banner 728x250

Dari Yogyakarta, Upaya Merawat Kesehatan Batin Nusantara Digelorakan

Dari Yogyakarta, Upaya Merawat Kesehatan Batin Nusantara Digelorakan
banner 120x600
banner 468x60

Yogyakarta | Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) menggelar diskusi dan meditasi bertajuk “Tata Hati Indonesia” di Gedung Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan untuk membicarakan pentingnya merawat kesehatan batin sekaligus mengajak masyarakat melakukan refleksi melalui pendekatan dialog dan meditasi. Gagasan tersebut menempatkan kesehatan mental dan ketenangan batin sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun kehidupan bersama yang lebih seimbang.

Yogyakarta dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki rekam jejak panjang sebagai salah satu pusat spiritual Nusantara. Daerah ini dikenal sebagai ruang yang mempertemukan berbagai tradisi pemikiran, kebudayaan, dan laku batin. Latar tersebut memberikan konteks yang kuat bagi dimulainya gerakan “Tata Hati Indonesia”. Pemilihan tempat itu juga menegaskan bahwa pembahasan mengenai kesehatan batin dapat berkembang melalui dialog yang berakar pada pengalaman budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.

banner 325x300

Kegiatan tersebut berlangsung bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober. Momentum ini memperkuat pesan bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian melalui kesadaran personal sekaligus kepedulian sosial. Antusiasme terhadap acara terlihat dari jumlah peserta yang mengikutinya. Sekitar 3.000 orang hadir secara langsung di Gedung Graha Sabha Pramana, sementara 2.000 peserta lainnya mengikuti rangkaian kegiatan secara daring. Kehadiran peserta dalam jumlah besar, baik secara luring maupun daring, menunjukkan luasnya perhatian terhadap tema kesehatan batin dan pentingnya ruang bersama untuk membicarakannya.

Pembukaan acara ditandai dengan prosesi menancapkan gunungan wayang atau kayon. Dalam tradisi pewayangan, kayon memiliki bentuk menyerupai pohon kehidupan dan kerap hadir sebagai penanda pergantian babak, awal cerita, maupun peralihan suasana. Karena itu, penancapannya tidak sekadar menjadi bagian dari tata upacara, melainkan menghadirkan pesan simbolis tentang dimulainya sebuah ikhtiar bersama. Dari Yogyakarta, prosesi tersebut menegaskan kehendak untuk mengawali upaya merawat kesehatan batin dan kesejahteraan Nusantara.

Kayon yang ditancapkan menjadi lambang tekad untuk menumbuhkan kesadaran, keseimbangan, serta kepedulian terhadap keadaan bersama. Simbol itu menghubungkan nilai-nilai budaya Jawa dengan gagasan yang lebih luas mengenai perawatan kehidupan, baik pada tingkat pribadi maupun masyarakat. Suasana pembukaan pun terasa khidmat, karena tindakan sederhana tersebut ditempatkan sebagai pengingat bahwa perubahan dapat dimulai dari perhatian terhadap batin manusia. Yogyakarta hadir bukan hanya sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga sebagai ruang budaya yang memberi konteks pada pesan acara.

Pendiri YCCK sekaligus guru meditasi, Bunda Arsaningsih, menyebut bahwa ikhtiar tersebut dimulai dari tanah Jawa, di Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pernyataan itu menempatkan prosesi kayon dalam rangkaian makna yang lebih luas: upaya merawat kesejahteraan Nusantara berangkat dari satu tempat, lalu diharapkan mengalir menjadi kesadaran bersama. Awal yang dipilih memiliki arti penting karena mempertemukan warisan simbolik, praktik pengolahan batin, dan kepedulian sosial dalam satu peristiwa. Dengan demikian, penancapan kayon menjadi penanda dimulainya langkah untuk menjaga kesehatan batin sebagai bagian dari kesejahteraan bersama, sekaligus mengajak peserta memandang perawatan diri dan kehidupan sosial sebagai dua hal yang saling berkaitan.

Bunda Arsaningsih memandang kegiatan tersebut sebagai wadah untuk menjaga kesehatan batin dan mental. Menurutnya, kehidupan sehari-hari menghadirkan berbagai persoalan yang dapat memengaruhi ketenangan, kejernihan berpikir, serta kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Karena itu, diperlukan ruang untuk berhenti sejenak, mengenali kondisi diri, dan merawat keseimbangan batin secara sadar. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan ketenangan sesaat, tetapi juga membantu peserta memahami keadaan dirinya ketika menghadapi tantangan.

Dalam pandangan Bunda Arsaningsih, meditasi menjadi proses penting untuk mencari solusi atas berbagai persoalan. Melalui proses tersebut, seseorang diajak menata kesadaran dan melihat persoalan dengan lebih jernih. Meditasi tidak ditempatkan sebagai upaya untuk menghindari masalah, melainkan sebagai sarana untuk menemukan ruang batin yang dapat mendukung proses pencarian jalan keluar. Dengan demikian, peserta memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi dan memahami apa yang sedang dihadapi secara lebih tenang.

Untuk mendukung proses itu, Bunda Arsaningsih mengembangkan metode Spirit of Universal Life atau SOUL Reflection. Metode ini mengajak peserta terhubung dengan Tuhan melalui kesadaran rohani atau jiwa. Proses tersebut dilakukan dengan perantara tokoh agung dari agama masing-masing peserta. Dalam pelaksanaannya, tokoh yang menjadi perantara dapat mencakup Nabi Muhammad dalam Islam, Yesus, Buddha, dan tokoh agung lainnya sesuai dengan latar belakang agama peserta.

Melalui SOUL Reflection, peserta diarahkan untuk menjalani proses perenungan dengan kesadaran rohani yang berangkat dari keyakinan masing-masing. Pendekatan ini menempatkan pengalaman batin sebagai bagian penting dalam upaya merawat kesehatan mental. Peserta tidak sekadar mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga diajak membangun keterhubungan melalui jiwa dan kesadaran rohani. Bagi Bunda Arsaningsih, proses tersebut dapat menjadi jalan untuk menjaga kesehatan batin sekaligus membantu seseorang menghadapi persoalan dengan ketenangan dan kesadaran yang lebih baik.

Pengalaman meditasi yang diberikan kepada peserta diawali dengan proses pengenalan terhadap kondisi batin masing-masing. Peserta diarahkan untuk mengamati perasaan, ingatan, dan pengalaman yang masih meninggalkan beban emosional, tanpa menghakimi diri sendiri. Luka batin, kekecewaan, rasa takut, kemarahan, maupun perasaan negatif lainnya dikenali sebagai bagian dari perjalanan pribadi yang perlu disadari. Tahap ini membantu peserta melihat sumber kegelisahan secara lebih jernih, sehingga berbagai emosi yang selama ini terpendam dapat dihadapi dengan tenang.

Setelah mengenali beban tersebut, peserta dibimbing untuk melepaskan luka batin dan perasaan negatif secara bertahap. Pelepasan dilakukan melalui keheningan, pengaturan napas, pemusatan pikiran, serta kesediaan untuk menerima pengalaman yang telah terjadi. Proses ini tidak dimaksudkan untuk menghapus masa lalu, melainkan memberi ruang agar peserta tidak terus terikat pada emosi yang melemahkan. Ruang batin yang mulai terbuka kemudian diisi dengan afirmasi positif, seperti penerimaan diri, rasa syukur, keyakinan, kasih, dan harapan. Afirmasi tersebut dihadirkan sebagai penguatan kesadaran serta dorongan untuk menata kembali cara memandang diri dan kehidupan.

Dalam kegiatan ini, energi spiritual yang dibangun melalui meditasi tidak diarahkan hanya untuk kepentingan pribadi peserta. Berdasarkan konsep yang disampaikan, energi Tuhan juga disebarkan melalui Yogyakarta ke seluruh Nusantara. Yogyakarta ditempatkan sebagai titik penguatan dan penyebaran kesadaran spiritual, sehingga energi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangkitkan kesadaran batin masyarakat. Dengan demikian, rangkaian acara mencakup proses mengenali serta melepaskan luka batin, menggantinya dengan afirmasi positif, dan mengarahkan energi spiritual bagi penguatan kesadaran batin masyarakat di seluruh Nusantara.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method | Verifikasi Kasus Stunting Anak oleh Dinas Kesehatan Madiun

banner 325x300