banner 728x250

Pemuda Masjid Dunia dan Baznas Jajaki Kolaborasi Program Sosial

Pemuda Masjid Dunia dan Baznas Jajaki Kolaborasi Program Sosial
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Presiden Pemuda Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus, bertemu dengan jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus penjajakan awal untuk membangun kerja sama dalam program sosial. Said hadir bersama Sekretaris Jenderal Bustomi Mukhtar, Bendahara Umum Ali Kamal Smith, Wakil Presiden Alwi Muhdar, serta pengurus Sedek Bahta, Diesty, Marlini, Faradina, Liana Piliang, dan Shanaz. Kehadiran para pengurus mencerminkan perhatian organisasi terhadap peluang kolaborasi yang dapat memperluas manfaat bagi masyarakat.

Dalam pertemuan itu, Pemuda Masjid Dunia menyampaikan apresiasi atas berbagai program Baznas yang dinilai nyata dan bermanfaat. Apresiasi tersebut terutama ditujukan pada upaya memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pelayanan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Masjid dipandang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang yang dekat dengan kehidupan warga dan dapat membantu menjawab kebutuhan komunitas. Melalui penguatan peran tersebut, layanan sosial dapat menjangkau masyarakat secara lebih terarah, sementara kegiatan pendidikan dan ekonomi berpotensi memberi dukungan yang berkelanjutan.

banner 325x300

Silaturahmi ini membuka kesempatan bagi kedua pihak untuk menjajaki bentuk program yang sesuai dengan kapasitas dan jaringan masing-masing. Pemuda Masjid Dunia memiliki jejaring kepemudaan dan masjid, sedangkan Baznas menjalankan beragam program pengelolaan zakat serta pemberdayaan. Kesamaan perhatian pada manfaat sosial menjadi landasan untuk membahas kemungkinan sinergi, tanpa mengesampingkan kebutuhan masyarakat sebagai pertimbangan utama. Kerja sama yang dirancang secara tepat dapat membantu menghubungkan potensi masjid dengan program sosial yang telah berjalan, sekaligus mendorong partisipasi generasi muda dalam kegiatan kemasyarakatan.

Pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya komunikasi dan koordinasi sebelum gagasan kolaborasi diwujudkan. Pembahasan lanjutan dapat membantu menentukan prioritas, sasaran penerima manfaat, serta bentuk kegiatan yang realistis dan terukur. Dengan begitu, penjajakan tidak berhenti pada pertukaran pandangan, tetapi dapat menjadi dasar bagi rencana yang jelas apabila disepakati bersama. Apresiasi Pemuda Masjid Dunia terhadap kiprah Baznas sekaligus menunjukkan peluang untuk memperkuat kontribusi masjid dalam menjawab persoalan sosial secara inklusif, melalui pendekatan yang melibatkan lembaga, pengurus masjid, pemuda, dan masyarakat.Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menekankan bahwa kemitraan dengan berbagai pihak diperlukan agar program sosial dapat berkembang dan menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan. Menurutnya, upaya mengatasi persoalan sosial tidak dapat hanya bergantung pada satu lembaga. Kolaborasi memungkinkan sumber daya, jaringan, dan keahlian mitra dihimpun untuk merancang kegiatan yang lebih tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan dan keluarga kurang mampu.

Manfaat kerja sama, dalam pandangannya, perlu terlihat secara langsung dalam kehidupan penerima program. Karena itu, kegiatan yang dijalankan sebaiknya menjawab kebutuhan nyata masyarakat, bukan berhenti pada koordinasi antarlembaga. Dukungan mitra dapat membantu memperluas jangkauan pelayanan, memperkuat pendampingan, serta mendorong pemanfaatan potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, kelompok yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun akses layanan diharapkan memperoleh dukungan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Sodik juga menyampaikan harapan agar kerja sama dapat memperluas fungsi masjid. Selain menjadi tempat ibadah, masjid dapat berperan sebagai ruang pelayanan dan pemberdayaan umat. Peran ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial yang mendekatkan bantuan kepada warga, sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan kapasitas dan kemandirian. Masjid memiliki kedekatan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dapat menjadi titik penting untuk mengenali kebutuhan warga dan menghubungkan mereka dengan program yang relevan.

Dalam konteks itu, Pemuda Masjid Dunia dinilai berpeluang turut mendukung agenda Baznas. Jaringan dan keterlibatan pemuda dapat memperkuat pelaksanaan kegiatan di lingkungan masjid serta mendorong partisipasi masyarakat. Kolaborasi tersebut berpotensi menggabungkan kapasitas lembaga zakat dengan energi dan kedekatan komunitas pemuda terhadap umat. Sodik berharap penjajakan kerja sama dapat berkembang menjadi program yang memberi manfaat konkret, terutama bagi masyarakat rentan dan kurang mampu. Dengan demikian, masjid dapat semakin aktif menjalankan fungsi sosialnya, sementara kemitraan menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pelayanan dan pemberdayaan umat secara bertanggung jawab.

Said memaparkan sejumlah inisiatif sosial yang telah berjalan dan menyatakan bahwa program-program tersebut terbuka untuk disinergikan lebih lanjut dengan Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (Baznas RI). Kolaborasi diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan, memperkuat pelaksanaan kegiatan, serta memastikan dukungan menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan. Beragam program yang disampaikan mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan bagi pekerja rentan, hingga aksi kemanusiaan lintas negara.

Salah satu inisiatif tersebut adalah Rumah Terang, yang memberikan bantuan penerangan bagi masyarakat yang memerlukan akses terhadap sumber cahaya. Program ini berupaya mendukung kegiatan sehari-hari warga, terutama ketika penerangan menjadi kebutuhan penting di lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat upaya membantu penyediaan akses air bersih. Ketersediaan air yang layak dibutuhkan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan kesehatan, sehingga dukungan pada bidang ini dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat penerima.

Inisiatif lainnya berupa penyaluran sembako kepada fakir miskin untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan. Said juga menjelaskan adanya program perlindungan bagi pekerja rentan, sebagai bentuk perhatian terhadap kelompok yang menghadapi ketidakpastian dalam pekerjaan dan penghidupan. Dukungan turut diberikan kepada pengemudi yang bertugas membersihkan masjid. Bantuan bagi kelompok ini menjadi bagian dari perhatian terhadap orang-orang yang menjalankan pekerjaan penting bagi kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah, tetapi mungkin memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di luar kegiatan di dalam negeri, misi kemanusiaan yang dipaparkan juga menjangkau Palestina dan sejumlah negara Asia Tenggara, yaitu Kamboja, Thailand Selatan, dan Vietnam. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan sosial yang ditawarkan tidak hanya berfokus pada satu wilayah atau jenis bantuan. Menurut pemaparan Said, berbagai inisiatif yang telah berjalan itu dapat menjadi ruang kerja sama dengan Baznas RI. Sinergi dapat diarahkan sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing pihak, dengan perhatian pada kelompok penerima manfaat serta keberlanjutan pelaksanaan program. Dengan demikian, pengalaman yang telah terbentuk melalui kegiatan tersebut berpotensi mendukung upaya bersama dalam memperluas bantuan sosial dan kemanusiaan secara terarah.

Salah satu usulan utama yang disampaikan Said adalah program Masjid Peduli Kemiskinan. Gagasan ini menempatkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat koordinasi bantuan sosial bagi warga di lingkungan sekitarnya. Dengan memanfaatkan kedekatan pengurus masjid dengan masyarakat, kebutuhan keluarga yang memerlukan dukungan dapat dikenali dan ditangani secara lebih terarah. Masjid diharapkan menjadi penghubung warga, relawan, dan pihak-pihak yang dapat menyediakan bantuan, sekaligus memastikan dukungan menjangkau penerima yang tepat.

Program tersebut mencakup pembentukan bank pangan untuk menghimpun dan mengelola bahan makanan yang dapat dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran kebutuhan pokok direncanakan berdasarkan pendataan penerima manfaat, sehingga bantuan dapat disesuaikan dengan kondisi warga dan diberikan secara tertib. Pendataan juga dapat membantu pengurus memahami perubahan kebutuhan dari waktu ke waktu serta menghindari penyaluran yang tidak merata. Selain bantuan langsung, usulan ini mencakup pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan masjid. Kegiatan pemberdayaan dapat dirancang sesuai potensi dan kebutuhan setempat, dengan tujuan membuka kesempatan bagi warga untuk memperkuat penghidupan mereka. Melalui pendekatan tersebut, peran sosial masjid tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi turut mendukung upaya warga membangun kemandirian ekonomi.

Said juga mengusulkan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar keterbatasan ekonomi tidak menghalangi mereka melanjutkan pendidikan.

Baca juga: Kolaborasi Strategis: Bank BJB dan MNC Finance Perkuat Posisi di Pasar Pembiayaan Kendaraan | Babinsa Koramil Bakung Bersama Siswa Siswi SMKN 1 Blitar Tanam Pohon Di Monumen Trisula Melalui Program “Bersatu Dengan Alam” | Program POLIRAN, Bripka Ristyanto Dorong Warga Cibadak Tingkatkan Keterampilan dan Produktivitas

banner 325x300