banner 728x250

Dua Penulis Indonesia Mendapat Penghargaan IKAPI Awards 2026 lewat Karya untuk Pembaca Beragam

Dua Penulis Indonesia Mendapat Penghargaan IKAPI Awards 2026 lewat Karya untuk Pembaca Beragam
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Dua penulis Indonesia menerima penghargaan IKAPI Awards 2026 melalui karya yang ditujukan bagi kebutuhan pembaca yang beragam. Brian Khrisna memperoleh penghargaan Writer of the Year, sedangkan M. Sutandi meraih penghargaan Children’s Book of the Year lewat bukunya, Whispers of the Shadow, Three Tales of Wonder (Self-Discovery Season). Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap karya keduanya dalam menghadirkan bacaan untuk segmen pembaca yang berbeda.

Penghargaan kepada Brian Khrisna dan M. Sutandi diserahkan saat pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Acara itu berlangsung di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 5 Oktober 2026. Penyerahan penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembukaan pameran buku yang mempertemukan berbagai pihak dalam industri penerbitan dan perbukuan.

banner 325x300

Brian Khrisna menerima penghargaan Writer of the Year, sementara M. Sutandi mendapatkan Children’s Book of the Year melalui buku Whispers of the Shadow, Three Tales of Wonder (Self-Discovery Season). Perbedaan kategori itu menunjukkan cakupan penghargaan terhadap karya yang menyasar kebutuhan pembaca dewasa dan anak-anak. Keduanya berkarya di bawah naungan penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).

Informasi mengenai penghargaan tersebut tercantum dalam rilis yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026. Rilis itu menyebutkan penerimaan penghargaan oleh dua penulis Indonesia tersebut dalam ajang IKAPI Awards 2026, yang penyerahannya berlangsung pada pembukaan IIBF 2026 di Jakarta Convention Center. Dengan demikian, Brian Khrisna dan M. Sutandi tercatat sebagai penerima penghargaan melalui karya yang mewakili kebutuhan pembaca yang berbeda, masing-masing dalam kategori Writer of the Year dan Children’s Book of the Year.

IKAPI Awards merupakan bentuk penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia kepada penulis dan pelaku industri perbukuan yang memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan literasi. Ajang ini tidak hanya menilai popularitas sebuah karya, tetapi juga melihat peran buku dalam memperluas akses gagasan, membangun kebiasaan membaca, dan menghadirkan pengalaman literer yang bermakna bagi masyarakat. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perbukuan tumbuh melalui kerja bersama penulis, penerbit, editor, ilustrator, serta berbagai pihak yang mendukung hadirnya bacaan berkualitas.

Melalui penghargaan ini, karya dengan pendekatan yang beragam memperoleh ruang untuk diapresiasi. Ide yang segar, imajinasi yang kuat, dan kemampuan menyampaikan gagasan secara komunikatif menjadi bagian penting dari karya yang dapat memperkaya pengalaman membaca. Karena itu, IKAPI Awards juga mencerminkan luasnya perkembangan sastra dan bacaan Indonesia, yang tidak terbatas pada satu gaya, kelompok usia, atau tema tertentu.

Penghargaan kepada Brian memperlihatkan perhatian terhadap kiprah sastra populer Indonesia yang dekat dengan keseharian pembaca. Karya-karyanya mengolah pengalaman hidup, hubungan antarmanusia, serta pergulatan dan refleksi diri dengan bahasa yang mudah diterima. Kedekatan tema tersebut membuat sastra populer mampu menjangkau pembaca yang luas, sekaligus membuka ruang perenungan mengenai pilihan, emosi, dan dinamika kehidupan. Apresiasi ini menegaskan bahwa karya yang komunikatif tetap dapat memiliki kedalaman dan relevansi sosial.

Sementara itu, M. Sutandi mendapat apresiasi melalui kontribusinya dalam bacaan anak yang mengangkat perjalanan penemuan jati diri. Karya semacam ini membantu anak mengenali perasaan, memahami lingkungan, dan membangun keberanian untuk berkembang melalui cerita yang sesuai dengan dunia mereka. Bacaan anak tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung pembentukan imajinasi, empati, dan kepercayaan diri. Pengakuan terhadap kedua penulis tersebut memperlihatkan komitmen untuk merayakan karya yang menjangkau pembaca beragam sekaligus memperkuat budaya literasi.

Perjalanan kepengarangan Brian Khrisna dimulai pada 2016 melalui buku Merayakan Kehilangan. Sejak karya pertamanya, ia konsisten mengeksplorasi pengalaman manusia, terutama kehidupan sehari-hari, relasi antarmanusia, serta pergulatan batin yang sering kali tidak mudah diungkapkan. Perkembangan tersebut terlihat melalui sejumlah judul yang diterbitkannya, yakni Kudasai (2019), Sisi Tergelap Surga (2023), Bandung Menjelang Pagi (2024), 23:59 (2025), dan Setelah Melompat Aku Ingin Hidup (2026).

Dalam karya-karyanya, Brian menghadirkan cerita yang berangkat dari persoalan dekat dengan pembaca. Tokoh-tokohnya menghadapi hubungan yang berubah, kehilangan, pilihan hidup, serta kebutuhan untuk memahami diri sendiri. Melalui pengalaman tersebut, cerita-ceritanya menjadi ruang refleksi yang mendorong pembaca menengok kembali pengalaman hidup mereka, termasuk luka, harapan, dan keputusan yang pernah diambil. Kedekatan tema dan emosinya menjadi salah satu kekuatan yang membuat karya Brian diterima oleh pembaca dengan latar yang beragam.

Brian menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya serta berterima kasih kepada IKAPI, IIBF, Grasindo, dan para pembaca yang telah mendukung perjalanan karyanya. Baginya, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan, melainkan dorongan untuk terus membuat cerita yang dekat dengan hati pembaca. Apresiasi itu juga memperkuat komitmennya untuk menghadirkan karya yang mampu menemani pembaca dalam memahami kehidupan dan dirinya sendiri.

Salah satu karya penting Brian adalah novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), yang meraih predikat mega best seller dan sedang dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar. Novel ini mengangkat pergulatan tokohnya dalam menghadapi depresi, hilangnya makna hidup, luka masa lalu, dan keterasingan. Di tengah kondisi tersebut, pertemuan tak terduga, kata-kata penguat, serta hal-hal sederhana menjadi bagian dari perjalanan untuk menemukan alasan agar tetap menjalani kehidupan. Kisah itu menempatkan harapan bukan sebagai jawaban instan, melainkan sesuatu yang dapat tumbuh perlahan melalui relasi, perhatian, dan keberanian untuk melangkah kembali.

M. Sutandi menghadirkan pendekatan yang reflektif dalam Whispers of the Shadow, Three Tales of Wonder (Self-Discovery Season), buku anak yang memuat tiga cerita tentang proses mengenali diri dan memahami nilai-nilai kehidupan. Setiap kisah mengajak pembaca muda menelusuri pengalaman tokoh, menghadapi pertanyaan personal, serta menemukan makna dari pilihan dan hubungan dengan orang lain. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana bagi anak untuk membangun kesadaran diri secara bertahap.

Latar pendidikan Sutandi di bidang psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, turut membentuk pendekatannya dalam merancang cerita. Pemahaman tersebut membantu menyusun konflik dan perkembangan karakter yang dekat dengan pengalaman emosional anak, tanpa mengubah bacaan menjadi pelajaran yang menggurui. Sutandi lulus sebagai mahasiswa terbaik pada 2015, sebuah pencapaian yang memperlihatkan ketekunan akademis sekaligus menjadi bagian dari perjalanan yang mendukung kiprahnya sebagai penulis.

Pengalaman membaca dalam buku ini diperkuat oleh ilustrasi berwarna yang mendampingi setiap cerita. Visual tersebut membantu anak memahami suasana, mengenali karakter, dan mengeksplorasi alur secara lebih interaktif. Perpaduan teks dan gambar membuka ruang bagi pembaca untuk menafsirkan detail, membayangkan kemungkinan, serta menghubungkan peristiwa dalam cerita dengan kehidupan mereka sendiri. Format ini juga membuat tema penemuan jati diri terasa lebih mudah diakses oleh pembaca usia dini.

Sutandi memandang penghargaan Children’s Book of the Year sebagai “ruang apresiasi bagi pengembangan literasi anak di Indonesia.” Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jendela pengetahuan, ruang imajinasi, sekaligus pemantik kecintaan membaca sejak dini. Ke depan, Sutandi berencana mengembangkan inovasi bacaan yang memadukan hiburan dengan pengenalan nilai-nilai kehidupan bagi anak. Upaya ini sejalan secara hati-hati dengan peran Grasindo dalam menghadirkan bacaan bertema beragam, sehingga turut memperkaya khazanah literasi Indonesia.

Baca juga: Kontroversi Buku Islam Prabowo: Implikasi Hukum dan Penyataan Penulis

banner 325x300