banner 728x250

Dari Tenun ke Pasar Lebih Luas: Perubahan Digital di Sumba Timur

Dari Tenun ke Pasar Lebih Luas: Perubahan Digital di Sumba Timur
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Sumba Timur | Selama bertahun-tahun, banyak penjual kain tenun di Sumba Timur mengandalkan wisatawan yang datang langsung ke desa, rumah produksi, atau kios untuk melihat dan membeli kain. Cara ini memungkinkan calon pembeli mengamati warna, motif, serta kualitas tenunan secara dekat, sekaligus berbincang dengan perajin mengenai proses pembuatannya. Namun, kesempatan berjualan sangat bergantung pada arus kunjungan. Ketika jumlah wisatawan menurun atau perjalanan sulit dilakukan, akses kepada pelanggan baru ikut menyempit. Pemasaran pun sering terbatas pada orang yang kebetulan berkunjung, meskipun kain dan cerita di baliknya berpotensi menarik perhatian lebih luas.

Penggunaan ponsel dan media sosial membuka jalur tambahan untuk memperkenalkan produk. Melalui Facebook, perajin atau penjual dapat mengunggah foto kain, memberi keterangan tentang motif, bahan, ukuran, dan harga, lalu menanggapi pertanyaan calon pembeli. Instagram membantu menampilkan detail warna dan hasil tenunan dalam format visual, sementara WhatsApp memudahkan komunikasi langsung, berbagi katalog sederhana, serta membahas pemesanan dan pengiriman. Dengan cara tersebut, informasi tentang kain dapat beredar di luar lingkaran pengunjung yang datang secara fisik. Unggahan yang dibagikan pelanggan atau komunitas juga dapat membawa produk ke perhatian orang yang sebelumnya belum mengenal tenun Sumba Timur.

banner 325x300

Perubahan ini memungkinkan jangkauan pembeli melampaui wisatawan domestik. Pertanyaan dan pesanan dapat datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, bergantung pada jaringan penjual, kemudahan transaksi, dan layanan pengiriman. Meski demikian, media sosial bukan pengganti tunggal bagi penjualan langsung. Sebagian perajin masih mengandalkan wisatawan, pameran, perantara, atau pelanggan tetap; kemampuan memakai platform digital dan akses internet pun berbeda-beda. Foto juga tidak selalu memperlihatkan tekstur serta warna kain dengan sempurna, sehingga penjelasan yang jelas dan komunikasi yang responsif tetap penting. Karena itu, pemasaran daring lebih tepat dipahami sebagai saluran tambahan yang memperluas peluang, bukan perubahan seragam bagi seluruh perajin. Perpaduan interaksi langsung dan promosi melalui ponsel memberi penjual lebih banyak cara untuk mengenalkan karya, menjelaskan nilai budaya, serta membangun hubungan dengan pembeli yang tinggal jauh dari Sumba Timur.

Data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026 mencatat terdapat 96 menara BTS milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan. Angka tersebut menggambarkan jangkauan infrastruktur telekomunikasi yang hadir di berbagai wilayah kabupaten, termasuk daerah yang berjauhan dari pusat layanan. Keberadaan menara BTS menjadi salah satu unsur pendukung akses komunikasi dan internet, meskipun ketersediaan layanan di setiap lokasi dapat dipengaruhi pula oleh kondisi jaringan, perangkat, pasokan listrik, dan faktor lainnya.

Jumlah BTS tidak tersebar sama rata. Tabundung tercatat memiliki 10 menara, jumlah tertinggi di kecamatan yang disebutkan dalam data. Paberiwai memiliki tujuh BTS. Sementara itu, Kambata Mapambuhang, Mahu, Pandawai, dan Pinu Pahar masing-masing tercatat memiliki enam menara. Rincian ini memberi gambaran tentang distribusi infrastruktur pada sejumlah kecamatan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan mutu sinyal, jumlah pengguna, ataupun tingkat pemanfaatan internet. Untuk memahami pengalaman warga secara lebih lengkap, data persebaran tersebut perlu dibaca bersama informasi cakupan dan kualitas layanan di lapangan.

Bagi perajin tenun dan pelaku usaha lokal, akses telekomunikasi yang lebih luas dapat membuka peluang untuk berkomunikasi dengan calon pembeli, menerima pertanyaan, serta membagikan informasi mengenai produk. Saluran digital juga dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan motif, proses pembuatan, dan ketersediaan barang kepada khalayak di luar lingkungan terdekat. Namun, keberadaan BTS bukan jaminan bahwa setiap perajin telah terhubung atau berhasil memasarkan kerajinan secara daring. Pemanfaatannya bergantung pada akses internet yang berfungsi, kepemilikan perangkat, keterampilan digital, dan dukungan lain. Karena itu, data 96 menara tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari infrastruktur yang mendukung kemungkinan konektivitas, sementara perkembangan pemasaran tenun melalui kanal digital tetap dipengaruhi oleh kesiapan pelaku usaha dan kondisi layanan setempat.

Di Kampung Raja Prailiu, tidak jauh dari pusat Kota Waingapu, Mama Kiani menjalankan usaha keluarga yang berfokus pada kain tenun. Kain-kain yang ditawarkan membawa motif dan keterampilan yang diwariskan dalam tradisi setempat, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Selama bertahun-tahun, pembeli dapat datang langsung ke rumah untuk melihat pilihan kain, bertanya tentang motif, dan menentukan barang yang sesuai. Cara berjualan ini tetap menjadi bagian penting dari usaha mereka, bahkan setelah keluarga mulai mencoba saluran digital.

Sejak 2022, keluarga Mama Kiani mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan dan menawarkan kain tenun. Foto dan informasi mengenai produk memberi calon pembeli kesempatan untuk mengenal pilihan kain tanpa harus terlebih dahulu berkunjung ke Prailiu. Media sosial juga membantu usaha kecil tersebut menjangkau orang di luar lingkungan sekitar Waingapu. Perubahan ini tidak serta-merta menggantikan hubungan langsung dengan pelanggan. Sebaliknya, kanal daring menambah cara bagi orang untuk menemukan produk, mengajukan pertanyaan, lalu mengatur pembelian.

Mama Kiani menggambarkan pola usaha mereka dengan sederhana: “Kami berjualan secara daring dan langsung di rumah.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa penjualan digital berjalan berdampingan dengan transaksi tatap muka. Pelanggan yang mengetahui kain melalui media sosial dapat melanjutkan komunikasi dari jarak jauh, sementara pengunjung tetap bisa melihat tenun secara langsung di rumah keluarga. Bagi usaha berbasis kerajinan, perpaduan tersebut memberi ruang untuk membangun kepercayaan, menjelaskan karakter kain, dan mempertahankan kedekatan dengan pembeli.

Pengenalan kain melalui media sosial turut membuat usaha keluarga itu mendapat perhatian lebih luas dan membuka kesempatan untuk tampil di Inacraft 2026. Pameran kerajinan tersebut berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, pada 7–11 Oktober 2026. Keikutsertaan dalam ajang di Jakarta memberi peluang bagi Mama Kiani untuk memperkenalkan tenun Prailiu kepada pengunjung, pelaku usaha, dan calon pembeli dari berbagai daerah. Kisahnya memperlihatkan bagaimana penggunaan media sosial secara bertahap dapat menghubungkan usaha rumahan dengan ruang promosi yang lebih besar, tanpa menghilangkan cara penjualan langsung yang telah dijalankan keluarga.

Sejak 2025, Kampung Adat Praiyawang di Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, memperoleh fasilitas akses internet melalui program BAKTI Komdigi. Kehadiran konektivitas ini menambah pilihan bagi warga untuk berkomunikasi dan mencari informasi, sekaligus mendukung berbagai kebutuhan sehari-hari. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan jangkauan layanan terbatas, akses tersebut menjadi sarana praktis untuk tetap terhubung dengan keluarga, pelanggan, maupun orang di luar kampung. Manfaatnya terasa bukan hanya dalam urusan komunikasi, tetapi juga dalam kegiatan ekonomi, termasuk memperkenalkan kain tenun kepada calon pembeli yang lebih luas.

Tokoh masyarakat Umbu Borung menjelaskan bahwa internet membantu warga memenuhi kebutuhan harian dan berkomunikasi dengan lebih mudah. Media sosial juga digunakan untuk menawarkan hasil kerajinan, terutama kain tenun yang menjadi bagian penting dari kehidupan dan mata pencaharian setempat. Menurut keterangannya, Facebook merupakan platform yang paling sering digunakan masyarakat Praiyawang. Instagram dan TikTok turut dimanfaatkan, meski penggunaannya disebut berada setelah Facebook. Melalui kanal-kanal tersebut, perajin dapat membagikan informasi produk dan menjangkau orang yang mungkin belum pernah datang langsung ke kampung. Promosi daring melengkapi cara penjualan tatap muka, bukan menggantikannya sepenuhnya.

Pengalaman Rambu Magdalena, perajin sekaligus penjual kain tenun berusia 42 tahun, menunjukkan bagaimana akses digital dapat diterapkan dalam usaha sehari-hari. Ia menggunakan Facebook untuk menawarkan produk tenunnya kepada calon pembeli.

Baca juga: Telkom Luncurkan Strategi Transformasi Digital Scale untuk Optimalisasi Operasional | Perubahan Rangkaian KRL dan Dampaknya Terhadap Penumpang | Perubahan Jadwal KRL Jabodetabek: Pentingnya Memeriksa Sebelum Berangkat

banner 325x300