banner 728x250

Kemarau Panjang Tekan Pasokan Pakan dan Peternak di Bandung Barat

Dampak Kemarau Terhadap Sektor Peternakan di Bandung Barat
banner 120x600
banner 468x60

BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kemarau panjang mulai menyulitkan peternak di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejak Juni hingga Juli 2026, ketersediaan hijauan pakan ternak berangsur menurun dan kondisi tersebut berlanjut ketika memasuki puncak kemarau pada Agustus hingga September. Rumput segar yang selama ini menjadi pakan utama semakin sulit diperoleh dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan harian ternak.

Penurunan pasokan paling dirasakan oleh peternak sapi, kambing, dan domba. Ketiga jenis ternak tersebut masih banyak bergantung pada rumput segar sebagai sumber pakan utama. Berkurangnya hijauan membuat peternak harus menyesuaikan pemberian pakan agar persediaan yang ada dapat digunakan lebih lama. Dalam kondisi ini, sebagian peternak terpaksa mengurangi pemberian hijauan hingga sekitar 50 persen.

banner 325x300

Pengurangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap ketersediaan pakan semakin nyata selama berlangsungnya kemarau. Peternak perlu mengatur jumlah hijauan yang diberikan dari waktu ke waktu, sementara kebutuhan ternak tetap harus dipenuhi. Situasi ini menjadikan pasokan rumput sebagai persoalan utama yang dihadapi peternak KBB sejak awal musim kemarau hingga periode puncaknya.

Menurunnya ketersediaan hijauan juga membuat pola pemberian pakan tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Rumput segar yang biasanya tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak kini harus dibagi secara lebih terbatas. Bagi peternak sapi, kambing, dan domba, perubahan tersebut menjadi tantangan langsung karena ketergantungan terhadap hijauan masih tinggi. Mereka harus menghadapi berkurangnya pasokan sejak Juni-Juli 2026 dan mempertahankan pengelolaan pakan ketika kemarau mencapai puncaknya pada Agustus-September.

Terbatasnya rumput selama kemarau panjang mendorong peternak di Bandung Barat menyesuaikan pola pemberian pakan untuk menjaga kebutuhan ternak. Ketika rumput segar semakin sulit diperoleh, peternak memanfaatkan bahan yang tersedia, seperti jerami padi kering dan tebon jagung. Bahan-bahan tersebut digunakan sebagai pakan pengganti agar pemberian pakan tetap dapat berlangsung di tengah berkurangnya pasokan rumput.

Jerami padi kering menjadi salah satu pilihan karena dapat disimpan dan dimanfaatkan ketika rumput tidak mudah ditemukan. Selain itu, tebon jagung juga digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak. Peternak perlu mengatur penggunaan bahan tersebut sesuai ketersediaan di lapangan, termasuk menyesuaikan jumlah pakan tambahan yang diberikan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi kemarau yang membatasi sumber pakan utama.

Namun, upaya beralih ke pakan pengganti diikuti kenaikan harga. Tebon jagung yang sebelumnya berada di kisaran Rp800 per kilogram meningkat menjadi Rp900 per kilogram. Kenaikan serupa terjadi pada rumput odot, yang sebelumnya sekitar Rp750 per kilogram dan kini mencapai Rp900 per kilogram. Perubahan harga tersebut membuat pengadaan pakan membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Dengan pasokan rumput yang terbatas dan harga sejumlah bahan pakan yang meningkat, peternak harus lebih cermat mengatur kebutuhan harian ternak. Pemanfaatan jerami padi kering, tebon jagung, serta pakan tambahan lainnya menjadi pilihan untuk menghadapi keterbatasan bahan yang tersedia. Pada saat yang sama, kenaikan harga tebon jagung dan rumput odot menambah tekanan pada biaya pakan yang harus disiapkan peternak selama periode kemarau panjang.

Entang Sukandi, 46 tahun, peternak sapi asal Cisarua, Bandung Barat, menyampaikan pada Selasa, 29 September 2026, bahwa kemarau panjang membuat ketersediaan pakan semakin terbatas. Menurut penjelasannya, tidak semua kebun rumput dikelola secara optimal. Pada saat yang sama, peternak yang secara khusus menanam hijauan unggul masih terbatas, sehingga pasokan rumput belum mampu memenuhi kebutuhan ketika musim kering berlangsung lebih lama.

Situasi tersebut berbeda dengan kondisi pada musim hujan. Ketika curah hujan mencukupi, hijauan relatif mudah diperoleh di sekitar wilayah peternakan. Rumput dapat tumbuh lebih baik dan peternak tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari sumber pakan. Namun, kemarau panjang mengurangi pertumbuhan tanaman dan membuat persediaan di sekitar kandang cepat menipis. Peternak pun harus mencari rumput ke wilayah lain agar kebutuhan pakan sapi tetap terpenuhi.

Dalam kondisi itu, pencarian pakan bahkan dilakukan hingga Subang, Purwakarta, dan Sumedang. Jarak yang lebih jauh membuat kegiatan penyediaan pakan menjadi lebih berat, baik dari sisi waktu maupun biaya. Kenaikan harga rumput juga belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan tersebut. Entang menjelaskan bahwa harga yang meningkat tidak otomatis menjamin rumput tersedia, sebab para produsen hijauan turut menghadapi keterbatasan stok akibat kemarau. Dengan demikian, peternak tidak hanya berhadapan dengan biaya pakan yang lebih tinggi, tetapi juga ketidakpastian dalam memperoleh pasokan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan kebun rumput yang lebih optimal dan peningkatan jumlah peternak yang menanam hijauan unggul. Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat ketersediaan pakan di tingkat lokal, terutama ketika musim kering menyebabkan sumber rumput alami berkurang.

Kondisi pasokan pakan yang terbatas selama kemarau panjang menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam keberlangsungan usaha peternakan di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ketersediaan hijauan dan bahan pakan merupakan bagian penting dalam pemeliharaan ternak ruminansia, sehingga perubahan kondisi alam dapat meningkatkan tantangan bagi peternak dalam memenuhi kebutuhan ternaknya. Namun, keterbatasan pakan tidak dapat langsung diartikan bahwa seluruh ternak telah terdampak atau mengalami penurunan kondisi.

Data sementara tahun 2026 memberikan gambaran mengenai jumlah ternak ruminansia yang berada dalam konteks persoalan pakan tersebut. Populasi sapi potong tercatat sebanyak 5.960 ekor, sedangkan sapi perah mencapai 26.717 ekor. Pada kelompok kambing, jumlah yang tercatat sebanyak 14.744 ekor, sementara populasi domba menjadi yang terbesar, yaitu 184.123 ekor. Angka-angka ini menunjukkan skala populasi ternak ruminansia yang perlu diperhatikan ketika ketersediaan pakan menghadapi tekanan akibat kemarau panjang.

Data tersebut merupakan gambaran populasi sementara, bukan keterangan bahwa seluruh ternak telah mengalami dampak yang sama. Setiap peternak dan ternak dapat berada dalam kondisi yang berbeda, bergantung pada ketersediaan pakan di masing-masing lingkungan. Meski demikian, jumlah sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba di KBB menegaskan bahwa persoalan pasokan pakan memiliki cakupan yang penting untuk dicermati. Perkembangan kondisi pakan selanjutnya berpotensi memengaruhi ternak ruminansia di KBB, sehingga informasi mengenai populasi menjadi dasar untuk memahami besarnya konteks persoalan tersebut.

banner 325x300