banner 728x250

Puluhan Pelajar Dirawat Usai Menyantap MBG di Konawe Selatan, Asal Makanan Diselidiki

Puluhan Pelajar Dirawat Usai Menyantap MBG di Konawe Selatan, Asal Makanan Diselidiki
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Konawe Selatan | Sebanyak 63 siswa di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa tersebut menjalani perawatan di Puskesmas Angata pada Rabu, 14 Oktober 2026, setelah mengalami keluhan kesehatan yang diduga muncul usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Kapolres Konawe Selatan AKBP Daeng Riandika Mahardani menyampaikan bahwa pasien yang mendapatkan penanganan terdiri atas siswa sekolah dasar dan sekolah menengah atas. Berdasarkan keterangannya, terdapat 27 siswa sekolah dasar yang dirawat. Sementara itu, 36 pasien lainnya merupakan siswa sekolah menengah atas.

banner 325x300

Jumlah pasien yang ditangani di Puskesmas Angata tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan pelaksanaan program MBG yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pelajar. Kendati demikian, dugaan keracunan itu belum dapat dipastikan disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi dalam program tersebut.

Aparat dan pihak terkait masih menyelidiki asal makanan serta kemungkinan penyebab munculnya keluhan pada para siswa. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui rangkaian kejadian secara menyeluruh, termasuk waktu makanan dibagikan, menu yang disantap, serta kondisi siswa sebelum dan setelah makan.

Status kejadian saat ini masih berupa dugaan. Karena itu, informasi mengenai sumber makanan dan penyebab gangguan kesehatan perlu menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang dan instansi terkait. Penanganan terhadap para siswa menjadi prioritas, sementara proses penyelidikan dilakukan untuk memastikan fakta di lapangan.

Kepala SMA Negeri 10 Konawe Selatan, Liy, menyampaikan bahwa sejumlah siswa mulai mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya. Keluhan tersebut tidak langsung muncul dalam waktu bersamaan, tetapi dirasakan oleh para siswa setelah mereka mengonsumsi makanan yang diterima di sekolah. Pihak sekolah kemudian memantau kondisi siswa yang mengeluhkan masalah kesehatan tersebut.

Menurut keterangan Liy, gejala yang paling banyak dilaporkan berupa sakit perut dan mual. Kondisi para siswa disebut memuncak pada Rabu, ketika semakin banyak anak mengalami keluhan sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Sejumlah siswa yang kondisinya tidak membaik kemudian dibawa untuk memperoleh pemeriksaan dan perawatan di fasilitas kesehatan.

Keluhan serupa juga dilaporkan dialami sejumlah siswa sekolah dasar di wilayah Angata. Anak-anak tersebut turut mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG. Karena memerlukan pemeriksaan, mereka dibawa ke fasilitas kesehatan setempat untuk mendapatkan pertolongan serta pemantauan dari tenaga medis.

Banyaknya pasien anak yang datang dalam waktu berdekatan membuat kapasitas Puskesmas Angata penuh atau setidaknya sangat terbebani. Keterangan mengenai kondisi tersebut disampaikan oleh pihak sekolah yang melihat langsung meningkatnya jumlah siswa membutuhkan layanan kesehatan. Situasi ini menjadi bagian dari penanganan sementara sambil menunggu penyelidikan mengenai asal makanan dan penyebab pasti munculnya keluhan pada para siswa.

Makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para pelajar di Konawe Selatan disebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Angata. Keterangan tersebut menjadi salah satu informasi awal yang digunakan aparat untuk menelusuri rangkaian kejadian setelah sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan. Namun, penyebutan asal makanan tidak serta-merta menunjukkan bahwa SPPG Angata telah ditetapkan sebagai penyebab insiden.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan, paket MBG dibagikan kepada siswa pada Selasa, 13 Oktober 2026. Makanan kemudian dikonsumsi oleh para pelajar di lingkungan sekolah. Setelah menyantap hidangan tersebut, sebagian siswa mulai mengeluhkan kondisi kesehatan yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis. Keluhan itu dilaporkan berlanjut hingga para siswa menjalani perawatan pada Rabu.

Waktu munculnya keluhan setelah makanan dikonsumsi menjadi bagian penting dalam pemeriksaan. Meski demikian, urutan waktu tersebut belum cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat makanan MBG dan kondisi yang dialami para pelajar. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk penelusuran terhadap menu, proses pengolahan, pengemasan, distribusi, serta kemungkinan faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan siswa.

Aparat masih mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah, siswa, pengelola layanan gizi, tenaga kesehatan, dan pihak terkait lainnya. Sampel makanan atau bahan yang relevan juga dapat diperiksa untuk membantu memastikan penyebab kejadian. Selama proses tersebut berlangsung, informasi mengenai SPPG Angata sebaiknya dipahami sebagai bagian dari penelusuran sumber makanan, bukan sebagai kesimpulan bahwa unit layanan itu bertanggung jawab. Penetapan penyebab baru dapat dilakukan setelah hasil pemeriksaan dan bukti pendukung tersedia.

Polisi telah menindaklanjuti laporan mengenai puluhan pelajar yang mendapat perawatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Konawe Selatan. Petugas melakukan pemeriksaan di lapangan untuk memperoleh gambaran mengenai rangkaian kejadian, termasuk waktu pembagian makanan, proses konsumsi, serta kondisi para pelajar setelah menyantap hidangan tersebut.

Penyelidikan juga diarahkan pada sumber makanan yang dikonsumsi para siswa. Polisi memeriksa informasi mengenai asal makanan, pihak yang menyiapkan, serta jalur distribusinya sebelum sampai ke sekolah. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan makanan yang dibagikan dan keluhan kesehatan yang dialami sejumlah pelajar.

Selain menelusuri sumber makanan, aparat mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah dan fasilitas kesehatan yang menangani para pelajar. Keterangan dari sekolah dibutuhkan untuk mendata siswa yang mengonsumsi makanan serta mengetahui kondisi mereka setelah kejadian. Sementara itu, informasi dari fasilitas kesehatan menjadi bagian dari bahan penyelidikan mengenai keluhan dan penanganan yang diberikan kepada para pelajar.

Polisi masih menyelidiki penyebab dugaan keracunan tersebut karena makanan telah dikonsumsi sehari sebelumnya. Dengan jeda waktu itu, penyebab kejadian belum dapat dipastikan hanya berdasarkan keluhan yang muncul. Petugas masih mencocokkan keterangan dari berbagai pihak dengan hasil pemeriksaan di lapangan serta informasi terkait makanan yang dibagikan.

Kapolres Konawe Selatan menyampaikan bahwa laporan tersebut telah ditindaklanjuti dan pemeriksaan masih berlangsung. Menurutnya, kepolisian perlu memeriksa sumber makanan serta mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah dan fasilitas kesehatan sebelum menentukan penyebab kejadian. Ia menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan untuk memperoleh informasi yang lengkap, sebab dugaan keracunan itu belum dapat dipastikan dan makanan telah dikonsumsi pada hari sebelumnya.

Baca juga: Unit Resmob Polres Sorong Selatan Amankan Dua Terduga Pelaku Pencurian | Dampak Kelangkaan BBM Terhadap Distribusi Pangan di Sulawesi Selatan | CEGAH KARHUTLA SEJAK DINI, MABES TNI EDUKASI GURU DAN PELAJAR SMA 10 SAMARINDA

banner 325x300