banner 728x250

Bayi 28 Hari di Surabaya Meninggal, IDAI Tekankan Keamanan Pemberian Makanan

Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat dalam Kondisi Kritis, Rumah Sakit Hormati Duka Keluarga
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Alena, bayi berusia 28 hari di Surabaya, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo. Kabar mengenai kondisi bayi tersebut ramai dibicarakan di media sosial setelah sebuah akun yang mengaku sebagai tante Alena menyampaikan bahwa sang bayi berada dalam kondisi kritis. Unggahan itu kemudian menarik perhatian publik karena memuat dugaan bahwa Alena sempat diberi telur mentah oleh neneknya sebelum kondisi kesehatannya memburuk.

Informasi mengenai pemberian telur mentah tersebut perlu disikapi secara hati-hati. Berdasarkan keterangan yang beredar, hal itu masih berupa dugaan yang disebutkan dalam unggahan keluarga, bukan kesimpulan medis mengenai penyebab memburuknya kondisi atau kematian Alena. Karena itu, belum tepat menyatakan bahwa telur mentah menjadi penyebab pasti meninggalnya bayi tersebut. Penentuan penyebab medis memerlukan pemeriksaan dan penjelasan dari tenaga kesehatan atau pihak berwenang berdasarkan data klinis yang lengkap.

banner 325x300

Pihak RSUD Dr. Soetomo membenarkan bahwa Alena pernah dirawat di rumah sakit tersebut. Rumah sakit menyampaikan bahwa pasien telah mendapatkan penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan medisnya. Keterangan ini menjadi bagian penting dalam memahami peristiwa tersebut, sekaligus menghindari kesimpulan yang hanya didasarkan pada informasi di media sosial.

Alena dilaporkan meninggal dunia pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 07.10 WIB, ketika usianya baru mencapai 28 hari. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keamanan pemberian makanan pada bayi, terutama karena bayi baru lahir memiliki sistem pencernaan dan daya tahan tubuh yang masih sangat rentan. Setiap keputusan terkait asupan bayi sebaiknya mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan dan tidak didasarkan pada kebiasaan keluarga atau informasi yang belum terverifikasi.

Perhatian publik terhadap kasus Alena bermula dari rangkaian unggahan di media sosial oleh pemilik akun @calisthaarisha, yang mengaku sebagai tante bayi tersebut. Dalam unggahannya, akun itu menyampaikan bahwa Alena belum genap berusia satu bulan ketika menghadapi kondisi kritis. Informasi tersebut juga menyebut adanya pemberian asupan yang dinilai tidak semestinya untuk bayi seusianya, yakni telur mentah yang diberikan oleh neneknya. Pernyataan itu kemudian menyebar luas dan memicu kepedulian warganet.

Unggahan berikutnya dari akun yang sama mengabarkan bahwa Alena telah meninggal dunia. Pemilik akun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat yang telah mengirimkan doa serta perhatian selama bayi tersebut menjalani perawatan. Rangkaian unggahan keluarga itu menjadi informasi awal yang diketahui publik mengenai kondisi Alena, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi penjelasan lengkap mengenai keadaan medis maupun penyebabnya.

Sejumlah informasi mengenai perawatan dan kabar meninggalnya Alena kemudian dikonfirmasi oleh pihak RSUD Dr. Soetomo. Karena itu, kronologi yang beredar perlu dipahami dengan membedakan keterangan keluarga melalui media sosial dan informasi yang disampaikan rumah sakit. Pemberitaan mengenai kasus ini sebaiknya tetap berpegang pada fakta yang telah dinyatakan oleh kedua sumber tersebut, tanpa menambahkan dugaan medis atau menyimpulkan hubungan sebab-akibat yang belum disampaikan secara resmi. Peristiwa ini sekaligus menarik perhatian terhadap pentingnya memastikan setiap asupan yang diberikan kepada bayi sesuai dengan usia dan anjuran tenaga kesehatan, meskipun penilaian atas kasus Alena tetap harus didasarkan pada keterangan resmi yang tersedia.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus mengikuti usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta prinsip keamanan pangan. Pada enam bulan pertama kehidupan, bayi dianjurkan memperoleh ASI eksklusif. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), mengimbau orang tua untuk memberikan ASI sebagai sumber nutrisi utama selama periode tersebut, selama tidak terdapat kendala medis yang mengharuskannya dihentikan atau diganti.

ASI eksklusif berarti bayi tidak memperoleh makanan atau minuman lain, termasuk air putih, kecuali obat, vitamin, atau mineral berdasarkan indikasi tenaga kesehatan. Apabila ASI tidak dapat diberikan, susu formula bayi dapat digunakan dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi medis bayi. Pemilihannya sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter, terutama jika bayi memiliki prematuritas, alergi, gangguan pertumbuhan, atau kondisi kesehatan tertentu. Formula juga harus disiapkan sesuai petunjuk agar konsentrasi dan kebersihannya tetap terjaga.

Rekomendasi umum pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) adalah ketika bayi berusia enam bulan. Pada usia ini, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai meningkat, sementara bayi biasanya menunjukkan kemampuan perkembangan yang mendukung proses makan. Tanda kesiapan dapat mencakup kemampuan duduk dengan dukungan, kontrol kepala yang baik, ketertarikan terhadap makanan, serta berkurangnya refleks mendorong makanan keluar menggunakan lidah. MPASI perlu diberikan secara bertahap, dengan tekstur dan porsi yang disesuaikan kemampuan bayi.

Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu apabila terdapat pertimbangan klinis dan bayi telah menunjukkan kesiapan perkembangan. Keputusan tersebut bukan rekomendasi rutin dan perlu didasarkan pada penilaian dokter, bukan semata-mata keinginan keluarga. Sebaliknya, pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan karena sistem pencernaan, kemampuan menelan, dan kesiapan perkembangan bayi belum memadai. Orang tua perlu memastikan makanan, peralatan, air, serta tangan pengasuh tetap higienis untuk mengurangi risiko infeksi dan gangguan kesehatan.

Telur mentah atau setengah matang tidak sesuai diberikan kepada bayi karena berisiko membawa bakteri Salmonella. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bakteri tersebut dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi saluran cerna yang menimbulkan diare, demam, nyeri perut, muntah, serta dehidrasi. Kontaminasi dapat terjadi meskipun telur tampak bersih dan tidak menunjukkan perubahan pada warna, bau, atau bentuknya.

Pada bayi dan anak kecil, infeksi ini berpotensi berlangsung lebih berat karena sistem kekebalan tubuh serta kemampuan mereka mempertahankan keseimbangan cairan belum berkembang sempurna. Kehilangan cairan akibat diare dan muntah dapat terjadi dengan cepat, sementara demam dan kesulitan makan dapat memperburuk kondisi. Dalam keadaan tertentu, infeksi juga dapat menimbulkan komplikasi serius sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Risiko tersebut tidak sebanding dengan manfaat gizi yang diharapkan dari pemberian telur mentah. Telur memang kaya protein berkualitas tinggi, lemak, vitamin, dan mineral, tetapi kandungan tersebut tetap dapat diperoleh melalui telur yang dimasak hingga matang. Pemanasan yang tepat membantu mengurangi risiko bakteri penyebab penyakit sekaligus membuat protein lebih mudah dicerna. Karena itu, keamanan pangan perlu menjadi pertimbangan utama, bukan hanya kandungan gizinya.

Setelah bayi mencapai usia dan tahap perkembangan yang memungkinkan pemberian makanan pendamping ASI, telur matang dapat diperkenalkan sebagai salah satu sumber protein. Telur sebaiknya dimasak sampai bagian putih dan kuningnya benar-benar matang, lalu disajikan dalam tekstur yang sesuai dengan kemampuan makan bayi. Makanan dapat dihaluskan, dilumatkan, atau dipotong kecil sesuai perkembangan keterampilan oral dan motoriknya. Orang tua juga perlu memastikan kebersihan tangan, peralatan, serta bahan makanan selama persiapan agar pemberian makanan berlangsung aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Baca juga: Penyelidikan Kecelakaan Mobil di Surabaya: Fokus pada Obat yang Dikonsumsi | Fokus Pemberian Bantuan Sosial di Indonesia untuk September 2026 | Wuling Selesaikan Masalah Konsumen di Surabaya dengan Penyerahan Unit Baru

banner 325x300