banner 728x250

Serangan Siber Memanaskan Pendingin di Lebih dari 500 Supermarket Prancis

Serangan Siber Memanaskan Pendingin di Lebih dari 500 Supermarket Prancis
banner 120x600
banner 468x60

Serang | Serangan siber dari jarak jauh mengganggu sistem pendingin di lebih dari 500 toko ritel di Prancis pada Senin malam. Aksi tersebut membuat sejumlah unit pendingin berhenti bekerja secara normal, sehingga suhu di dalam lemari es dan freezer meningkat. Gangguan ini segera memengaruhi penyimpanan berbagai produk makanan segar dan beku yang membutuhkan suhu stabil agar tetap aman dan layak dijual.

Dampaknya dirasakan langsung oleh para peritel. Ketika sistem pendingin tidak mampu mempertahankan suhu yang diperlukan, persediaan dalam jumlah besar terancam rusak dan tidak dapat dipasarkan. Kerugian yang diperkirakan timbul mencapai jutaan euro, mencakup nilai makanan yang terdampak serta biaya penanganan, penggantian, dan pemulihan operasional. Beberapa toko bahkan harus ditutup sementara karena kondisi pendingin dan persediaan di dalamnya tidak memungkinkan kegiatan penjualan berlangsung seperti biasa.

banner 325x300

Gangguan tersebut tidak hanya menyasar jaringan supermarket. Grosir Metro turut terdampak, begitu pula para anggota Culture Viande, asosiasi industri daging Prancis. Pedagang daging independen juga termasuk pihak yang mengalami akibat dari kerusakan rantai pendingin. Luasnya kelompok yang terkena dampak menunjukkan bahwa insiden ini menjangkau berbagai bagian perdagangan pangan, mulai dari toko ritel hingga pemasok dan pelaku usaha yang bergantung pada penyimpanan produk dalam suhu terkendali.

Kerusakan pada sistem pendingin memperlihatkan betapa bergantungnya distribusi makanan modern pada infrastruktur digital dan peralatan yang terus beroperasi. Dalam kasus ini, gangguan jarak jauh tidak hanya menghambat fungsi teknis, tetapi juga mengancam stok bernilai tinggi dan aktivitas bisnis di banyak titik sekaligus. Para peritel dan pelaku usaha terkait harus menghadapi dampak langsung berupa kehilangan produk, penghentian sementara kegiatan toko, serta tekanan finansial yang dapat mencapai jutaan euro.

Serangan siber tersebut berdampak pada jaringan ritel yang tersebar di berbagai wilayah Prancis. Jaringan Intermarché dan Netto menjadi kelompok yang paling banyak terdampak, dengan sekitar 300 toko mengalami gangguan pada sistem pendingin. Selain itu, sekitar 100 gerai Cooperative U turut terkena dampak, disusul 80 supermarket Carrefour dan 30 lokasi Monoprix. Beberapa toko yang beroperasi di bawah jaringan E.Leclerc juga dilaporkan menghadapi masalah serupa. Sebaran ini menunjukkan bahwa insiden tidak terbatas pada satu merek atau wilayah, melainkan memengaruhi sejumlah jaringan supermarket besar secara bersamaan.

Dampak operasionalnya terlihat dari kerusakan dan pemborosan persediaan makanan yang memerlukan pengaturan suhu rendah. Di gerai Intermarché di Haguenau, misalnya, makanan beku senilai 50.000 euro, atau sekitar Rp1 miliar, dilaporkan hilang akibat gangguan pendingin. Nilai tersebut mencerminkan kerugian langsung dari satu lokasi, tanpa memperhitungkan biaya pembersihan, penggantian stok, serta potensi kehilangan pendapatan selama operasional terganggu.

Kerugian yang lebih besar tercatat di toko E.Leclerc di Wasselonne. Gerai tersebut harus membuang produk segar dan beku dengan nilai sekitar 220.000 euro, setara kurang lebih Rp4,4 miliar. Produk-produk semacam ini tidak dapat dipertahankan apabila suhu penyimpanan berada di luar batas aman, sehingga gangguan teknis dalam waktu singkat dapat berubah menjadi kerugian finansial yang besar.

Total kerugian di tingkat nasional masih belum dapat dipastikan karena proses pendataan dan evaluasi di setiap jaringan belum selesai. Namun, berdasarkan jumlah toko yang terdampak serta nilai persediaan yang rusak pada beberapa lokasi, sumber terkait menyebutkan bahwa akumulasi kerugian berpotensi mencapai puluhan juta euro. Angka tersebut dapat mencakup makanan yang harus dimusnahkan, gangguan penjualan, pemulihan sistem, dan biaya untuk mengembalikan infrastruktur pendingin ke kondisi normal.

Serangan tersebut berlangsung dengan menargetkan pengontrol sistem pendingin yang dipasok oleh produsen Denmark, Danfoss. Perangkat ini digunakan untuk mengelola berbagai fungsi unit pendingin di supermarket, termasuk memungkinkan teknisi mengatur suhu dari jarak jauh. Dengan memperoleh akses ke pengontrol itu, pelaku dapat mengubah pengaturan operasional tanpa harus berada di lokasi toko.

Salah satu tindakan yang dilakukan adalah mengaktifkan fitur pencairan es otomatis pada unit pendingin. Dalam kondisi tersebut, sistem dipaksa memanas hingga mencapai 50 derajat Celsius. Pada sejumlah kasus, pelaku juga memperpanjang siklus pencairan dari sekitar satu jam menjadi delapan jam. Perubahan durasi itu menunda munculnya alarm, sehingga gangguan tidak segera diketahui oleh pihak supermarket. Kerusakan baru diketahui ketika karyawan tiba pada pagi hari dan menemukan bahwa sistem pendingin tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Juru bicara Intermarche menyatakan bahwa sasaran spesifik serangan bukanlah jaringan supermarket secara langsung, melainkan penyedia layanan pihak ketiga yang mengelola peralatan pendingin. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan jarak jauh menjadi bagian penting dalam pengoperasian perangkat yang terdampak. Peneliti keamanan siber Kevin Beaumont juga menemukan ribuan pengontrol Danfoss yang dapat diakses langsung melalui internet. Menurut temuannya, perangkat-perangkat itu menggunakan nama pengguna “admin” dan kata sandi yang berubah secara otomatis setiap hari sesuai dengan tanggal saat ini. Informasi mengenai akses tersebut menjadi bagian dari penyelidikan terhadap cara pelaku memasuki pengontrol dan mengubah pengaturan pencairan es maupun suhu. Dampaknya terlihat pada operasi toko, terutama ketika alarm tertunda dan unit pendingin terus berada dalam siklus pemanasan hingga pemeriksaan dilakukan oleh karyawan.

Penanganan insiden yang mengganggu sistem pendingin di lebih dari 500 supermarket Prancis masih berlangsung. Hingga kini, pelaku belum teridentifikasi dan belum ada laporan mengenai tuntutan uang tebusan. Penyelidik serta pihak terdampak masih berupaya menentukan bagaimana akses ke perangkat diperoleh, sejauh mana gangguan menyebar, dan apakah data atau sistem lain ikut terpengaruh. Status tersebut membuat atribusi terhadap kelompok tertentu belum dapat dilakukan berdasarkan informasi yang tersedia.

Dominique Schelcher, CEO Cooperative U, mengecam sabotase itu dan menyebutnya sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi jaringan ritel Prancis. Menurutnya, dampak operasional yang meluas dapat menimbulkan kerugian nasional hingga puluhan juta euro. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya konsekuensi gangguan terhadap pengaturan suhu, terutama ketika toko harus mengamankan produk makanan, mengurangi kegiatan operasional, atau membuang barang yang tidak lagi memenuhi standar penyimpanan.

Danfoss menyatakan bahwa perangkat yang paling banyak terdampak merupakan produk lama yang sudah tidak lagi menerima pembaruan keamanan. Di model yang disebut adalah AK-SM 800 dan AK-SC 355. Kondisi ini menyoroti risiko penggunaan sistem kendali industri yang tetap terhubung ke jaringan tanpa dukungan pemeliharaan modern. Badan Keamanan Siber Prancis (ANSSI) mengimbau operator untuk memutus antarmuka manajemen yang rentan dari internet atau membatasi aksesnya hanya melalui koneksi tepercaya.

Riwayat insiden menunjukkan bahwa peralatan Danfoss pernah menjadi sasaran serangan serupa pada 2022. Saat itu, gangguan berdampak pada 16 supermarket di Rusia dan 40 toko di Israel, dengan perlindungan firewall atau VPN yang tidak memadai disebut sebagai salah satu faktor penyebab. Namun, kesamaan teknis atau pola tersebut belum membuktikan bahwa serangan terbaru dilakukan oleh pelaku yang sama atau berkaitan langsung dengan insiden terdahulu. Investigasi dan pemeriksaan forensik tetap diperlukan untuk menetapkan hubungan tersebut.

banner 325x300