banner 728x250

Dari Perantauan ke Jalanan Jakarta: Kisah Hasan Syukur dan Kecelakaan di Blok M

Korban Ojol dalam Kecelakaan Beruntun di Panglima Polim Jalani Operasi
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Hasan Syukur, 56 tahun, yang juga dikenal dengan nama Agus, mengalami patah tulang kaki kiri setelah sepeda motor yang dikendarainya terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil BYD di sekitar Blok M, Jakarta. Peristiwa itu terjadi pada Jumat sore, 23 Oktober, ketika Hasan sedang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Kecelakaan tersebut berlangsung pukul 16.48 WIB dan melibatkan beberapa kendaraan di jalan yang sama.

Berdasarkan rangkaian kejadian yang dilaporkan, BYD yang dikemudikan pria berinisial S, berusia 46 tahun, lebih dahulu menabrak Honda Brio bernomor polisi B-2967-NGY. Brio itu melaju searah di depan BYD. Setelah benturan, Honda Brio oleng ke kiri dan kemudian menabrak Honda Beat bernomor polisi A-3867-DD yang dikendarai Hasan. Kendaraan lain, Wuling dengan nomor polisi B-1835-ERZ, juga ikut tertabrak dalam rangkaian tersebut.

banner 325x300

Peristiwa tidak berhenti di situ. Setelah menabrak sejumlah kendaraan di jalan, BYD naik ke trotoar dan menabrak dua mobil lain yang sedang terparkir. Urutan tabrakan itu menjelaskan bagaimana beberapa kendaraan di sekitar lokasi terdampak dalam satu insiden. Hasan, yang saat itu mengendarai Honda Beat untuk menjalankan pekerjaannya, mengalami cedera berupa patah tulang pada kaki kiri.

Kecelakaan tersebut terjadi saat Hasan tengah mencari nafkah sebagai pengemudi ojek online di kawasan Blok M. Informasi yang tersedia menyebutkan waktu kejadian, kendaraan-kendaraan yang terlibat, serta urutan benturan. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai penyebab kecelakaan ataupun kondisi pengemudi lain yang perlu ditambahkan. Dengan demikian, inti peristiwa yang diketahui adalah tabrakan beruntun yang melibatkan BYD, Honda Brio, Honda Beat yang dikendarai Hasan, Wuling, serta dua mobil yang sedang parkir, dan cedera kaki kiri yang dialami Hasan.

Keterangan Ewis Hildayani, 27 tahun, memberi gambaran tentang keluarga Hasan Syukur dan alasan Hasan berada di Jakarta. Menurut Ewis, ayahnya merantau dari Kabupaten Serang, Banten, ke ibu kota untuk bekerja dan menghidupi keluarga yang ditinggalkannya di kampung halaman. Keputusan itu membuat sebagian anggota keluarga menjalani kehidupan sehari-hari di Serang, sementara Hasan mencari penghasilan di Jakarta. Kisah tersebut memperlihatkan pembagian peran dalam keluarga mereka: Hasan merantau, sedangkan Ewis tetap tinggal di rumah ayahnya di daerah Ciomas bersama anak-anaknya.

Ewis tinggal di rumah tersebut bersama dua anak yang masing-masing berusia sembilan dan empat tahun. Rumah itu merupakan milik Hasan, ayah Ewis. Ia menjelaskan bahwa bangunan permanen sederhana yang kini ditempatinya merupakan hasil program bedah rumah Pemerintah Kabupaten Serang pada 2023. Keterangan mengenai program tersebut berasal dari Ewis, yang menyampaikan bahwa rumah keluarganya mendapat bantuan perbaikan melalui program pemerintah daerah. Rumah di Ciomas itu menjadi tempat tinggal Ewis dan kedua anaknya selama Hasan bekerja jauh dari keluarga. Tidak ada keterangan lain yang disampaikan mengenai keadaan rumah atau sumber penghasilan Ewis.

Suami Ewis, Eko, juga merantau ke Jakarta. Menurut Ewis, Eko berangkat bersama Hasan dan Rohayah, istri Hasan. Dengan demikian, Hasan tidak pergi seorang diri; istri dan menantu laki-lakinya turut berada di Jakarta. Sementara itu, Ewis dan kedua anaknya tetap tinggal di Ciomas, di rumah milik ayahnya. Rincian tersebut menjelaskan siapa saja anggota keluarga yang berada di masing-masing tempat tanpa menambahkan dugaan tentang keadaan mereka. Bagi Ewis, latar keluarga ini menjadi bagian penting untuk memahami kehidupan Hasan sebelum kecelakaan di Blok M. Ia memberikan keterangan tentang hubungan keluarga, tempat tinggal, serta keberangkatan mereka ke Jakarta. Peristiwa kecelakaan itu kemudian membawa perhatian pada keluarga yang menunggu di Serang, termasuk Ewis dan anak-anaknya.

Hasan Syukur telah merantau sejak Ewis, anaknya, masih kecil. Pada masa itu, Ewis tinggal bersama ibunya, sementara Hasan menjalani kehidupan dan pekerjaan di Jakarta. Setelah Ewis lulus sekolah, ibunya menyusul ke Jakarta. Urutan tersebut menggambarkan keluarga yang sempat menjalani kehidupan di tempat berbeda sebelum kemudian kembali berkumpul di ibu kota. Dalam perjalanan merantau itu, pekerjaan Hasan berubah seiring waktu, dari pekerjaan menjahit hingga menjadi pengemudi ojek online.

Sebelum menjadi pengemudi ojek online, Hasan pernah bekerja sebagai tukang jahit. Ia kemudian beralih profesi pada 2019, ketika mulai mencari nafkah dengan mengendarai ojek online. Pekerjaan itu menjadi sumber penghasilan yang ia gunakan untuk menopang keluarga. Menurut Ewis, Hasan juga kerap memberikan uang kepadanya dan kepada cucu-cucunya. Penghasilan dari jalanan Jakarta dengan demikian tidak hanya digunakan untuk kebutuhan Hasan sendiri, tetapi turut membantu anggota keluarganya.

Ewis menggambarkan ayahnya sebagai pekerja yang menjalani jam kerja panjang. Hasan mulai bekerja sejak pagi dan dapat terus bekerja hingga sekitar tengah malam. Dalam rentang waktu itu, ia berkeliling Jakarta untuk mencari penghasilan sebagai pengemudi ojek online. Ewis mengatakan bahwa selama bekerja, Hasan tidak pernah terdengar mengeluh. Keterangan tersebut memberi gambaran tentang upaya Hasan dalam mencari nafkah, tanpa menambahkan rincian mengenai rute, jumlah perjalanan, ataupun kondisi pekerjaan yang tidak disebutkan.

Di Jakarta Barat, Hasan mengontrak rumah di kawasan Jembatan Baru, Cengkareng. Informasi mengenai tempat tinggal itu melengkapi kisah kehidupannya sebagai perantau sekaligus pencari nafkah bagi keluarga. Peralihan dari tukang jahit menjadi pengemudi ojek online pada 2019 menandai babak berbeda dalam pekerjaannya. Namun, menurut cerita Ewis, tujuan kerjanya tetap berkaitan dengan dukungan bagi keluarga: ia bekerja sepanjang hari untuk memperoleh penghasilan dan kerap membagikannya kepada anak serta cucu-cucunya. Kronologi yang tersedia memperlihatkan perjalanan kerja Hasan melalui pekerjaan menjahit, lalu layanan ojek online, disertai peran yang terus ia jalankan untuk membantu keluarganya.Setelah menerima kabar bahwa Hasan Syukur mengalami patah tulang pada kaki kiri, Ewis menyampaikan harapannya agar pihak yang menabrak ayahnya bertanggung jawab. Baginya, perhatian utama keluarga saat itu adalah memastikan Hasan memperoleh perawatan dan dukungan yang dibutuhkan untuk menjalani proses pemulihan. Ewis berharap biaya yang diperlukan selama ayahnya dirawat hingga pulih dapat ditanggung oleh pihak yang menyebabkan kecelakaan tersebut.

Harapan itu disampaikan sebagai permintaan keluarga, bukan sebagai kepastian bahwa tanggung jawab tersebut telah dipenuhi. Ewis juga berharap penabrak menerima hukuman yang setimpal atas kejadian yang menimpa Hasan. Pernyataan tersebut mencerminkan keinginan keluarga agar persoalan ini ditangani secara bertanggung jawab, baik dalam hal kebutuhan pemulihan maupun pertanggungjawaban atas kecelakaan itu.

Di tengah kekhawatiran mengenai kondisi ayahnya, Ewis menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan apabila Hasan untuk sementara tidak dapat bekerja. Menurutnya, hal yang paling penting adalah kesehatan Hasan dapat kembali. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bagi keluarga, pemulihan ayahnya lebih utama daripada kemampuan untuk segera kembali mencari nafkah. Mereka berharap Hasan mendapat kesempatan untuk menjalani perawatan dan memulihkan diri, tanpa harus terbebani tuntutan untuk kembali bekerja sebelum kondisinya memungkinkan.

Ewis tidak menyampaikan bahwa seluruh biaya telah dibayarkan, bahwa proses pemulihan telah selesai, ataupun bagaimana hasil penanganan hukum atas kecelakaan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar pihak yang menabrak memenuhi tanggung jawab sampai Hasan pulih dan mendapat hukuman yang pantas. Pada akhirnya, sikap keluarga berpusat pada dua hal: kesehatan Hasan dan pertanggungjawaban atas kejadian itu. Ewis berharap ayahnya dapat kembali sehat, sementara pihak yang menabrak menjalani proses pertanggungjawaban yang semestinya. Harapan tersebut tetap menjadi permintaan keluarga, tanpa memastikan hasil yang belum diketahui.

Baca juga: Pemerintah DKI Jakarta Tindak Lanjuti Evaluasi Jalur Sepeda | Pengungkapan Baru Jaringan Narkoba di Jakarta dan Tangerang | Kesempatan Kerja di Jakarta: Job Fair 2026 Segera Digelar

banner 325x300