banner 728x250

Penguatan Ekosistem Operasional Dinilai Penting bagi Masa Depan Layanan Kesehatan Indonesia

Penguatan Ekosistem Operasional Dinilai Penting bagi Masa Depan Layanan Kesehatan Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Penguatan fasilitas dan layanan kesehatan dinilai menjadi salah satu kebutuhan utama untuk memastikan industri kesehatan Indonesia mampu menjawab tuntutan masyarakat yang terus berkembang. Yohanes Jeffry Johary, Managing Director OCS Indonesia sekaligus President of Indonesia Chapter of IFMA, menekankan bahwa kemajuan sektor ini memerlukan perhatian lebih besar terhadap fondasi operasional yang menopang pelayanan kesehatan. Menurutnya, layanan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis, tetapi juga oleh kesiapan fasilitas dalam mendukung seluruh proses pelayanan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Health Summit 2026 pada 12 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, pengembangan industri kesehatan dipandang perlu berjalan seiring dengan investasi pada teknologi dan inovasi. Pemanfaatan teknologi dapat membantu fasilitas kesehatan meningkatkan efisiensi, ketepatan pengelolaan, serta kualitas pengalaman pasien. Sementara itu, inovasi dibutuhkan agar penyedia layanan mampu menyesuaikan sistem kerja dengan perubahan kebutuhan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tuntutan terhadap standar pelayanan yang semakin tinggi.

banner 325x300

Namun, penguatan layanan kesehatan tidak semata-mata berarti menambah peralatan medis atau mengadopsi teknologi terbaru. Fasilitas kesehatan juga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai fungsi pendukung secara terkoordinasi. Fungsi tersebut mencakup pengelolaan gedung, pemeliharaan sarana, kebersihan, keamanan, energi, hingga dukungan administratif yang memastikan kegiatan layanan dapat berlangsung tanpa hambatan. Koordinasi antarfungsi menjadi penting karena setiap bagian saling berkaitan dalam menjaga kesinambungan operasional.

Pendekatan yang menyatukan aspek medis dan nonmedis dapat membantu fasilitas kesehatan membangun ekosistem operasional yang lebih tangguh. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, investasi teknologi dan inovasi tidak berhenti pada pengadaan, melainkan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan sehari-hari. Penguatan ini juga membuka ruang bagi peningkatan produktivitas tenaga kerja, pengendalian risiko, serta pemeliharaan mutu layanan secara berkelanjutan. Karena itu, pengembangan fasilitas kesehatan perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang yang mencakup infrastruktur, manusia, teknologi, dan tata kelola pendukung.

Menurut Yohanes, manajemen fasilitas memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai fungsi operasional di rumah sakit. Peran tersebut tidak terbatas pada pemeliharaan gedung, peralatan, utilitas, atau lingkungan fisik, tetapi juga mencakup koordinasi agar seluruh unsur pendukung layanan dapat bekerja secara terpadu. Untuk mewujudkannya, manajemen fasilitas perlu menjalin kerja sama yang erat dengan pimpinan klinis, unit spesialis, tenaga keperawatan, bagian administrasi, serta berbagai fungsi pendukung lainnya.

Kolaborasi lintas fungsi diperlukan karena setiap keputusan operasional dapat memengaruhi kelancaran pelayanan klinis. Ketersediaan ruang, kesiapan alat, pengaturan alur, kebersihan, keamanan, hingga respons terhadap gangguan teknis berhubungan langsung dengan kemampuan tenaga kesehatan memberikan layanan secara tepat waktu dan aman. Dengan komunikasi yang terstruktur, kebutuhan setiap unit dapat dipahami lebih baik, sementara potensi hambatan dapat diidentifikasi sebelum berdampak pada pasien.

Setiap perjalanan pasien juga dipengaruhi oleh ekosistem operasional rumah sakit secara keseluruhan. Pengalaman tersebut dimulai sejak pasien mencari informasi, melakukan pendaftaran, tiba di fasilitas kesehatan, menjalani pemeriksaan, menerima tindakan, hingga menyelesaikan proses administrasi dan memperoleh tindak lanjut. Karena itu, kesiapan layanan kesehatan tidak cukup dinilai hanya dari kualitas tindakan medis. Penilaian perlu mencakup keterhubungan proses, kapasitas fasilitas, keandalan sistem, kenyamanan lingkungan, serta kemampuan rumah sakit merespons kebutuhan pasien yang beragam.

Penguatan fasilitas dan layanan secara menyeluruh dapat menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman pasien yang lebih konsisten. Apabila rumah sakit mampu menunjukkan koordinasi operasional yang baik, lingkungan yang aman, dan dukungan layanan yang dapat diandalkan, kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di dalam negeri berpeluang meningkat. Kepercayaan tersebut pada waktunya dapat memengaruhi pertimbangan masyarakat ketika memilih berobat di Indonesia atau mencari layanan ke luar negeri. Namun, perubahan pilihan itu memerlukan penguatan yang berkelanjutan, melibatkan pimpinan, tenaga kesehatan, pengelola fasilitas, serta seluruh unit yang membentuk ekosistem rumah sakit.

Sekitar dua tahun sebelum pernyataan tersebut disampaikan, OCS Indonesia mulai mengembangkan konsep regenerative facility management sebagai respons terhadap kebutuhan pengelolaan fasilitas yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada efisiensi operasional atau pemeliharaan aset, tetapi juga melihat fasilitas sebagai bagian dari ekosistem yang terus berkembang. Di dalamnya, terdapat keterhubungan manusia, tempat kerja, masyarakat, dan lingkungan yang perlu dikelola secara terpadu.

Regenerative facility management bersifat antisipatif karena mendorong organisasi untuk mengenali perubahan, risiko, serta kebutuhan masa depan sejak awal. Tujuannya adalah menciptakan nilai jangka panjang, bukan sekadar menyelesaikan persoalan operasional dalam jangka pendek. Melalui pendekatan tersebut, organisasi diharapkan mampu meningkatkan ketahanan, memperkuat kemampuan beradaptasi, dan membangun kesiapan menghadapi perubahan sosial, teknologi, ekonomi, maupun lingkungan. Dengan demikian, pengelolaan fasilitas dapat berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan dan kualitas layanan.

Setelah melalui sejumlah uji coba penting, konsep yang dikembangkan OCS Indonesia tersebut memperoleh pengakuan dari IFMA global dan tercantum dalam perpustakaan pengetahuan IFMA. Pengakuan ini menunjukkan bahwa gagasan tersebut memiliki relevansi yang lebih luas bagi perkembangan praktik facility management. Mulai tahun ini, OCS Indonesia berupaya memperluas penerapannya agar manfaat pendekatan tersebut dapat dirasakan oleh lebih banyak organisasi dan sektor.

Relevansinya juga terlihat dalam pembahasan mengenai farmasi dan inovasi alat kesehatan. Inovasi tidak akan menghasilkan manfaat berkelanjutan apabila hanya dipandang sebagai produk atau teknologi baru. Inovasi perlu ditopang sistem operasional yang andal, infrastruktur yang memadai, tenaga kerja kompeten, serta tata kelola yang jelas. Keselarasan seluruh unsur itu membantu mempertahankan nilai yang dihasilkan, menjamin kesinambungan proses, dan memastikan layanan kesehatan tetap berjalan ketika menghadapi tekanan maupun perubahan kebutuhan.

Yohanes merekomendasikan agar rumah sakit yang ingin mencoba pendekatan regenerative facility management memulainya melalui penerapan selama 90 hari. Periode tersebut ditempatkan sebagai bagian dari program perbaikan jangka panjang, bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Agar pelaksanaannya terarah, terdapat empat pilar yang perlu disepakati sejak awal.

Pilar pertama adalah menetapkan kondisi dasar atau baseline. Rumah sakit perlu menggambarkan keadaan operasional saat ini dengan menggunakan data dan informasi yang tersedia. Baseline dapat mencakup kondisi fasilitas, alur kerja, penggunaan sumber daya, keandalan layanan pendukung, serta persoalan yang paling sering muncul. Penetapan kondisi awal membantu setiap pihak memahami titik berangkat perbaikan secara sama.

Pilar kedua ialah memilih persoalan operasional yang menjadi prioritas. Tidak semua masalah perlu ditangani secara bersamaan dalam masa 90 hari. Karena itu, rumah sakit perlu menentukan isu yang paling relevan terhadap kesinambungan layanan, dampaknya terhadap pengguna, dan kemampuan organisasi untuk menanganinya. Pilihan tersebut sebaiknya dibuat secara realistis agar perhatian dan sumber daya tidak tersebar terlalu luas.

Pilar ketiga adalah menentukan penanggung jawab. Setiap agenda perbaikan memerlukan pihak yang memiliki mandat, memahami tugasnya, dan dapat mengoordinasikan keterlibatan unit terkait. Penanggung jawab juga berperan menjaga komunikasi, mencatat perkembangan, serta memastikan keputusan yang telah disepakati diterjemahkan ke dalam tindakan operasional.

Pilar keempat adalah menyepakati metode untuk mengukur kemajuan. Pengukuran perlu ditentukan sejak awal, termasuk indikator, sumber data, frekuensi pemantauan, dan cara membahas hasilnya. Dengan demikian, proses selama 90 hari dapat ditinjau secara konsisten tanpa menambahkan klaim mengenai hasil yang belum tersedia.

Bagi Yohanes, rumah sakit masa depan tidak cukup hanya menjadi lebih canggih melalui teknologi atau fasilitas. Rumah sakit juga perlu memperkuat seluruh ekosistem yang menopang keberlangsungan layanan, mulai dari manusia, proses, fasilitas, hingga hubungan kerja antarpihak. Pendekatan perbaikan yang terstruktur dapat menjadi dasar untuk mengelola ekosistem tersebut secara lebih sadar dan berkelanjutan.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Program Serbu Ekosistem: Inisiatif Bank Syariah Nasional di Bandung | Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method

banner 325x300