banner 728x250

Rocky Gerung Tekankan Hak Mahasiswa Berbicara Tanpa Meminta Izin

Rocky Gerung Tekankan Hak Mahasiswa Berbicara Tanpa Meminta Izin
banner 120x600
banner 468x60

Medan | Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Rocky Gerung, berdebat dengan Muhammad Ade Ikhsani, presiden mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed), dalam sebuah forum di Sumatera Utara pada Jumat, 23 Oktober 2026. Perdebatan itu bermula ketika Ade meminta izin sebelum mengajukan pertanyaan kepada Rocky. Momen tersebut kemudian menjadi pokok perhatian karena memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai cara mahasiswa menyampaikan pertanyaan dan menggunakan hak berbicara di ruang diskusi.

Permintaan izin dari Ade menjadi titik awal percakapan yang berkembang menjadi perdebatan. Dalam forum itu, persoalan yang muncul bukan semata-mata isi pertanyaan, tetapi juga apakah mahasiswa perlu meminta persetujuan terlebih dahulu untuk berbicara. Situasi tersebut memberi gambaran tentang dinamika peserta forum dan narasumber, terutama ketika seorang mahasiswa ingin menyampaikan pandangan atau meminta penjelasan secara langsung. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci isi pertanyaan Ade maupun seluruh rangkaian percakapan setelah permintaan izin tersebut.

banner 325x300

Peristiwa ini relevan dengan pembahasan mengenai ruang dialog di lingkungan kampus dan forum publik. Mahasiswa kerap hadir sebagai peserta yang menyampaikan pertanyaan, kritik, atau pandangan, sementara narasumber memberikan tanggapan berdasarkan posisi dan pemikirannya. Dalam konteks itu, cara memulai interaksi dapat ikut membentuk jalannya diskusi. Permintaan izin sebelum berbicara bisa dipahami sebagai bentuk kesantunan, tetapi pertukaran di forum tersebut juga mengangkat pertanyaan tentang sejauh mana mahasiswa memiliki keleluasaan untuk berbicara tanpa terlebih dahulu meminta izin.

Perdebatan Rocky dan Ade dengan demikian berawal dari tindakan sederhana: seorang presiden mahasiswa meminta izin untuk bertanya. Dari awal yang singkat itu, perhatian beralih pada hak mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan dalam sebuah forum. Lokasi yang disebutkan dalam bahan adalah Sumatera Utara, tanpa keterangan tempat yang lebih spesifik. Rincian yang terbatas ini membuat pokok peristiwanya tetap jelas, yakni pertemuan Rocky Gerung dan presiden mahasiswa Unimed serta perbedaan pandangan yang muncul setelah Ade meminta izin sebelum berbicara.

Ade membuka percakapan dengan menceritakan pengalaman yang terjadi pada Juni 2026, ketika ia bersama sejumlah rekan hendak menggelar aksi demonstrasi. Sebelum turun menyampaikan aspirasi, kelompok tersebut lebih dahulu bertemu dengan aparat. Dalam pertemuan itu, menurut penuturan Ade, mereka menghadapi upaya untuk mengondisikan kelompoknya menjelang pelaksanaan aksi. Ade menyampaikan latar tersebut sebagai pengantar, bukan sebagai inti pertanyaan yang langsung ia ajukan kepada Rocky Gerung. Cerita itu memberi konteks tentang situasi yang dihadapi para peserta sebelum demonstrasi berlangsung dan menjelaskan mengapa persoalan kebebasan berbicara menjadi relevan dalam percakapan mereka.

Ade kemudian menegaskan bahwa kelompoknya tetap melaksanakan aksi sesuai rencana. Keputusan itu menjadi bagian penting dari kisah yang ia sampaikan: meskipun sebelumnya telah bertemu aparat dan menerima upaya pengondisian, mereka tidak membatalkan kegiatan yang telah disiapkan. Ade tidak merinci dalam pengantar tersebut bentuk atau isi upaya pengondisian itu. Karena itu, pengalaman tersebut dapat dipahami sebatas sebagaimana ia paparkan, yakni adanya pertemuan dengan aparat sebelum aksi dan pilihan untuk tetap menjalankan demonstrasi. Rangkaian ini menyusun konteks bagi pertanyaan yang akan diajukan kepada Rocky, sekaligus memperlihatkan bahwa pembicaraan berangkat dari pengalaman langsung terkait penyampaian aspirasi.

Setelah menuturkan pengalaman itu, Ade mulai mengarahkan pembicaraan kepada Rocky. Ia mengawali pertanyaannya dengan meminta izin untuk bertanya. Ungkapan tersebut terdengar sebagai bentuk kesopanan dalam percakapan, tetapi juga menghadirkan kontras dengan pokok persoalan yang sedang dibicarakan: apakah mahasiswa perlu meminta izin untuk menyampaikan pendapat. Susunan pengantar Ade membuat pertanyaan itu tidak muncul secara terpisah, melainkan bertolak dari pengalaman kelompoknya menjelang aksi. Dengan demikian, kisah tentang pertemuan dengan aparat, upaya pengondisian, dan keputusan untuk tetap berdemonstrasi menjadi landasan bagi dialog berikutnya mengenai hak mahasiswa berbicara. Ade memperkenalkan situasi terlebih dahulu, lalu memberikan ruang kepada Rocky untuk menanggapi pertanyaan yang disampaikan.

Ketika Ade membuka pertanyaannya dengan ungkapan meminta izin, Rocky Gerung menyela dan memintanya berhenti sejenak. Respons itu muncul langsung dalam percakapan, tepat setelah cara Ade mengawali pertanyaan tersebut. Rocky kemudian menyampaikan bahwa ia tidak akan memberi izin apabila Ade memang sedang meminta izin kepadanya. Dengan demikian, tanggapan Rocky merujuk pada ungkapan yang digunakan Ade saat hendak bertanya, bukan pada pertanyaan yang belum disampaikan secara keseluruhan. Urutan ini penting untuk memahami konteks respons: Ade menggunakan ungkapan meminta izin, Rocky menghentikan sejenak, lalu ia menanggapi permintaan itu secara langsung. Pokok kejadian tersebut berada pada cara pembukaan pertanyaan, bukan pada pelarangan berbicara.

Pernyataan Rocky dapat dipahami dalam batas konteks percakapan itu. Ia tidak memberi izin karena Ade menyampaikan pembuka dalam bentuk permohonan izin, dan Rocky menjawab bentuk permohonan tersebut. Responsnya tidak disampaikan sebagai larangan umum agar mahasiswa tidak berbicara atau bertanya. Perbedaan ini menjaga makna peristiwa tetap sesuai dengan rangkaian yang diceritakan: yang ditanggapi Rocky ialah ungkapan meminta izin yang dipakai Ade, bukan hak Ade atau mahasiswa lain untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, kalimat Rocky perlu ditempatkan sebagai tanggapan terhadap cara Ade memulai pertanyaan. Membacanya sebagai larangan berbicara secara luas akan mengubah sasaran respons yang dijelaskan dalam kejadian tersebut.

Dalam momen itu, Rocky meminta Ade berhenti sejenak sebelum menyatakan bahwa ia tidak akan memberi izin jika memang izin sedang diminta. Susunan respons tersebut menghubungkan jawabannya dengan ungkapan Ade, sehingga inti yang dapat dipastikan adalah penolakan untuk memberi izin dalam situasi permintaan itu. Tidak perlu menambahkan maksud lain di luar konteks tersebut. Ade membuka pertanyaan dengan meminta izin; Rocky menyela; kemudian ia menjelaskan jawabannya terhadap permintaan itu. Dengan menjaga urutan dan sasaran tanggapan, peristiwa ini dapat disampaikan tanpa mengubahnya menjadi larangan bagi mahasiswa untuk berbicara. Fokusnya tetap pada pilihan ungkapan pembuka yang digunakan Ade dan respons Rocky terhadap pilihan tersebut dalam percakapan itu.

Rocky Gerung menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pendapat dalam forum ilmiah tanpa terlebih dahulu meminta izin. Menurutnya, berbicara dan bertanya merupakan bagian dari kebebasan akademik yang melekat pada kegiatan ilmiah. Karena itu, kesempatan untuk menyampaikan pandangan tidak semestinya diperlakukan sebagai sesuatu yang hanya dapat diberikan setelah seseorang memperoleh persetujuan atau menunggu dipersilakan. Dalam forum semacam itu, mahasiswa dapat terlibat secara langsung melalui pertanyaan dan pendapat yang relevan dengan pembahasan.

Ia menekaskan pandangan tersebut dengan membedakan forum ilmiah dari forum yang memiliki tata hubungan komando atau feodal. Rocky menyatakan bahwa forum itu bukan forum tentara dan bukan pula forum feodal. Perbandingan tersebut digunakan untuk menerangkan alasan mahasiswa tidak perlu menempatkan dirinya dalam posisi menunggu izin untuk berbicara. Menurut penjelasannya, suasana forum ilmiah semestinya memungkinkan peserta mengutarakan pertanyaan atau gagasan secara terbuka, bukan membatasi partisipasi berdasarkan pola kepatuhan seperti dalam lingkungan militer atau hierarki feodal. Hak untuk berbicara itu, dalam penekanannya, berlaku bagi mahasiswa yang ingin berpartisipasi dalam diskusi.

Dengan demikian, Rocky menegaskan bahwa mahasiswa dapat berbicara tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia kemudian mempersilakan mahasiswa lain untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan dengan cara yang sama, yakni langsung berbicara tanpa meminta izin. Pernyataan itu memperjelas bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu persetujuan khusus sebelum mengambil bagian dalam forum ilmiah. Pesan yang disampaikan Rocky berpusat pada hak mahasiswa untuk bertanya dan berbicara serta pada karakter forum ilmiah yang berbeda dari forum tentara maupun forum feodal.

Baca juga: Mengoptimalkan Potensi Mahasiswa Baru di UMJ | Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Pria yang Berdiri di Pinggir Jalan | Aksi Mahasiswa UINSA Mengalihkan Akses Kampus

banner 325x300