Jakarta | Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki ruang untuk menguat karena belum mencapai tingkat pertumbuhan potensial. Penilaian tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Jakarta pada 12 Oktober 2026. Menurut pandangan bank sentral, perkembangan ekonomi nasional saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang dapat dicapai Indonesia.
Destry menyampaikan bahwa posisi pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah level potensial. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih mempunyai kapasitas yang luas untuk berkembang lebih jauh. Ruang tersebut menjadi dasar bagi perlunya upaya berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan agar bergerak menuju tingkat yang lebih optimal.
Dalam penilaian Bank Indonesia, kapasitas ekonomi yang masih luas perlu didukung dengan dorongan terhadap aktivitas ekonomi. Pertumbuhan yang belum mencapai level potensial memberikan ruang bagi penguatan kinerja perekonomian nasional. Karena itu, perkembangan ekonomi perlu terus didorong sesuai dengan kapasitas yang tersedia.
Gubernur Bank Indonesia menegaskan posisi tersebut tanpa mengubah gambaran bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Fokus penilaian BI terletak pada jarak pertumbuhan yang berlangsung dan tingkat potensial yang dapat dicapai. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai masih belum berada pada level potensialnya.
Penilaian tersebut menjadi inti pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi pertumbuhan nasional. Indonesia dipandang masih memiliki kapasitas ekonomi yang luas, sehingga penguatan pertumbuhan tetap menjadi ruang yang perlu diupayakan. BI menilai dorongan terhadap pertumbuhan diperlukan agar kinerja ekonomi dapat bergerak lebih dekat ke tingkat potensialnya.
Asesmen Bank Indonesia mengenai pertumbuhan ekonomi nasional menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Bank sentral melihat bahwa kinerja perekonomian Indonesia masih belum sepenuhnya mencapai potensi terbaiknya. Dengan kata lain, masih terdapat kesenjangan pertumbuhan yang sedang berlangsung dan tingkat pertumbuhan yang dapat dicapai secara optimal. Penilaian tersebut membuat ruang kebijakan perlu dikelola secara hati-hati, terutama agar upaya menjaga stabilitas tidak menghambat momentum pemulihan.
Pertimbangan itu terlihat ketika sejumlah bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga pada September. Di tengah kecenderungan pengetatan kebijakan moneter global tersebut, BI memilih mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Keputusan ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian domestik dinilai memerlukan dukungan yang tetap terukur. BI tidak semata-mata mengikuti arah kebijakan negara lain, melainkan mempertimbangkan perkembangan inflasi, stabilitas nilai tukar, kondisi sektor keuangan, serta kekuatan pemulihan ekonomi di dalam negeri.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi menahan pemulihan ekonomi yang sedang bergerak naik. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pembiayaan bagi rumah tangga dan dunia usaha, sehingga konsumsi serta investasi berisiko tumbuh lebih lambat. Dalam situasi tersebut, kebijakan mempertahankan tingkat suku bunga dipandang dapat membantu menjaga kesinambungan pemulihan, selama stabilitas makroekonomi tetap terpelihara.
BI juga melihat masih terdapat ruang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa membuat perekonomian mengalami overheating, atau pertumbuhan berlebihan yang memicu tekanan inflasi dan ketidakseimbangan. Ruang tersebut perlu dimanfaatkan melalui kebijakan yang mendukung aktivitas ekonomi, namun tetap disertai pemantauan terhadap risiko eksternal dan domestik. Pendekatan ini mencerminkan upaya menyeimbangkan kebutuhan untuk memperkuat pertumbuhan dengan mandat menjaga stabilitas harga serta sistem keuangan.
Destry menyampaikan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk menguat, meskipun lingkungan global sedang menghadapi gejolak dan ketidakpastian. Kondisi eksternal yang berubah-ubah tidak serta-merta menghilangkan kemampuan Indonesia untuk menjaga pertumbuhan. Keyakinan tersebut bertumpu pada daya tahan ekonomi nasional dan berbagai keunggulan yang dimiliki Indonesia.
Salah satu kelebihan utama Indonesia adalah besarnya pasar domestik. Skala pasar tersebut memberikan dasar penting bagi kegiatan ekonomi di dalam negeri. Ketika situasi global mengalami tekanan, pasar domestik dapat menjadi salah satu penopang yang membantu menjaga kesinambungan aktivitas ekonomi. Potensi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada perkembangan ekonomi eksternal.
Indonesia juga memiliki jumlah penduduk usia produktif yang banyak. Komposisi tersebut menjadi kekuatan yang dapat mendukung kegiatan ekonomi apabila dikelola secara tepat. Penduduk usia produktif dapat berperan dalam berbagai kegiatan yang mendorong kemajuan ekonomi, sehingga keunggulan ini perlu diarahkan dan dimanfaatkan secara optimal.
Selain pasar domestik dan penduduk usia produktif, kekayaan sumber daya alam turut menjadi kelebihan Indonesia. Sumber daya tersebut merupakan modal penting yang dapat mendukung penguatan ekonomi. Namun, seluruh keunggulan itu tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa pengelolaan yang baik. Pemanfaatannya perlu dilakukan secara cermat agar dapat menjadi kekuatan yang berkelanjutan.
Karena itu, optimisme tetap diperlukan dalam menghadapi gejolak global dan ketidakpastian. Optimisme bukan berarti mengabaikan tantangan, melainkan menjadi dorongan untuk mengelola kelebihan Indonesia dengan lebih baik. Dengan pengelolaan yang tepat dan keyakinan terhadap kemampuan nasional, peluang untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi tetap terbuka.
Optimisme dalam menghadapi gejolak global dapat berpijak pada pengalaman Indonesia melewati berbagai periode krisis. Perekonomian nasional pernah menghadapi krisis moneter 1998 yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Indonesia kemudian melalui krisis keuangan global 2008, ketika tekanan dari perekonomian dunia turut memengaruhi aktivitas domestik. Pengalaman lain yang lebih baru adalah krisis saat pandemi Covid-19, yang membawa tantangan serentak bagi kesehatan, kegiatan usaha, mobilitas masyarakat, serta daya beli.
Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah dalam merespons tekanan ekonomi yang kompleks. Namun, pengalaman itu tidak berarti tantangan dapat dipandang ringan. Wakil Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyoroti bahwa gejolak global yang sedang dihadapi tetap memerlukan kewaspadaan dan respons yang terkoordinasi. Perubahan kondisi global dapat memunculkan tekanan melalui berbagai saluran, sehingga penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Dalam konteks tersebut, kerja sama dan sinergi nasional menjadi modal penting. Pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, sektor keuangan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga ketahanan ekonomi. Koordinasi yang baik dapat membantu menyatukan langkah ketika situasi eksternal bergerak cepat, sekaligus memperkuat kemampuan nasional dalam menghadapi tekanan.
Pesan mengenai pentingnya persatuan itu tercermin dalam ajakan untuk menjaga “semangat bersinergi Merah Putih”. Ungkapan tersebut menekankan bahwa penanganan gejolak tidak hanya bergantung pada satu lembaga atau kebijakan, melainkan pada kemauan bersama untuk bekerja secara selaras. Semangat yang sama telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia dalam menghadapi krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, dan krisis pandemi Covid-19. Pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan bagi bangsa untuk tetap tenang, memperkuat koordinasi, dan menghadapi tantangan global melalui kerja sama nasional.
Baca juga: Optimisme Sektor Perbankan di Tengah Tantangan Ekonomi Global | Meningkatkan Nilai Tambah Pariwisata untuk Ekonomi Bali | Kontroversi Desil Ekonomi: Kasus Yudo Achilles Sadewa







