banner 728x250
Polri  

Tanpa Sirene dan Razia, Polantas Menyapa Hadirkan Wajah Baru Kepolisian

banner 120x600
banner 468x60

Tuban, Jawa Timur — Pagi di Kabupaten Tuban berlangsung seperti biasanya. Namun bagi sebagian warga, ada suasana berbeda yang mereka rasakan. Bukan berasal dari cuaca atau aktivitas pasar, melainkan dari kehadiran polisi lalu lintas yang datang tanpa sirene, tanpa peluit, dan tanpa sikap menghakimi.

Melalui program Polantas Menyapa, jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tuban menyambangi desa-desa dan pasar tradisional. Kehadiran mereka bukan untuk melakukan penindakan atau razia, melainkan membuka ruang komunikasi langsung dengan masyarakat. Pendekatan ini menjadi upaya untuk mengubah pola relasi lama antara aparat dan warga—dari hubungan yang kerap formal dan berjarak menjadi dialog yang setara dan terbuka.

banner 325x300

Dalam pelaksanaannya, tidak tampak sekat formal antara petugas dan masyarakat. Di sebuah pos pelayanan sederhana, seorang petani bercaping terlihat duduk sejajar dengan anggota polisi berseragam. Di lokasi lain, seorang ibu rumah tangga dengan tenang menanyakan prosedur pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM). Tidak ada ketegangan, tidak ada kecemasan, dan tidak terdengar nada tinggi dalam percakapan.

“Bapak, Ibu, santai saja. Kami di sini untuk membantu, bukan mempersulit,” ujar salah satu petugas kepada warga.

Kalimat sederhana tersebut menjadi pembuka dialog yang efektif. Di tengah pengalaman publik yang selama ini sering diwarnai rasa canggung dan takut saat berurusan dengan aparat, pendekatan seperti ini dinilai mampu meruntuhkan jarak psikologis antara polisi dan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, layanan administrasi kendaraan—mulai dari SIM, pajak kendaraan, hingga pengurusan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB)—kerap dipersepsikan rumit dan menegangkan. Melalui Polantas Menyapa, persepsi tersebut perlahan diubah. Di pasar tradisional, petugas membagikan brosur edukasi pajak kendaraan dan menjelaskan prosedur dengan bahasa yang sederhana, tanpa tekanan dan tanpa ancaman.

“Biasanya kami takut bertanya. Sekarang jadi paham,” ujar seorang pedagang sayur usai berdialog dengan petugas.

Tidak hanya menyampaikan informasi teknis, para petugas juga menghadirkan rasa dihargai bagi masyarakat—sebuah nilai mendasar yang sering kali terabaikan dalam pelayanan publik.

Bagi warga yang baru membeli sepeda motor, penjelasan mengenai tahapan pengambilan BPKB menjadi kelegaan tersendiri. Proses dijabarkan secara runtut dan perlahan, tanpa nada menggurui.

“Kami tidak ingin masyarakat bingung atau takut salah. Polisi harus hadir memberi kepastian,” kata salah satu anggota Satlantas Polres Tuban.

Kasat Lantas Polres Tuban, AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie, S.Tr.K., S.I.K., menegaskan bahwa Polantas Menyapa bukan kegiatan simbolik atau seremonial semata. Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kepolisian dalam membangun kepercayaan publik.

“Kami ingin masyarakat merasakan polisi sebagai sahabat. Tidak ada rasa takut, tidak ada kebingungan. Polisi harus hadir, membumi, dan menemani,” tegasnya.

Pernyataan tersebut tidak berhenti sebagai slogan. Kehadiran langsung petugas di desa, pasar, dan ruang publik menjadi bukti nyata dari komitmen tersebut.

Melalui Polantas Menyapa, Polres Tuban menghadirkan wajah lain kepolisian—lebih humanis, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat. Program ini tidak semata berbicara tentang tertib berlalu lintas, tetapi juga tentang membangun rasa aman, menumbuhkan kepercayaan, dan menghadirkan negara tanpa jarak.

Langkah sederhana ini membawa dampak signifikan. Polisi tak lagi dipandang sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai mitra yang siap mendengar dan membantu. Dari desa-desa di Tuban, tumbuh harapan bahwa pelayanan publik yang menyentuh hati bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan ketika negara benar-benar hadir di tengah warganya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *