banner 728x250
Budaya  

Seruan Salat Istisqa Mengemuka dalam Apel Hari Santri di Tebuireng

Seruan Salat Istisqa Mengemuka dalam Apel Hari Santri di Tebuireng
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Jombang | Ribuan santri Pondok Pesantren Tebuireng berkumpul di lapangan pesantren di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, untuk mengikuti apel akbar Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Kehadiran para santri dalam jumlah besar menjadikan apel ini sebagai kegiatan utama yang menghimpun warga pesantren di lingkungan Tebuireng. Informasi yang tersedia menyebut lokasi, waktu, dan peserta kegiatan, tanpa merinci susunan acara maupun jalannya apel.

Apel akbar tersebut digelar di lapangan Pondok Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren yang berada di Kabupaten Jombang. Ribuan santri menjadi peserta yang berkumpul untuk memperingati Hari Santri Nasional. Dengan berlangsungnya kegiatan pada tanggal peringatan, apel itu menempatkan para santri sebagai bagian dari perayaan yang diselenggarakan di lingkungan pesantren. Namun, rincian mengenai pihak yang memimpin apel, pesan yang disampaikan, ataupun kegiatan lain yang menyertainya tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Karena itu, gambaran kegiatan terbatas pada keterangan mengenai peserta, tempat, dan tanggal pelaksanaan.

banner 325x300

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober, sehingga kegiatan di Tebuireng berlangsung pada hari yang sama dengan peringatan tersebut. Apel diikuti ribuan santri yang berkumpul di lapangan pesantren, di wilayah Jombang, Jawa Timur. Fakta-fakta itu memberikan gambaran pokok mengenai skala dan lokasi kegiatan tanpa menambahkan detail yang belum terkonfirmasi. Belum ada keterangan lebih lanjut dalam informasi yang disampaikan mengenai durasi apel, kondisi lapangan, atau respons peserta. Dengan demikian, apel akbar Hari Santri di Tebuireng pada 2026 dapat dicatat sebagai pertemuan besar santri dalam rangka peringatan nasional, yang berlangsung pada Kamis, 22 Oktober, di kompleks pesantren tersebut.

Peringatan Hari Santri di Tebuireng dihadiri oleh beragam unsur, mulai dari tokoh lokal dan pengasuh pesantren hingga jajaran pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa apel tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap kehidupan pesantren dan kegiatan keagamaan. Di nama yang tercantum dalam sumber adalah Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Prof Mohammad Nuh, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Daftar tersebut mencakup sejumlah tokoh yang hadir dalam rangkaian peringatan, bersama para tokoh lokal dan pengasuh pesantren. Penyebutan nama-nama itu memberi gambaran tentang kehadiran unsur pimpinan organisasi di tengah kegiatan yang berlangsung di Tebuireng. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci peran masing-masing tokoh dalam apel, maupun susunan acara yang mereka ikuti. Karena itu, kehadiran mereka dapat dicatat sebagai bagian dari peserta yang disebutkan, tanpa mengaitkannya dengan tugas atau pernyataan tertentu yang tidak tercantum dalam sumber.

Apel Hari Santri tersebut juga menjadi latar bagi mengemukanya seruan Salat Istisqa. Dalam suasana peringatan yang melibatkan kalangan pesantren dan pimpinan PBNU, seruan itu menjadi salah satu pokok perhatian acara. Kehadiran tokoh-tokoh yang disebutkan menunjukkan luasnya unsur yang berkumpul, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa yang menyampaikan seruan ataupun bagaimana tanggapan peserta. Keterangan mengenai hal tersebut perlu merujuk pada informasi acara yang secara khusus mencatat penyampai dan rangkaian kegiatannya.

Dengan demikian, gambaran peserta peringatan mencakup tokoh lokal, pengasuh pesantren, serta jajaran pimpinan PBNU. Nama KH Miftachul Akhyar, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Prof Mohammad Nuh, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tercatat di mereka yang hadir. Pencatatan ini menempatkan kehadiran para tokoh sebagai konteks penting dalam berita mengenai apel Hari Santri di Tebuireng, sekaligus menjaga informasi tetap sesuai dengan nama dan keterangan yang tersedia. Tidak ada jabatan tambahan atau rincian lain yang perlu dilekatkan pada nama-nama tersebut di luar penyebutan yang telah dicantumkan.

Dalam amanatnya pada Apel Hari Santri di Tebuireng, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz, mengajak masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat persatuan di tengah beragam persoalan yang dihadapi bangsa. Ia menekankan bahwa tantangan nasional tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kebersamaan, kepedulian, serta kerja nyata dari berbagai pihak agar upaya mencari jalan keluar dapat berjalan dengan baik.

Seruan tersebut disampaikan dalam suasana peringatan Hari Santri yang mengingatkan kembali peran santri dan ulama dalam kehidupan kebangsaan. Persatuan, menurut pesan yang mengemuka dalam amanat itu, perlu diwujudkan melalui kesediaan untuk saling mendengar dan bekerja sama, sekalipun masyarakat memiliki latar belakang serta pandangan yang beragam. Pemerintah juga diharapkan hadir bersama masyarakat dalam merespons persoalan, sehingga langkah yang ditempuh dapat menjangkau kebutuhan warga dan memperkuat kepentingan bersama.

Salah satu perhatian PBNU yang disampaikan dalam acara tersebut ialah kebakaran hutan dan lahan yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan berdampak luas, baik terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat di sekitar wilayah terdampak. Situasi ini memerlukan perhatian serius dan penanganan yang terkoordinasi, termasuk kepedulian terhadap warga yang menghadapi dampak langsung. Dengan mengangkat persoalan tersebut, PBNU menegaskan bahwa tantangan bangsa mencakup isu kemanusiaan dan lingkungan yang memerlukan tanggung jawab bersama.

Ajakan untuk bersatu menjadi penting karena penanganan bencana dan persoalan sosial membutuhkan komunikasi serta koordinasi lintas pihak. Masyarakat dapat berperan dengan meningkatkan kepedulian, mengikuti informasi dan arahan yang dapat dipercaya, serta mendukung langkah penanganan di daerah terdampak. Di sisi lain, pemerintah perlu terus mengupayakan respons yang terarah dan memperhatikan keselamatan warga. Amanat KH Abdul Hakim Mahfudz di Tebuireng dengan demikian menempatkan persatuan bukan sekadar seruan, melainkan landasan untuk menghadapi persoalan bangsa secara bersama, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di Kalimantan dan wilayah lainnya.

Dalam Apel Hari Santri di Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz menyerukan warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk menggelar salat istisqa. Salat sunah tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT, terutama ketika sejumlah wilayah menghadapi kondisi kering dan kebakaran hutan serta lahan. Seruan itu mengajak masyarakat tidak hanya menyampaikan keprihatinan, tetapi juga menempuh langkah keagamaan secara kolektif. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan melibatkan warga setempat, sesuai keadaan dan kesiapan masing-masing daerah. Melalui doa bersama, masyarakat berharap memperoleh pertolongan dan hujan yang membawa manfaat bagi lingkungan serta kehidupan warga terdampak.

Ajakan tersebut juga berangkat dari perhatian terhadap saudara-saudara yang mengalami dampak karhutla. Kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, memperburuk kualitas udara, serta menimbulkan kesulitan bagi masyarakat di sekitar lokasi. Dalam konteks itu, salat istisqa dipandang sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas, sekaligus pengakuan bahwa manusia memerlukan pertolongan Allah SWT. Warga Nahdliyin di berbagai daerah diajak bersama-sama memohon hujan, seraya memperhatikan kondisi dan kebutuhan komunitas yang terdampak. Seruan ini menempatkan doa sebagai ikhtiar spiritual yang dapat dilakukan lintas wilayah, bukan hanya oleh masyarakat yang secara langsung mengalami kebakaran atau kekeringan.

Pelaksanaan salat istisqa diharapkan memperkuat kebersamaan warga dalam merespons keadaan tersebut. Seruan KH Abdul Hakim Mahfudz mengarahkan perhatian pada ikhtiar memohon hujan sekaligus mengingatkan pentingnya merasakan beban yang ditanggung saudara-saudara mereka akibat karhutla. Dengan berkumpul untuk berdoa, masyarakat dapat menyatakan kepedulian terhadap mereka yang menghadapi asap, kerusakan lingkungan, maupun dampak lain dari kebakaran. 15 kunjungan

banner 325x300