banner 728x250

Membangun Ekosistem Wirausaha Muda Jawa Timur agar Inovasi Tumbuh

Membangun Ekosistem Wirausaha Muda Jawa Timur agar Inovasi Tumbuh
banner 120x600
banner 468x60

BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa upaya melahirkan lebih banyak pengusaha muda tidak dapat berhenti pada pemberian motivasi. Menurutnya, semangat untuk berwirausaha perlu diikuti dukungan yang menyeluruh agar gagasan yang muncul dapat berkembang, diuji, dan memiliki peluang untuk diterapkan secara nyata.

Pernyataan tersebut disampaikan Emil saat menghadiri Diplomat Success Challenge Special Roadshow di Hall Gedung Science Technopark Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Jumat (9/10). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang mampu mendukung perjalanan wirausaha muda sejak tahap awal hingga siap memasuki pasar komersial.

banner 325x300

Dorongan kewirausahaan, kata Emil, memerlukan pendampingan berkelanjutan, bukan hanya dorongan sesaat. Pendampingan dapat membantu calon pengusaha memahami proses pengembangan gagasan dan mengambil langkah secara lebih terarah. Dukungan tersebut juga perlu dilengkapi akses permodalan sehingga ide yang berpotensi tidak berhenti karena keterbatasan sumber daya.

Selain itu, wirausaha muda membutuhkan ruang yang aman untuk menguji gagasan dan inovasi. Ruang semacam ini penting agar mereka dapat mencoba, mengevaluasi, dan menyempurnakan produk sebelum membawanya ke pasar komersial. Dengan demikian, proses pengembangan usaha tidak semata-mata dibebankan pada keberanian individu, tetapi ditopang lingkungan yang memungkinkan pembelajaran dan perbaikan.

Pesan Emil menempatkan penguatan ekosistem sebagai bagian penting dari upaya mendorong lahirnya wirausaha muda di Jawa Timur. Motivasi tetap diperlukan sebagai pemicu, tetapi keberlanjutan dukungan, ketersediaan modal, pendampingan, dan kesempatan menguji inovasi menjadi fondasi agar semangat tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang lebih siap.

Gagasan mengenai sandbox kewirausahaan menempatkan ruang uji sebagai wadah bagi founder pemula untuk mengembangkan dan menguji ide bisnis sebelum diterapkan secara lebih luas. Dalam ruang tersebut, pengusaha dapat menilai apakah produk yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan, sekaligus mengamati bagaimana calon pelanggan memberikan respons. Proses pengujian sejak tahap awal membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan pengalaman dan masukan yang relevan, bukan semata-mata asumsi.

Sandbox juga dapat membantu pengusaha pemula memahami kelayakan produk secara lebih terukur. Melalui pengamatan terhadap respons pasar, mereka berkesempatan mengenali kelebihan, kekurangan, serta bagian yang masih perlu diperbaiki. Informasi tersebut penting untuk menentukan harga yang kompetitif, karena penetapan harga perlu mempertimbangkan penerimaan konsumen dan kondisi pasar. Selain itu, pengujian awal memberikan kesempatan untuk membaca peta persaingan, termasuk posisi produk dibandingkan dengan tawaran dari pelaku usaha lain.

Bagi Emil, kemampuan berinovasi tidak seharusnya terhambat oleh regulasi yang rumit. Ketika prosedur terlalu sulit dipahami atau memerlukan proses yang berbelit, pengusaha pemula dapat kehilangan waktu, sumber daya, dan kesempatan untuk mengembangkan gagasannya. Karena itu, pemerintah perlu mempermudah proses yang berkaitan dengan pengujian dan pengembangan usaha, sehingga inovasi dapat tumbuh tanpa mengabaikan kebutuhan akan kepastian serta tata kelola yang diperlukan.

Ruang uji semacam ini tidak hanya berkaitan dengan produk atau model bisnis, tetapi juga dengan pembentukan cara berpikir seorang entrepreneur. Pengusaha perlu mampu beradaptasi ketika kondisi berubah, membaca peluang yang muncul, dan terus memperbarui gagasan berdasarkan perkembangan kebutuhan pasar. Emil menilai ketiga kemampuan tersebut merupakan modal penting bagi entrepreneur. Dengan dukungan lingkungan yang memungkinkan ide diuji secara lebih awal dan proses yang tidak membebani, founder pemula dapat membangun dasar usaha yang lebih kuat sebelum memperluas penerapannya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki komitmen untuk memperluas akses pasar bagi wirausaha muda, terutama melalui misi dagang dan berbagai kegiatan promosi daerah. Program tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, distributor, investor, serta mitra potensial dari berbagai wilayah. Selain membuka peluang transaksi, kegiatan ini membantu produk lokal memperoleh visibilitas yang lebih luas dan mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, serta daya saing. Perluasan pasar menjadi langkah penting agar inovasi yang lahir dari generasi muda tidak berhenti pada tahap gagasan, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Upaya membangun ekosistem kewirausahaan juga diperkuat oleh perguruan tinggi. Wakil Rektor III ITS Imam Baihaqi menjelaskan bahwa ITS sedang bertransformasi dari research university menuju entrepreneurial university. Perubahan ini tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak lulusan yang mendirikan perusahaan. Lebih luas, ITS ingin menghasilkan sarjana yang memiliki jiwa entrepreneur, mampu melihat peluang, berani menguji gagasan, dan peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurut Imam, langkah awal memulai usaha bukan sekadar mencari ide produk, melainkan menemukan masalah di sekitar dan menyelesaikannya melalui solusi bisnis. Cara pandang tersebut menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai titik awal inovasi. Mahasiswa didorong untuk memahami persoalan secara langsung, mengembangkan solusi berbasis pengetahuan dan teknologi, kemudian mengujinya agar memiliki manfaat sekaligus kelayakan ekonomi. Dengan demikian, kewirausahaan menjadi proses pembelajaran untuk menciptakan nilai, bukan hanya upaya memperoleh keuntungan.

Untuk mendukung proses tersebut, ITS menyediakan mata kuliah wajib technopreneurship bagi mahasiswa baru. Kampus juga mengembangkan fasilitas Science Technopark sebagai ruang untuk riset terapan, inkubasi, pengujian, dan pengembangan produk. Di samping mendorong komersialisasi teknologi, ITS memberi perhatian pada social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. Model ini menekankan penciptaan dampak sosial yang nyata, seperti peningkatan akses pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, dan penyelesaian persoalan lingkungan. Sinergi kebijakan pemerintah, akses pasar, pendidikan, dan fasilitas inovasi akan memperkuat fondasi wirausaha muda Jawa Timur.

Ketua Dewan Komisioner Diplomat Success Challenge, Surjanto Yasaputera, menekankan bahwa kesempatan menjadi pendiri usaha perlu dibuka secara inklusif dan setara bagi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Kesempatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan akses untuk mengikuti program kewirausahaan, tetapi juga dengan dukungan yang membantu calon pengusaha memahami potensi dirinya, mengembangkan gagasan, serta mempersiapkan langkah secara lebih terarah.

Menurut Surjanto, pola pikir kewirausahaan dibentuk oleh tiga pilar utama, yaitu kemauan personal, pengetahuan, dan keterampilan. Kemauan personal menjadi dorongan awal untuk berani memulai, menghadapi ketidakpastian, dan mempertahankan usaha ketika proses pengembangan tidak berlangsung mudah. Pengetahuan membantu calon pengusaha membaca kebutuhan masyarakat, mengenali peluang, serta memahami dasar pengelolaan usaha. Sementara itu, keterampilan diperlukan agar gagasan dapat diterapkan melalui perencanaan, pembuatan produk, komunikasi, dan pengelolaan kegiatan usaha.

Ketiga pilar tersebut memerlukan lingkungan yang mendukung agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Ekosistem kewirausahaan yang kuat dapat menyediakan pendampingan, ruang uji inovasi, pendidikan, serta akses pasar bagi calon pendiri usaha. Pendampingan membantu mereka memperoleh masukan dan memperbaiki arah pengembangan, sedangkan ruang uji memberi kesempatan untuk menguji gagasan berdasarkan kebutuhan nyata. Pendidikan memperkuat pengetahuan, sementara akses pasar membantu menghubungkan produk atau layanan dengan pengguna yang sesuai.

Karena itu, dukungan bagi calon pengusaha perlu dirancang agar tidak berhenti pada pemberian kesempatan awal. Dukungan tersebut perlu memungkinkan setiap peserta, termasuk mereka yang belum memiliki pengalaman atau jaringan luas, untuk mengembangkan kemampuan dan menguji gagasannya secara bertahap. Pandangan ini menempatkan kemauan personal, pengetahuan, dan keterampilan sebagai dasar yang perlu diperkuat melalui ekosistem yang terbuka, pendampingan yang relevan, serta akses terhadap ruang belajar dan pasar.

banner 325x300