegaskan bahwa pencapaian durasi pengisian yang cepat merupakan bagian dari pengembangan teknologi secara menyeluruh, bukan satu-satunya sasaran.
Blade Battery generasi kedua dikembangkan untuk meningkatkan beberapa karakteristik utama baterai. Salah satunya adalah kecepatan pengisian, yang menjadi dasar kerja bersama teknologi Flash Charging. Selain itu, BYD juga menaruh perhatian pada kepadatan energi. Peningkatan kepadatan energi dapat mendukung kemampuan baterai dalam menyimpan energi secara lebih optimal, sehingga karakteristik keseluruhan kendaraan listrik turut diperkuat.
Aspek lain yang disebutkan dalam pengembangan tersebut adalah ketahanan baterai terhadap degradasi. Karakteristik ini berkaitan dengan kemampuan baterai mempertahankan kinerjanya setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu dan melalui siklus pengisian berulang. Dengan demikian, teknologi generasi kedua tersebut diarahkan untuk memberikan keseimbangan pengisian berkecepatan tinggi, kapasitas penyimpanan energi, dan daya tahan baterai.
Penjelasan Richard Li menunjukkan bahwa pendekatan BYD tidak memisahkan teknologi pengisian dari teknologi baterai. Flash Charging dan Blade Battery generasi kedua dirancang sebagai satu kesatuan untuk meningkatkan pengalaman penggunaan mobil listrik. Fokus pengembangannya mencakup percepatan pengisian sekaligus penguatan kepadatan energi serta ketahanan terhadap degradasi, sehingga peningkatan yang ditawarkan mencakup aspek performa dan karakteristik baterai secara bersamaan.
Liu Xueliang, Vice President BYD Co Ltd sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division, menjelaskan bahwa teknologi pengisian baterai lima menit yang diperkenalkan di Jakarta didukung oleh pengembangan pada kapasitas dan efisiensi baterai. Menurutnya, kemajuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengisi daya dalam waktu singkat, tetapi juga dengan peningkatan kepadatan energi pada Blade Battery generasi kedua.
Blade Battery generasi kedua disebut memiliki kepadatan energi lebih dari 5 persen dibandingkan generasi pertama. Kepadatan energi yang lebih tinggi memungkinkan baterai menyimpan energi lebih besar dalam kapasitas atau ukuran yang relatif serupa. Bagi kendaraan listrik, peningkatan ini dapat mendukung perpaduan kemampuan pengisian cepat, efisiensi penggunaan energi, dan jarak tempuh yang lebih panjang.
Dalam pemaparan tersebut, peningkatan kepadatan energi itu disebut memungkinkan kendaraan listrik mencapai jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer. Namun, angka tersebut merupakan hasil pengujian berdasarkan standar China Light-Duty Vehicle Test Cycle (CLTC) di China. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dipahami sebagai klaim jarak tempuh aktual untuk seluruh kondisi berkendara di Indonesia. Jarak tempuh nyata dapat berbeda bergantung pada metode pengujian, kondisi lalu lintas, kecepatan, cuaca, beban kendaraan, karakteristik rute, serta penggunaan pendingin udara.
Penjelasan mengenai standar pengujian menjadi penting karena setiap negara dan lembaga dapat menggunakan metode pengukuran yang berbeda. Hasil CLTC berfungsi sebagai acuan teknis dalam konteks pengujian di China, bukan jaminan bahwa kendaraan akan menempuh jarak yang sama dalam pemakaian sehari-hari di Indonesia. Dengan pengembangan Blade Battery generasi kedua, BYD menempatkan teknologi ini sebagai upaya untuk meningkatkan kecepatan pengisian sekaligus mempertahankan dan memperkuat performa baterai kendaraan listrik.
Baca juga: Inisiatif Pertamina dalam Membangun Infrastruktur Mobil Listrik di Indonesia






