Palembang | Pada 16 Oktober 2026, warga di sejumlah daerah Sumatera Selatan, termasuk Palembang, mengeluhkan dampak asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah mereka selama dua bulan terakhir. Kabut yang bertahan dalam kurun tersebut mengganggu kenyamanan warga dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Keluhan muncul dari masyarakat yang harus beraktivitas di tengah udara berasap, sementara paparan asap dirasakan berdampak langsung pada kondisi tubuh. Situasi ini menjadi perhatian karena asap tidak hanya mengurangi kenyamanan lingkungan, tetapi juga membuat sebagian warga kesulitan bernapas dan mengalami mata perih.
Keluhan mengenai gangguan pernapasan menunjukkan bahwa paparan asap dapat menyulitkan warga ketika menghirup udara di sekitar tempat tinggal maupun saat melakukan aktivitas. Sebagian warga merasa sulit bernapas, sedangkan mata perih menjadi keluhan lain yang dialami selama wilayah mereka diselimuti asap. Dampak yang dirasakan dapat membuat kegiatan rutin terasa lebih berat. Meski kondisi dan pengalaman setiap orang bisa berbeda, keluhan tersebut menggambarkan bagaimana kabut karhutla berpengaruh terhadap keseharian masyarakat di sejumlah daerah Sumatera Selatan.
Di Palembang, sebagaimana wilayah lain yang disebutkan, keberadaan asap menjadi bagian dari kondisi yang dikeluhkan warga dalam dua bulan terakhir. Mereka menghadapi udara yang dipenuhi asap sembari berusaha melanjutkan aktivitas. Keluhan ini menegaskan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak terbatas pada area terjadinya kebakaran, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di wilayah yang terselimuti asap. Bagi warga, gangguan bernapas dan mata perih merupakan pengalaman langsung yang membuat persoalan kabut karhutla terasa dekat. Informasi tersebut mencerminkan keresahan masyarakat Sumatera Selatan terhadap paparan asap yang terus mengusik kenyamanan dan kegiatan sehari-hari mereka.
Aji, 40 tahun, tetap harus menjalani aktivitas di luar rumah setiap hari dan menggunakan sepeda motor untuk bergerak. Ketika kabut asap menyelimuti Palembang, kebiasaan berkendara itu membuatnya berhadapan langsung dengan udara yang tercemar. Ia berusaha melindungi diri dengan mengenakan masker dan kacamata, tetapi perlengkapan tersebut belum cukup untuk mengurangi paparan, terutama saat asap terasa pekat.
Menurut pengalaman Aji yang disampaikan pada Jumat, 16 Oktober, kondisi paling sulit biasanya terjadi pada pagi hari hingga menjelang siang. Pada waktu-waktu tersebut, kabut asap dapat mengurangi jarak pandang di jalan secara signifikan. Ia harus lebih berhati-hati saat mengendarai sepeda motor karena lingkungan sekitar tidak terlihat jelas. Masker membantu menutup hidung dan mulut, sementara kacamata melindungi mata, namun keduanya tidak sepenuhnya menghalangi asap yang berada di sekelilingnya.
Dalam keadaan paling pekat, pandangan Aji terbatas sehingga ia hanya dapat mengandalkan lampu kendaraan di depannya sebagai petunjuk saat berkendara. Situasi ini menyulitkan untuk membaca kondisi jalan dan melihat lingkungan lebih jauh. Berkendara pun menuntut konsentrasi lebih besar daripada biasanya, sebab jarak pandang yang pendek membuatnya perlu menjaga kewaspadaan terhadap perubahan di depan. Ia tidak dapat sepenuhnya mengandalkan penglihatan untuk mengantisipasi keadaan di jalan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan perlengkapan pribadi tidak selalu cukup ketika kabut asap sangat tebal. Bagi orang yang pekerjaannya atau kegiatan hariannya menuntut mereka berada di luar ruangan, paparan dapat terus terjadi selama perjalanan. Aji tetap beraktivitas, tetapi harus menghadapi keterbatasan pandangan sekaligus asap yang menembus perlindungan yang dikenakannya. Pagi hingga menjelang siang menjadi periode yang paling berat baginya, ketika udara terasa paling mengganggu dan jarak pandang menyusut. Kondisi ini menggambarkan tantangan nyata warga yang harus berkendara di tengah kabut karhutla, meski telah berupaya melindungi diri dengan masker dan kacamata. Pengalaman Aji juga menunjukkan bagaimana asap dapat mengubah perjalanan rutin menjadi aktivitas yang membutuhkan perhatian ekstra. Saat lampu kendaraan lain menjadi satu-satunya acuan visual, keselamatan di jalan turut bergantung pada kehati-hatian pengendara dan kemampuan menjaga jarak di tengah pandangan yang terbatas.
Setelah terpapar kabut asap karhutla di Palembang, Aji merasakan kondisi tubuhnya menurun. Keluhan yang paling mengganggu adalah kesulitan bernapas dan rasa sesak. Ia mengaku napas terasa tidak nyaman, terutama ketika harus beraktivitas di tengah udara yang dipenuhi asap. Pengalaman tersebut membuat kegiatan hariannya terasa lebih berat dibandingkan biasanya. Aji menuturkan bahwa keluhan itu muncul setelah dirinya terpapar asap, sehingga ia merasakan langsung dampak kabut di sekitarnya terhadap kenyamanan tubuh.
Selain gangguan pernapasan, Aji juga merasakan matanya perih dan tampak memerah. Rasa perih itu membuatnya menyadari bahwa bukan hanya napas yang terganggu saat asap menyelimuti kawasan tempat ia beraktivitas. Menurut pengakuan Aji, ia kemudian memeriksakan kondisinya kepada dokter. Dokter menyebut mata Aji mengalami iritasi. Keterangan itu disampaikan sebagai bagian dari pengalaman pribadi Aji, berdasarkan pemeriksaan yang ia jalani, bukan sebagai kesimpulan mengenai kondisi mata orang lain yang berada di wilayah terdampak.
Keluhan sesak, sulit bernapas, serta mata perih dan memerah menjadi perubahan yang ia rasakan setelah terpapar kabut karhutla. Aji menggambarkan gejala tersebut sebagai pengalaman yang mengusik aktivitasnya, karena ia harus menghadapi rasa tidak nyaman pada pernapasan sekaligus iritasi pada mata. Cerita ini menunjukkan apa yang dialami Aji secara pribadi ketika kualitas udara di Palembang terganggu asap. Pengalaman tersebut tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh warga, sebab keluhan setiap orang dapat berbeda. Yang disampaikan Aji terbatas pada apa yang ia rasakan dan penjelasan dokter tentang iritasi matanya. Ia menuturkan kesulitan bernapas dan rasa sesak sebagai keluhan yang menyertai paparan asap, sementara mata perih serta kemerahan juga menjadi bagian dari kondisi yang ia alami. Dengan demikian, dampak yang diceritakan berpusat pada pengalaman Aji, tanpa menyamakan keluhannya dengan keadaan orang lain atau menambahkan penilaian medis di luar keterangan yang ia sampaikan.
Herman, 30 tahun, warga Sekip, Palembang, mengaku masih mencium aroma asap yang tajam di tengah kabut akibat kebakaran hutan dan lahan. Keluhan itu dirasakannya meski ia rutin memakai masker ketika beraktivitas. Bagi Herman, penggunaan masker belum membuat bau asap menghilang, sehingga kondisi udara tetap terasa mengganggu. Aroma tersebut menjadi pengingat bahwa kabut masih menyelimuti lingkungan dan dapat memengaruhi kenyamanan warga dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
Pengalaman Herman berlangsung bersamaan dengan catatan pemantauan kualitas udara di Palembang. Data konsentrasi PM2.5 yang dipantau di Stasiun Talang Betutu menunjukkan kondisi yang perlu menjadi perhatian. Pada hari pemberitaan, kualitas udara disebut berada pada level berbahaya. Konsentrasi PM2.5 tercatat 265,7–668,9 mikrogram per meter kubik pada pukul 00.00–08.00 WIB. Rentang angka itu menggambarkan tingginya partikel halus yang terukur selama periode pemantauan tersebut.
PM2.5 merujuk pada partikel berukuran sangat kecil yang dapat melayang di udara dan terhirup saat seseorang bernapas. Ketika konsentrasinya tinggi, paparan dapat menjadi perhatian terutama bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan. Data di Stasiun Talang Betutu memberi gambaran kondisi pada lokasi dan rentang waktu pengukuran, sementara keluhan Herman memperlihatkan bagaimana kabut dan bau asap dirasakan langsung oleh seorang warga.
Masker yang rutin digunakan Herman tidak serta-merta menghilangkan aroma tajam yang ia cium. Keluhan ini menunjukkan bahwa warga masih merasakan dampak kabut dalam aktivitas sehari-hari, meski telah mengambil langkah perlindungan. Angka pemantauan dan pengalaman warga merupakan dua sisi dari situasi udara di Palembang: pengukuran mencatat konsentrasi partikel, sedangkan warga merasakan asap di lingkungan mereka.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Iptu Udi Muhdi Pimpin Patroli Public Address, Imbau Warga Cegah Karhutla | Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi
















