Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berulang di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini muncul dengan intensitas dan cakupan yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kekeringan, karakteristik lahan, serta aktivitas manusia. Selain menimbulkan kerusakan ekosistem, karhutla dapat mengganggu kesehatan masyarakat, transportasi, perekonomian, dan kualitas udara di wilayah terdampak maupun daerah sekitarnya.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan yang diperbarui hingga Juli 2026, pemantauan untuk periode 2021–2026 mencakup tujuh provinsi yang menjadi prioritas penanganan. Provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Penetapan wilayah prioritas membantu pemerintah memusatkan pemantauan, pencegahan, kesiapsiagaan, serta pengerahan sumber daya pada daerah yang berulang kali menghadapi ancaman kebakaran.
Catatan pemantauan tersebut menyajikan luas area terbakar setiap tahun dalam satuan hektare. Data memperlihatkan bahwa sebaran karhutla tidak berlangsung secara seragam dari tahun ke tahun. Sejumlah wilayah mengalami lonjakan luas terbakar yang besar pada 2023, sedangkan pada tahun-tahun lainnya tercatat variasi yang mencerminkan perubahan kondisi iklim, curah hujan, tata kelola lahan, dan efektivitas pengendalian di lapangan. Perbedaan antardaerah juga menunjukkan bahwa kebijakan penanganan perlu disesuaikan dengan karakter ekosistem dan sumber risiko masing-masing provinsi.
Peta dan rangkaian data periode 2021–2026 dapat digunakan untuk melihat pola berulang, mengenali wilayah dengan tekanan kebakaran yang lebih tinggi, serta mendukung perencanaan intervensi. Informasi tersebut juga penting sebagai dasar evaluasi pencegahan, terutama menjelang periode kering ketika potensi api dan penyebarannya cenderung meningkat. Karena data terus diperbarui, pembacaan situasi sebaiknya mempertimbangkan waktu pemutakhiran dan tidak hanya berfokus pada satu tahun pengamatan.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin malam, 12 Oktober 2026, mencatat kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah masih memerlukan penanganan intensif. Hingga 11 Oktober 2026, luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 64,8 hektare yang tersebar pada 49 lokasi kebakaran. Dari jumlah itu, petugas telah berhasil memadamkan sekitar 54 hektare di 38 lokasi. Sementara itu, 10,8 hektare pada 11 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.
Operasi pemadaman di Kalimantan Tengah dilakukan terutama melalui jalur darat. Rendahnya jarak pandang akibat asap menghambat pengerahan dan efektivitas operasi udara, sehingga tim darat menjadi tumpuan utama untuk menjangkau titik-titik api. Jarak pandang di sejumlah wilayah, termasuk kawasan bandara, dilaporkan menurun hingga hanya 0,2 kilometer. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan penerbangan, tetapi juga meningkatkan risiko bagi masyarakat dan petugas yang berada di sekitar area terdampak.
Data pemantauan menunjukkan terdapat 3.908 titik panas di Kalimantan Tengah. Sebanyak 74 titik di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi, sehingga memerlukan verifikasi serta respons cepat di lapangan. Sebaran kebakaran dan asap telah berdampak terhadap 11 kabupaten/kota. Dampaknya meliputi penurunan kualitas udara, gangguan jarak pandang, serta potensi risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.
Selain pemadaman konvensional, pemerintah menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Upaya tersebut menghasilkan hujan lokal di Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Hujan di beberapa wilayah diharapkan membantu membasahi lahan gambut dan menekan penyebaran api, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada cakupan hujan serta kondisi angin. BNPB juga melaporkan total lahan terbakar di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan mencapai 343,55 hektare, disertai kualitas udara yang masuk kategori berbahaya.
Perkembangan karhutla di Sumatera Selatan mencatat luas area terbakar mencapai 278,75 hektare. Dari keseluruhan area tersebut, sebanyak 271,85 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 6,90 hektare masih berada dalam penanganan. Upaya pemadaman dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, akses menuju lokasi, serta faktor cuaca yang memengaruhi penyebaran api. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar area terdampak telah memperoleh penanganan, meskipun beberapa titik masih memerlukan pengawasan dan pemadaman lanjutan untuk mencegah munculnya kembali api.
Aktivitas titik panas juga terpantau di wilayah tersebut. Dari total 1.991 titik panas yang terdeteksi, 121 di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran kebakaran berdampak terhadap delapan kabupaten/kota di Sumatera Selatan, sehingga penanganannya membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan pengerahan sumber daya secara terukur. Pemantauan titik panas tetap diperlukan untuk mengidentifikasi potensi perluasan kebakaran, terutama pada area yang memiliki vegetasi mudah terbakar atau berada di sekitar lahan gambut.
Operasi water bombing belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang rendah. Kondisi jarak pandang di bandara tercatat berada pada kisaran 0,3 hingga 7 kilometer, sehingga keselamatan penerbangan dan efektivitas operasi menjadi pertimbangan utama. Sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertumbuhan awan hujan, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 sebanyak satu sorti dengan menggunakan 800 kilogram natrium klorida. Sebelumnya, selama 9–11 Oktober 2026, telah dilakukan akumulasi empat sorti dengan total 3.600 kilogram natrium klorida. Langkah tersebut mendukung strategi penanganan melalui pemadaman darat, pemantauan udara, dan pengendalian kondisi atmosfer.
Langkah penanganan berikutnya mencakup patroli udara dan pemadaman lanjutan pada titik-titik yang masih menunjukkan indikasi kebakaran. Patroli udara diperlukan untuk memperbarui informasi mengenai sebaran api, asap, serta kondisi medan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pelaksanaannya harus tetap memperhatikan keselamatan penerbangan, termasuk koordinasi antarunsur, kondisi cuaca, jarak pandang, dan pengaturan lalu lintas udara agar operasi pemantauan maupun pemadaman berlangsung aman.
BNPB merekomendasikan agar operasi diarahkan ke lokasi yang belum padam, bukan hanya pada area yang telah berhasil dikendalikan. Penanganan dapat dilakukan melalui penyekatan untuk membatasi pergerakan api, pemadaman pada sumber kebakaran, dan pendinginan guna mencegah munculnya kembali titik panas. Pengerahan personel, peralatan, serta sumber air perlu disusun secara terarah berdasarkan tingkat ancaman, akses menuju lokasi, dan kebutuhan setiap wilayah. Koordinasi satuan tugas darat, unsur udara, pemerintah daerah, serta pihak terkait menjadi bagian penting dalam memastikan dukungan tersebut digunakan secara efektif.
Di Sumatera Selatan, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan pada wilayah yang memiliki kerawanan kebakaran tinggi. Prioritas perhatian mencakup Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Kesiapan armada meliputi ketersediaan pesawat, kru, sumber air, titik pengisian, serta dukungan logistik dan komunikasi. Penempatan dan pengerahan armada perlu disesuaikan dengan hasil pemantauan agar respons terhadap titik api dapat dilakukan tanpa menunda waktu operasi.
Kesiapsiagaan satuan tugas darat juga perlu diperkuat, terutama di sekitar permukiman. Personel harus mampu melakukan pemantauan berkala, penyekatan, pemadaman awal, dan pendinginan pada area yang berpotensi mendekati rumah warga. Dukungan peralatan pemadaman, akses terhadap sumber air, jalur evakuasi, dan koordinasi dengan masyarakat perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.
Baca juga: Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Penurunan Hotspot Karhutla Nasional: Kalimantan Tengah Masih Memimpin | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah







