Denpasar | SDN 14 Dangin Puri, Denpasar, Bali, menerapkan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan. Pelaksanaan ini tidak hanya mengatur pembagian makanan kepada siswa, tetapi juga melibatkan mereka secara langsung dalam proses layanan makan bersama. Melalui pola tersebut, siswa mendapat kesempatan untuk mengambil makanan bagi teman-temannya sekaligus belajar mengikuti alur kegiatan secara tertib di lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, siswa tidak sekadar datang, menerima makanan, lalu menyantapnya. Mereka turut berperan dalam melayani dan mengambil makanan untuk teman-teman yang mengikuti kegiatan. Keterlibatan itu menjadi bagian dari pembiasaan yang dilakukan selama uji coba MBG prasmanan. Setiap siswa belajar menjalankan peran yang diberikan, memperhatikan kebutuhan teman, serta menyelesaikan tugasnya dalam kegiatan makan bersama sesuai arahan sekolah.
Kepala SDN 14 Dangin Puri, Ni Luh Sriwati, menjelaskan bahwa konsep tersebut diterapkan untuk membiasakan siswa bersikap mandiri dan bertanggung jawab. Menurutnya, pembelajaran itu dibangun melalui kegiatan saling melayani, sehingga siswa tidak hanya menjadi penerima layanan makan. Mereka juga berlatih memberikan layanan kepada teman melalui tindakan sederhana, seperti membantu mengambilkan makanan dan melayani dalam proses pembagian. Dengan demikian, uji coba MBG di sekolah diarahkan pada pelaksanaan makan bersama yang sekaligus menjadi ruang pembiasaan bagi siswa. Kegiatan tersebut menempatkan siswa sebagai bagian dari proses, bukan hanya sebagai penerima makanan, sehingga latihan kemandirian dan tanggung jawab berlangsung melalui aktivitas yang mereka jalani secara langsung.
Skema prasmanan menjadi bagian dari program percontohan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan oleh Polda Bali. Pelaksanaan uji coba ini didukung oleh dapur pusat yang berlokasi di Jalan Plawa, Denpasar. Melalui pola tersebut, siswa tidak hanya menerima makanan yang telah disiapkan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk belajar mengambil makanan secara tertib dan bertanggung jawab.
Uji coba prasmanan di SDN 14 Dangin Puri dimulai pada Senin, 5 Oktober 2026. Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama 10 hari kerja sebagai tahap pengamatan dan evaluasi terhadap pelaksanaan layanan MBG. Selama periode tersebut, sekolah dan penyelenggara dapat menilai efektivitas mekanisme pembagian makanan, tingkat keteraturan siswa, serta kesiapan sarana pendukung yang digunakan.
Sebanyak 205 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 menerima manfaat MBG di SDN 14 Dangin Puri. Namun, pelaksanaan dengan skema prasmanan secara khusus melibatkan 63 siswa kelas 5 dan kelas 6. Pemilihan kelompok ini mempertimbangkan usia dan tingkat kemandirian siswa yang dinilai lebih siap menjalankan tugas sederhana dalam proses pelayanan makanan.
Dalam pelaksanaannya, siswa diberikan tugas secara bergiliran. Pengaturan tersebut diperlukan karena petugas yang tersedia hanya berjumlah lima orang. Dengan sistem rotasi, tanggung jawab membagikan makanan tidak dibebankan kepada siswa yang sama setiap hari. Pembagian tugas dapat mencakup membantu menata makanan, mengarahkan antrean, memastikan kelancaran pengambilan porsi, serta menjaga area makan tetap tertib.
Mekanisme bergiliran juga memberi ruang bagi lebih banyak siswa untuk berpartisipasi tanpa mengganggu kegiatan belajar secara berlebihan. Selain mendukung kelancaran program, pengalaman tersebut diharapkan membentuk sikap disiplin, kerja sama, kepedulian, dan kemandirian. Guru tetap berperan dalam memberikan arahan serta pengawasan agar setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan dan seluruh siswa tetap memperoleh layanan makanan bergizi dengan tertib.
Pelaksanaan uji coba makan bergizi gratis (MBG) dengan skema prasmanan di SDN 14 Dangin Puri berlangsung dalam kondisi kondusif. Kegiatan berjalan sesuai pengaturan yang telah diterapkan oleh pihak sekolah, meskipun pola penyajian ini memerlukan waktu lebih panjang dibandingkan mekanisme sebelumnya. Pada pola lama, makanan dibagikan langsung kepada siswa menggunakan ompreng sehingga proses pembagian dapat berlangsung lebih singkat.
Berdasarkan keterangan pihak sekolah, penyajian dengan sistem prasmanan membutuhkan tambahan waktu sekitar 30 menit. Perbedaan durasi tersebut terutama terlihat dari proses siswa mengambil makanan dan keterlibatan mereka dalam pelayanan. Siswa kelas 1 hingga kelas 4 tetap menerima makanan menggunakan ompreng, sedangkan siswa kelas 5 dan kelas 6 menjalankan tugas pelayanan secara bergantian dalam pelaksanaan makan bersama tersebut.
Pengaturan itu membuat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian penyajian menjadi lebih lama. Setelah makanan tersedia, siswa kelas atas yang mendapat giliran bertugas perlu melayani proses pengambilan makanan, sementara siswa lainnya mengikuti alur yang telah ditentukan. Dengan demikian, waktu makan tidak hanya mencakup kegiatan mengonsumsi makanan, tetapi juga proses pelayanan yang berlangsung secara bergantian.
Durasi penyajian yang bertambah turut berpengaruh terhadap jadwal kegiatan siswa setelah makan. Pelajaran berikutnya dijadwalkan dimulai pada pukul 10.00 WITA. Karena waktu penyajian menjadi lebih panjang, waktu istirahat siswa di kegiatan makan dan pelajaran berikutnya menjadi sangat terbatas. Dalam beberapa kesempatan, waktu istirahat tersebut bahkan hampir tidak tersisa, sehingga jarak berakhirnya kegiatan makan dan dimulainya pembelajaran berikutnya menjadi sangat singkat.
Pelaksanaan uji coba makan bergizi gratis (MBG) dengan konsep prasmanan di SDN 14 Dangin Puri mendapat penilaian positif dari siswa. Selain mendorong kemandirian, cara penyajian ini dinilai mampu menjaga kualitas hidangan. Makanan yang diambil langsung dari wadah prasmanan terasa lebih segar dibandingkan makanan yang sudah disusun terlebih dahulu dalam ompreng dan kemudian dibagikan kepada siswa. Hidangan juga masih berada dalam kondisi hangat sehingga aroma, tekstur, dan rasanya lebih terjaga ketika disantap.
Made Bagus Canendra Widi Putra, siswa kelas 5, turut merasakan perbedaan tersebut. Ia pernah bertugas membantu pembagian makanan dalam kegiatan prasmanan. Menurutnya, makanan yang disajikan dengan cara ini terasa lebih enak karena masih sangat baru matang. Ia dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan dengan menggunakan alat penjepit yang telah disediakan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kegiatan makan bersama juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan melayani teman.
Pada awalnya, Made Bagus menghadapi sedikit kesulitan ketika menggunakan alat penjepit. Karena belum terbiasa, beberapa makanan sempat terjatuh saat hendak dipindahkan ke piring. Namun, kendala itu tidak berlangsung lama. Setelah mencoba beberapa kali, ia mulai lebih terampil dan mampu menjalankan tugas dengan lancar. Ia menilai pekerjaan tersebut sebenarnya mudah dan menyatakan bersedia kembali menjadi petugas apabila mendapat kesempatan serupa.
Pengalaman para siswa menunjukkan bahwa konsep prasmanan tidak hanya menghadirkan makanan yang lebih segar, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk berlatih mandiri, tertib, dan bertanggung jawab. Made Bagus bersama siswa lainnya berharap uji coba tersebut dapat dilanjutkan. Mereka menyukai menu yang berganti-ganti, sekaligus menilai hidangan yang disajikan terasa lezat. Antusiasme itu menjadi dorongan positif bagi sekolah untuk terus mengevaluasi dan mengembangkan pola penyajian yang sesuai dengan kebutuhan siswa.







