Jakarta | Ketua Umum Pengurus Besar Komunitas Aktivis Muda Indonesia (PB KAMI), Sultoni, menyerukan gerakan tobat nasional sebagai tanggapan atas berbagai bencana yang melanda Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Seruan tersebut disampaikan di Jakarta pada Sabtu. Ia memandang kejadian-kejadian itu sebagai pengingat bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan lingkungan serta cara bangsa merespons risiko bencana.
Menurut Sultoni, rangkaian bencana dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan introspeksi. Ajakan bertobat dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai refleksi keagamaan, tetapi juga dorongan untuk memperbaiki perilaku dan tanggung jawab bersama. Kesadaran tersebut perlu tercermin dalam tindakan sehari-hari, termasuk menjaga alam, mematuhi aturan, dan menghindari kegiatan yang dapat memperbesar ancaman kebakaran maupun kerusakan lingkungan.
Ia juga menekankan perlunya penguatan penanganan bencana melalui langkah konkret. Upaya itu mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons yang terkoordinasi, serta pemulihan bagi masyarakat terdampak. Pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas keagamaan, dunia usaha, dan warga memiliki peran masing-masing dalam mengurangi risiko. Penanganan yang terencana dan berkelanjutan dinilai penting agar respons tidak terbatas pada saat bencana terjadi, tetapi juga menyasar penyebab dan kerentanan yang dapat ditangani lebih awal.
Pendekatan religius, sebagaimana gagasan gerakan tobat nasional, dapat berjalan berdampingan dengan kerja teknis dan kebijakan publik. Nilai kepedulian, amanah, dan tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan dapat mendorong partisipasi yang lebih luas. Namun, seruan moral perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan program yang nyata, misalnya menjaga kawasan rawan, menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan mendukung upaya pencegahan. Dengan menggabungkan refleksi spiritual, kepedulian lingkungan, dan kesiapan menghadapi bencana, berbagai unsur masyarakat dapat memperkuat ikhtiar bersama dalam melindungi warga dan wilayah Indonesia.Sultoni meminta Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah mengerahkan upaya maksimal dalam menghadapi persoalan kebencanaan. Dorongan tersebut menegaskan perlunya perhatian serius dan tindakan yang terarah, baik ketika bencana terjadi maupun sebelum risiko berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. Pemerintah, menurut seruan itu, perlu memastikan bahwa kebijakan yang disusun benar-benar mendukung kesiapsiagaan, mengurangi dampak, dan memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi keadaan darurat. Dengan demikian, penanganan bencana tidak semata menjadi respons sesaat, melainkan bagian dari ikhtiar berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak.
Upaya tersebut juga memerlukan koordinasi lintas sektor. Persoalan kebencanaan memiliki kaitan dengan banyak bidang, sehingga kerja pemerintah perlu terhubung dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi yang kuat dapat membantu menyelaraskan kebijakan, pembagian peran, serta langkah penanganan di lapangan. Sultoni menekankan pentingnya langkah strategis dalam mitigasi dan penanggulangan bencana, termasuk mempersiapkan tindakan sebelum risiko muncul dan merespons keadaan secara tepat ketika bencana berlangsung. Pendekatan yang terencana diharapkan membuat upaya pemerintah lebih efektif, sekaligus menjaga agar kepentingan masyarakat dan keselamatan warga menjadi perhatian utama.
Namun, perhatian Sultoni tidak berhenti pada aspek teknis dan kebijakan. Ia mengingatkan bahwa ikhtiar menghadapi bencana perlu berjalan beriringan dengan doa, introspeksi diri, dan kepedulian terhadap lingkungan. Doa dan refleksi dapat menjadi pengingat untuk menyikapi musibah dengan sikap yang bijaksana, sementara introspeksi mendorong semua pihak menilai kembali perilaku dan keputusan yang berpengaruh terhadap alam. Kepedulian lingkungan, pada saat yang sama, merupakan bagian penting dari upaya mengurangi kerentanan. Pesan tersebut menempatkan tanggung jawab pemerintah dan kesadaran masyarakat sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Kebijakan, koordinasi, mitigasi, dan penanggulangan tetap diperlukan, tetapi hasilnya akan lebih bermakna apabila disertai sikap yang menghargai lingkungan dan komitmen bersama untuk menjaga kehidupan. Seruan kepada Presiden itu karena itu memadukan langkah nyata menghadapi risiko dengan nilai spiritual serta tanggung jawab ekologis, tanpa menganggap salah satunya dapat menggantikan yang lain.
Sultoni meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertimbangkan seruan pelaksanaan salat istisqa di berbagai daerah yang tengah menghadapi kekeringan. Salat ini merupakan ikhtiar spiritual umat Islam untuk memohon turunnya hujan kepada Allah, terutama ketika sumber air menyusut dan dampak musim kering semakin dirasakan masyarakat. Menurutnya, seruan tersebut relevan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meluas apabila kondisi kering terus berlangsung. Upaya menghadapi bencana, kata Sultoni, tidak hanya dilakukan melalui langkah teknis dan kesiapsiagaan, tetapi juga dapat disertai doa serta penguatan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ia berharap MUI dapat menyampaikan anjuran secara bijaksana, dengan memperhatikan keadaan setiap wilayah dan kebutuhan warga yang terdampak.
Pelaksanaan salat istisqa, lanjut Sultoni, juga dapat menjadi ruang kebersamaan bagi umat Islam. Warga berkumpul, berdoa, dan saling menguatkan di tengah situasi yang menimbulkan kecemasan, sekaligus mengingatkan bahwa ikhtiar menghadapi kekeringan membutuhkan kepedulian bersama. Kebersamaan itu diharapkan berkembang menjadi kesadaran untuk menjaga alam, bukan sekadar muncul ketika bencana terjadi. Ia menilai hubungan manusia dan lingkungan perlu diperhatikan dalam menghadapi ancaman karhutla maupun persoalan ekologis lainnya. Karena itu, permohonan hujan sebaiknya berjalan seiring dengan tindakan nyata untuk mencegah kerusakan lingkungan, seperti menghindari pembakaran lahan dan menjaga kawasan hutan. Nilai keagamaan, menurut pandangan tersebut, dapat mendorong umat untuk memperlakukan alam secara bertanggung jawab dan tidak merugikan sesama.
Sultoni turut mengajak ulama dan tokoh agama di seluruh Indonesia menyerukan tobat nasuha serta muhasabah kepada masyarakat. Ajakan itu mencakup introspeksi atas perilaku, kesediaan memperbaiki kesalahan, dan upaya meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap umat tidak hanya memohon pertolongan, tetapi juga membangun sikap yang lebih baik terhadap lingkungan dan sesama. Dalam pandangannya, pertobatan dan perbaikan perilaku merupakan bagian dari ikhtiar moral ketika bangsa menghadapi ancaman bencana. Para pemuka agama dapat menyampaikan pesan tersebut dengan bahasa yang meneduhkan, tanpa menyalahkan kelompok tertentu atau mengabaikan langkah penanganan yang diperlukan. Melalui doa, refleksi, serta tindakan yang bertanggung jawab, masyarakat diajak memohon ampun kepada Allah agar Indonesia dijauhkan dari bencana dan berbagai mara bahaya.
Sultoni menegaskan bahwa gerakan tobat nasional tidak cukup berhenti pada seruan dan doa. Keduanya penting sebagai pengingat dan ikhtiar batin, tetapi perlu disertai tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menghadapi ancaman bencana, kepedulian tidak dapat dibatasi pada respons setelah musibah terjadi. Upaya menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam juga merupakan bagian dari tanggung jawab bersama yang perlu dijalankan secara konsisten.
Menurut Sultoni, menjaga lingkungan berarti memahami bahwa kondisi alam berkaitan dengan keselamatan masyarakat. Karena itu, setiap pihak diharapkan turut mencegah tindakan yang merusak alam serta mendukung upaya perlindungan lingkungan. Tanggung jawab tersebut bukan hanya milik pemerintah atau kelompok tertentu. Masyarakat luas juga memiliki peran melalui kepedulian, sikap bertanggung jawab, dan kesediaan untuk mengambil bagian dalam ikhtiar menghadapi risiko bencana.
Perhatian terhadap warga yang terdampak bencana menjadi unsur lain yang tidak boleh diabaikan. Kepedulian perlu diwujudkan dengan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Dengan demikian, ajakan bertobat tidak berhenti sebagai ungkapan, melainkan mendorong perubahan sikap serta tindakan sosial. Dukungan kepada sesama dan perhatian pada lingkungan dapat berjalan beriringan dalam upaya membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman.
Sultoni berharap sinergi pemerintah, ulama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat luas dapat memperkuat upaya menghadapi bencana. Kerja bersama antarpihak diperlukan agar kepedulian dan ikhtiar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Baca juga: Polisi Pastikan Laporan WNA Austria di Pulau Kawe Masih Didalami, Pemeriksaan Saksi dan Barang Bukti Berjalan Sesuai Prosedur | Hari Kedua Pemulihan Pasca Kebakaran, Satgas Yonif 2 Marinir Bersama Warga Bersihkan Puing dan Pasang Pagar Pengaman | Wujudkan Lingkungan Sehat, Babinsa Posramil Selopuro Gotong Royong Bangun MCK Warga















