banner 728x250

Puluhan Siswa di Konawe Selatan Dirawat Usai Menyantap Menu MBG

Puluhan Siswa di Konawe Selatan Dirawat Usai Menyantap Menu MBG
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Konawe Selatan | Lebih dari 70 murid SD Negeri 4 Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan kesehatan pada Rabu pagi, 14 Oktober 2026. Para siswa tersebut sebelumnya menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di lingkungan sekolah. Setelah mengonsumsi makanan itu, sejumlah murid mulai merasakan gejala yang diduga berkaitan dengan menu MBG.

Keluhan yang dilaporkan meliputi sakit perut, diare atau buang air, serta pusing. Kondisi tersebut membuat para siswa memerlukan pemeriksaan dan penanganan di fasilitas kesehatan. Sebagian murid dibawa untuk mendapatkan perawatan setelah gejala muncul, sementara pihak terkait melakukan penanganan terhadap siswa yang terdampak.

banner 325x300

Peristiwa itu berlangsung pada pagi hari dan melibatkan puluhan peserta didik dari SD Negeri 4 Angata. Informasi mengenai kejadian tersebut menjadi perhatian karena keluhan muncul setelah siswa mengonsumsi menu MBG pada hari yang sama. Hingga tahap awal penanganan, gejala yang disebutkan adalah gangguan pada perut, buang air atau diare, dan pusing. Para murid yang mengalami keluhan kemudian diarahkan ke fasilitas kesehatan agar dapat menjalani pemeriksaan serta memperoleh perawatan sesuai kondisinya.

Para siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penanganan medis di Puskesmas Motaha, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan. Fasilitas kesehatan tersebut menjadi lokasi pertolongan bagi lebih dari 70 murid yang diduga mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut.

Petugas medis melakukan pemeriksaan terhadap setiap siswa untuk menilai kondisi dan menentukan tindakan yang diperlukan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 anak dinilai membutuhkan pemantauan lebih intensif. Mereka kemudian menjalani perawatan di puskesmas dan dipasangi infus untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan serta mendukung pemulihan kondisi tubuh.

Perawatan dengan infus diberikan kepada siswa yang memerlukan observasi lebih lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan petugas kesehatan. Selama berada di Puskesmas Motaha, para murid mendapatkan pengawasan medis secara berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan perubahan kondisi mereka dapat segera ditangani, terutama apabila muncul kembali keluhan seperti lemas, mual, muntah, atau gejala lain yang berkaitan dengan gangguan kesehatan setelah makan.

Sementara itu, siswa lainnya diperbolehkan pulang setelah menerima obat dan dinyatakan tidak memerlukan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan. Mereka tetap diharapkan beristirahat dan mendapat perhatian dari keluarga. Apabila keluhan berlanjut atau kondisi memburuk, keluarga dapat kembali membawa anak tersebut untuk memperoleh pemeriksaan medis.

Hingga Rabu siang, 28 anak yang sebelumnya dipasangi infus masih menjalani perawatan di Puskesmas Motaha. Kondisi para siswa tersebut dilaporkan mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis. Kendati demikian, petugas kesehatan tetap melakukan pemantauan untuk memastikan proses pemulihan berlangsung dengan baik sebelum mereka diperbolehkan meninggalkan puskesmas.

Guru SD Negeri 4 Angata, Juniar, menjelaskan bahwa para murid menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Makanan tersebut dikonsumsi di lingkungan sekolah sekitar pukul 10.00 pagi, setelah dibagikan kepada siswa sebagai bagian dari program penyediaan makanan. Pada saat menu disantap, belum disebutkan adanya keluhan yang langsung muncul secara bersamaan di para murid.

Berdasarkan keterangan Juniar, gejala mulai dirasakan beberapa jam kemudian, tepatnya pada malam hari setelah salat Magrib. Waktu munculnya keluhan itu menjadi bagian penting dalam kronologi kejadian, karena gangguan kesehatan tidak dilaporkan terjadi segera ketika makanan dibagikan atau saat siswa masih mengikuti kegiatan di sekolah. Sejumlah murid kemudian mengeluhkan sakit perut dan mengalami buang air. Ada pula siswa yang dilaporkan merasakan pusing.

Keluhan tersebut selanjutnya membuat sebagian siswa memerlukan pemeriksaan dan perawatan. Kondisi yang dialami para murid disebut berlangsung setelah mereka mengikuti kegiatan belajar dan kembali ke rumah masing-masing. Perbedaan waktu konsumsi makanan pada pagi hari dan munculnya gejala pada malam hari juga perlu dicatat dalam penelusuran kejadian.

Keterangan mengenai waktu makan dan munculnya keluhan itu belum dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat menu MBG dan kondisi kesehatan para siswa. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk penilaian tenaga medis serta penyelidikan terhadap makanan dan faktor lain yang mungkin berpengaruh. Karena itu, informasi mengenai MBG dalam kronologi ini masih ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang sedang ditelusuri, bukan sebagai penyebab yang telah dipastikan.

Juniar memberikan keterangan mengenai urutan waktu para siswa menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan munculnya keluhan kesehatan setelah itu. Saat dikonfirmasi pada Rabu, 14 Oktober 2026, ia menyampaikan bahwa para murid mengonsumsi menu MBG pada Selasa pagi ketika mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Menurut Juniar, keluhan tidak langsung muncul pada saat makanan disantap. Pada malam harinya, sejumlah siswa mulai mengalami sakit perut. Keluhan tersebut kemudian disertai buang air dan pusing. Gejala yang dirasakan para murid menjadi perhatian pihak sekolah karena muncul setelah mereka mengikuti kegiatan dan menyantap menu MBG pada pagi sebelumnya.

Juniar menyampaikan informasi tersebut sebagai gambaran mengenai waktu konsumsi makanan dan waktu ketika gangguan kesehatan mulai dirasakan. Keterangan itu diberikan saat kondisi para siswa masih mendapatkan penanganan. Tidak ada keterangan tambahan mengenai hasil pemeriksaan maupun penyebab pasti dari keluhan yang dialami para murid.

Pada Rabu siang, sebanyak 28 murid masih menjalani perawatan. Berdasarkan kondisi terakhir yang disampaikan, para siswa tersebut dilaporkan mulai membaik. Mereka tetap berada dalam pemantauan selama menjalani perawatan, sementara informasi mengenai perkembangan berikutnya masih menunggu keterangan lebih lanjut dari pihak terkait.

Baca juga: Unit Resmob Polres Sorong Selatan Amankan Dua Terduga Pelaku Pencurian | Dampak Kelangkaan BBM Terhadap Distribusi Pangan di Sulawesi Selatan | Temukan 5 Kafe Ekonomis untuk Hangout di Jakarta Selatan

banner 325x300