banner 728x250

Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat, Dugaan Pemberian Telur Mentah Disorot

Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat, Dugaan Pemberian Telur Mentah Disorot
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Alena, bayi perempuan berusia 28 hari, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Pihak rumah sakit membenarkan bahwa bayi tersebut pernah mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan itu. Alena dinyatakan meninggal pada Minggu pagi, sekitar pukul 07.10 WIB.

Kabar tersebut menjadi perhatian karena muncul dugaan mengenai pemberian telur mentah sebelum bayi menjalani perawatan. Informasi itu disebut-sebut dalam pemberitaan dan menjadi bagian dari sorotan publik terhadap kondisi Alena. Namun, keterangan mengenai telur mentah tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa hal itu merupakan penyebab medis kematian.

banner 325x300

Hingga informasi yang tersedia, pihak rumah sakit hanya membenarkan riwayat perawatan dan waktu meninggalnya pasien. Tidak terdapat pernyataan yang menyebutkan hubungan sebab-akibat konsumsi atau pemberian telur mentah dengan kondisi kesehatan Alena. Karena itu, penyampaian berita perlu menggunakan istilah seperti “diduga” dan “disebut” agar informasi tidak berkembang menjadi kesimpulan yang belum terverifikasi.

Peristiwa ini sekaligus mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memberikan makanan atau minuman kepada bayi, terutama yang masih berusia sangat dini. Setiap tindakan terkait asupan bayi sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan dan mempertimbangkan kondisi medisnya. Rincian mengenai penyebab kematian Alena tetap memerlukan penjelasan resmi dari pihak berwenang atau keterangan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kabar mengenai kondisi bayi bernama Alena pertama kali mencuat melalui unggahan di akun Threads @calisthaarisha. Pengguna akun tersebut mengaku sebagai tante Alena dan membagikan cerita mengenai kondisi keponakannya yang masih berusia kurang dari satu bulan. Unggahan itu kemudian mendapat perhatian publik karena memuat dugaan bahwa Alena sempat mengalami kondisi kritis setelah diberi telur mentah untuk membantu meredakan demam.

Berdasarkan keterangan dalam unggahan tersebut, pemberian telur mentah dilakukan oleh nenek Alena ketika bayi itu mengalami demam. Namun, informasi tersebut masih merupakan klaim dari pihak pengunggah dan belum dapat dianggap sebagai fakta medis yang telah dipastikan. Belum terdapat keterangan resmi yang menjelaskan secara menyeluruh kondisi kesehatan Alena, penyebab demam, maupun hubungan konsumsi telur mentah dan memburuknya keadaan bayi.

Dalam unggahannya, pihak keluarga menilai pemberian asupan tersebut tidak sesuai untuk bayi seusia Alena. Bayi yang belum genap satu bulan umumnya masih berada pada tahap awal kehidupan dengan kebutuhan nutrisi dan penanganan kesehatan yang sangat khusus. Karena itu, setiap keluhan, termasuk demam, semestinya mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan, bukan ditangani hanya berdasarkan saran atau kebiasaan keluarga.

Pengunggah juga menyebut kondisi Alena kemudian memburuk dan memerlukan perawatan. Rangkaian informasi itu menjadi sorotan karena memperlihatkan pentingnya kehati-hatian dalam memberikan makanan atau minuman kepada bayi baru lahir. Meski demikian, penyebab pasti memburuknya kondisi Alena tetap perlu menunggu penjelasan medis dan informasi resmi dari keluarga maupun fasilitas kesehatan yang merawatnya. Masyarakat diimbau tidak menyimpulkan sendiri atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, menyampaikan bahwa tim medis telah memberikan penanganan maksimal kepada Alena selama menjalani perawatan. Tindakan tersebut, menurut pihak rumah sakit, dilakukan sesuai standar pelayanan yang berlaku serta disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Pernyataan ini disampaikan sebagai penjelasan mengenai upaya rumah sakit dalam menangani bayi tersebut sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Namun, RSUD Dr. Soetomo tidak memerinci diagnosis, tindakan medis, maupun rangkaian kronologi perawatan Alena. Pihak rumah sakit menyatakan sikap tersebut diambil untuk menghormati keluarga yang sedang berduka. Dengan demikian, informasi mengenai kondisi kesehatan pasien dan penyebab pasti meninggalnya Alena belum disampaikan secara terbuka kepada publik. Rumah sakit juga tidak memberikan penilaian atas dugaan pemberian telur mentah yang sebelumnya menjadi perhatian dalam pemberitaan.

Perkembangan lain disampaikan melalui akun yang sebelumnya mengunggah informasi mengenai kondisi Alena. Dalam unggahan tersebut, akun itu mengabarkan bahwa Alena telah meninggal dunia dan menyampaikan terima kasih atas doa serta perhatian warganet. Pengunggah juga menyebut persoalan keluarga yang berkaitan dengan kejadian tersebut telah ditindaklanjuti. Pernyataan itu menjadi informasi terbaru yang diterima publik setelah kabar mengenai perawatan Alena beredar luas di media sosial.

Melalui unggahan yang sama, masyarakat diminta menghormati kondisi Ariana, yang diduga merupakan ibu Alena. Ariana disebut belum siap memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai peristiwa yang dialami keluarganya. Permintaan tersebut menekankan pentingnya memberikan ruang bagi keluarga untuk berduka dan memproses keadaan tanpa tekanan publik. Karena itu, informasi mengenai kasus ini perlu disampaikan secara hati-hati dengan mengutamakan keterangan resmi dan menghindari kesimpulan sebelum terdapat penjelasan medis maupun fakta yang dapat diverifikasi.

Berdasarkan informasi kesehatan yang dipublikasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), telur mentah atau setengah matang perlu diwaspadai karena berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat berasal dari bagian dalam telur maupun kontaminasi pada kulit telur, terutama apabila kulitnya retak, kotor, atau mengalami kerusakan. Karena itu, telur sebaiknya dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang sebelum diberikan kepada bayi dan anak kecil.

Infeksi akibat bakteri Salmonella dikenal sebagai salmonellosis dan umumnya menyerang saluran pencernaan. Dokter spesialis anak Cut Nurul Hafifah menjelaskan bahwa balita memiliki risiko mengalami gejala salmonellosis hingga empat kali lipat dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi telur mentah atau setengah matang. Kerentanan ini berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang, sehingga paparan bakteri dapat menimbulkan dampak yang lebih berat.

Gejala biasanya muncul sekitar 12 hingga 72 jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Keluhan yang dapat terjadi meliputi diare, demam, nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, dan muntah. Pada sebagian kasus, diare dapat disertai darah. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda-beda, sehingga orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, termasuk frekuensi buang air besar, kemampuan minum, dan tingkat aktivitasnya.

Kehilangan cairan merupakan hal yang sangat perlu diwaspadai pada bayi dan anak kecil. Diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi dalam waktu relatif singkat, terutama bila anak tidak mampu mengganti cairan yang hilang. Tanda-tandanya lain anak tampak lemas, jarang buang air kecil, mulut kering, tidak mengeluarkan air mata saat menangis, atau terlihat sangat haus. Dehidrasi yang tidak segera ditangani dapat memicu komplikasi serius. Apabila gejala berat muncul, terdapat darah dalam tinja, demam menetap, atau anak sulit minum, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.

Baca juga: Fokus Pemberian Bantuan Sosial di Indonesia untuk September 2026

banner 325x300