banner 728x250
Budaya  

Ribka Haluk Serahkan Penghargaan Kebudayaan PIKI kepada Bambang Noorsena

Ribka Haluk Serahkan Penghargaan Kebudayaan PIKI kepada Bambang Noorsena
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menyerahkan penghargaan tokoh kebudayaan kepada Bambang Noorsena dalam malam anugerah PIKI Awards 2026 di Jakarta, Minggu (25/10/2026). Penghargaan tersebut diberikan sebagai pengakuan atas kiprah Noorsena dalam bidang kebudayaan dan pemikiran. Namun, Noorsena tidak hadir secara langsung dalam acara itu karena sedang berada di luar negeri. Stephanus Aswar menerima penghargaan tersebut sebagai wakil Noorsena. Kehadirannya mewakili penerima penghargaan dalam rangkaian acara malam anugerah tersebut.

Noorsena dikenal sebagai teolog, filolog, dan sejarawan Indonesia. Selain menekuni kajian keagamaan dan sejarah, ia juga mendirikan Institute for Syriac Culture Studies (ISCS), lembaga yang berfokus pada studi kebudayaan Suryani. Latar keilmuan yang beragam itu menjadi bagian penting dari profilnya sebagai tokoh yang bergerak di ranah kebudayaan. Penghargaan PIKI Awards 2026 menempatkan kiprah tersebut dalam perhatian publik melalui sebuah acara yang menghimpun penerima anugerah dan undangan di Jakarta. Penyerahan oleh Ribka Haluk menandai pemberian penghargaan secara resmi kepada Noorsena, meskipun ia berhalangan hadir.

banner 325x300

Melalui Stephanus Aswar, penghargaan itu tetap diterima atas nama Noorsena pada malam penganugerahan. Perwakilan tersebut memungkinkan prosesi berlangsung sesuai agenda, sekaligus menyampaikan bahwa penerima penghargaan sedang berada di luar negeri. Informasi mengenai alasan ketidakhadiran lebih lanjut tidak disampaikan dalam keterangan peristiwa ini. Pemberian penghargaan kepada Noorsena memperkenalkan kembali peran seorang teolog, filolog, dan sejarawan dalam pembahasan kebudayaan Indonesia. Keterlibatannya melalui pendirian ISCS juga tercatat sebagai bagian dari kiprah tersebut. Dengan demikian, malam anugerah PIKI Awards 2026 menjadi kesempatan untuk mengapresiasi kontribusi Noorsena, sementara penyerahan simbolis oleh Ribka Haluk dan penerimaan oleh Aswar mewakili jalannya prosesi di Jakarta.

Ribka Haluk memandang kebudayaan sebagai unsur penting yang membentuk identitas bangsa. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif tentang perjalanan masyarakat, bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pengalaman, serta nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu atau rangkaian upacara, melainkan bagian hidup yang memberi masyarakat cara untuk memahami diri dan lingkungannya. Karena itu, pelestarian budaya berhubungan langsung dengan upaya menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan zaman.

Ribka menegaskan, “Merawat budaya berarti merawat akar, agar kita tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita melangkah bersama.” Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa pemahaman terhadap asal-usul dapat menjadi pijakan untuk menentukan arah masa depan secara bersama. Ketika bahasa, tradisi, dan nilai budaya dirawat, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenali sejarahnya dengan lebih utuh sekaligus memahami pengalaman kelompok lain. Pengetahuan itu dapat memperkuat rasa kebersamaan tanpa menghapus keberagaman, serta membantu generasi muda menghubungkan kehidupan masa kini dengan warisan yang mereka terima.

Dalam kerangka tersebut, penghargaan kebudayaan PIKI diberikan kepada sosok yang dinilai berkontribusi memperkaya khazanah budaya dan peradaban. Melalui kajian, tulisan, dan penyampaian gagasan, penerima penghargaan menghadirkan pemahaman yang mendorong masyarakat melihat kebudayaan secara lebih luas. Kontribusinya juga membantu menjembatani pemahaman antarumat beragama dan antarbudaya, sehingga perbedaan dapat dibicarakan melalui pengetahuan dan penghormatan, bukan prasangka. Apresiasi itu sekaligus menunjukkan bahwa kerja intelektual dan komunikasi publik memiliki peran dalam merawat hubungan sosial serta memperluas wawasan bersama.

Ribka menyebut penerima penghargaan sebagai teladan yang dihargai banyak orang. Pengakuan tersebut bukan hanya menyoroti pencapaian pribadi, tetapi juga menandai nilai kontribusi yang dapat menginspirasi masyarakat. Dengan memberi ruang bagi kajian dan gagasan tentang kebudayaan, penghargaan ini mengingatkan bahwa merawat warisan bersama memerlukan perhatian berkelanjutan. Upaya itu turut memperkuat pemahaman atas sejarah, menjaga jati diri, dan membangun kehidupan bersama yang menghargai keragaman sebagai bagian dari perjalanan bangsa.

PIKI Awards merupakan bagian dari upaya Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) untuk memberi apresiasi kepada tokoh dari berbagai bidang yang dinilai telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pengakuan atas pencapaian seseorang, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan nilai dan teladan yang dapat dipelajari publik. Melalui penghargaan tersebut, PIKI berharap kisah para penerima mendorong lebih banyak orang mengambil peran positif di lingkungan masing-masing.

Ketua Umum DPP PIKI, Maruarar Sirait, menyampaikan bahwa penghargaan itu dimaksudkan untuk menghadirkan contoh keteladanan di tengah masyarakat. Menurutnya, sosok yang menerima apresiasi tidak semata-mata dikenal karena kedudukan atau popularitas, melainkan karena perjalanan, komitmen, dan sumbangsih yang telah diberikan. Pengakuan terhadap tokoh seperti itu diharapkan membuat publik melihat bahwa kontribusi bagi bangsa dapat dibangun melalui kerja yang konsisten dan tanggung jawab.

Maruarar juga menekankan bahwa menjadi tokoh yang membawa pengaruh tidak bisa ditempuh melalui jalan pintas. Ada proses panjang, perjuangan, dan pengorbanan yang harus dijalani sebelum seseorang dapat memberikan dampak berarti. Karena itu, keteladanan yang tumbuh dari pengalaman dan kerja nyata dinilainya lebih kuat daripada sekadar pidato. Perkataan dapat menyampaikan gagasan, tetapi tindakan yang bertahan dalam berbagai tantangan menunjukkan komitmen sekaligus memberi contoh yang lebih mudah diteladani.

Harapan PIKI tidak berhenti pada penghormatan kepada para penerima penghargaan. Organisasi ini juga ingin mendorong lahirnya lebih banyak tokoh yang berjuang untuk kepentingan publik, termasuk di bidang antikorupsi, pendidikan, dan lingkungan. Kehadiran figur yang konsisten pada bidang-bidang tersebut penting agar masyarakat memiliki rujukan nyata ketika menghadapi persoalan bersama. Dengan memberi ruang bagi kisah perjuangan para tokoh, PIKI Awards diharapkan menumbuhkan inspirasi, memperkuat semangat pengabdian, serta mengajak generasi berikutnya untuk membangun dampak positif melalui ketekunan dan tindakan konkret.

Maruarar menegaskan bahwa PIKI terbuka bagi berbagai kalangan yang ingin berkontribusi dalam kehidupan organisasi dan masyarakat. Menurutnya, PIKI bukan ruang terbatas bagi kelompok atau profesi tertentu, melainkan wadah bersama yang dapat dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang serta keahlian beragam. Keterbukaan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan.

Ia mengajak intelektual Kristen, dosen, aktivis, pengusaha, pendeta, serta para profesional dari bidang lain untuk bergabung dan ikut membangun PIKI. Maruarar mendorong seluruh anggota bekerja dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan bersedia mendengarkan pandangan yang berbeda. Dengan sikap itu, keragaman latar belakang dapat menjadi kekuatan, bukan penghalang untuk mencapai tujuan bersama. Ia juga menyampaikan bahwa anggota PIKI telah berkiprah di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, serta menjalankan peran di berbagai profesi. Luasnya kiprah tersebut menunjukkan adanya potensi besar yang dapat dihimpun untuk memberi manfaat lebih luas.

Maruarar berharap PIKI terus berkembang, semakin berdampak, dan menjadi terang bagi lingkungan sekitarnya. Harapan itu sejalan dengan ajakan untuk melibatkan lebih banyak orang dalam kerja organisasi dan memperkuat kontribusi para anggotanya di tengah masyarakat. Dalam acara yang sama, sejumlah tokoh dan lembaga lain juga menerima penghargaan. Abidin Wakano mendapat penghargaan sebagai tokoh toleransi, sedangkan Carina Citra Dewi Joe menerima penghargaan tokoh riset dan inovasi. Lie Agustinus Dharmawan dianugerahi penghargaan tokoh kesehatan, dan Saptoyo sebagai tokoh lingkungan hidup. Gusti Ngurah Anom mendapat penghargaan tokoh pemberdayaan UMKM, sementara Saur Marlina Manurung menerima penghargaan tokoh pendidikan. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memperoleh apresiasi sebagai yayasan filantropi, dan Gugun Gumilar menerima apresiasi sebagai penggiat kebebasan beribadah. Adapun almarhum Artidjo Alkostar menerima award sebagai tokoh pegiat antikorupsi. Deretan penerima tersebut mencerminkan pengakuan atas kiprah di berbagai bidang kehidupan.

Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Silaturahmi Kepada Keluarga Besar Tentara Nasional Indonesia, Bentuk Penghargaan dalam memaknai HUT ke-81 TNI | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

banner 325x300