Jakarta | James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi 2024, mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada sumber daya alam dapat menjadi risiko bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, komoditas memang mampu memberikan penerimaan besar dalam waktu tertentu, tetapi manfaat tersebut tidak selalu bertahan. Karena itu, sumber daya alam tidak seharusnya ditempatkan sebagai satu-satunya penggerak perekonomian nasional, terutama ketika target pertumbuhan yang tinggi ingin dicapai secara konsisten.
Robinson menjelaskan, keuntungan dari komoditas sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga di pasar global. Ketika harga energi, mineral, atau komoditas perkebunan meningkat, pendapatan negara dan pelaku usaha dapat ikut terdorong. Namun, perubahan siklus harga dapat membalikkan kondisi tersebut dengan cepat. Ketidakpastian ini membuat pertumbuhan yang bertumpu terutama pada ekspor bahan mentah rentan mengalami perlambatan, sekaligus menyulitkan perencanaan pembangunan dalam jangka panjang. Peringatan itu tidak dimaksudkan sebagai prediksi pasti mengenai masa depan Indonesia, melainkan sebagai perhatian terhadap pola pertumbuhan yang terlalu bergantung pada sumber daya alam.
Pandangan tersebut disampaikan Robinson dalam acara Indonesia Policy Forum 2026 yang digelar Prasasti di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Dalam forum itu, ia menekankan pentingnya melihat kualitas institusi dan kemampuan ekonomi menciptakan nilai tambah, bukan hanya mengandalkan ketersediaan kekayaan alam. Diversifikasi kegiatan produktif, penguatan kapasitas manusia, serta kebijakan yang mampu mengarahkan penerimaan komoditas menuju investasi jangka panjang menjadi unsur penting untuk mengurangi kerentanan. Dengan pendekatan tersebut, pendapatan dari sumber daya alam dapat berfungsi sebagai modal pembangunan, bukan menjadi fondasi tunggal yang menentukan arah perekonomian.
James A. Robinson menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat, termasuk target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen, tidak hanya bergantung pada kebijakan jangka pendek atau peningkatan investasi. Pertumbuhan tersebut memerlukan institusi yang inklusif, yaitu institusi yang menciptakan insentif dan peluang bagi masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Dengan adanya kesempatan yang terbuka, masyarakat dan perusahaan dapat mengembangkan kemampuan, mengambil inisiatif, serta menjalankan kewirausahaan secara lebih produktif.
Institusi inklusif juga berperan dalam membangun lingkungan yang mendukung investasi dan transformasi ekonomi yang cepat. Lingkungan semacam itu memberikan kepastian bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang, mengembangkan perusahaan, serta menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi. Karena itu, pencapaian pertumbuhan yang pesat tidak dapat dipisahkan dari kualitas institusi yang mengatur kesempatan dan insentif dalam perekonomian.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Robinson dalam bukunya Why Nations Fail. Dalam buku itu, ia menjelaskan pentingnya institusi yang memungkinkan masyarakat dan perusahaan memperoleh peluang secara luas, bukan institusi yang membatasi kesempatan ekonomi hanya bagi kelompok tertentu. Robinson menyatakan, “Institusi yang inklusif adalah institusi yang membuka peluang luas bagi masyarakat dan perusahaan.” Kutipan ini menegaskan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan aturan dan lingkungan ekonomi yang memungkinkan lebih banyak pihak untuk berpartisipasi.
Dengan demikian, target pertumbuhan 8 persen perlu ditopang oleh institusi yang mampu menciptakan insentif, memperluas peluang, mendukung kewirausahaan, serta mendorong investasi dan transformasi secara cepat. Bagi Robinson, institusi semacam itu merupakan fondasi penting agar pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat berlangsung melalui partisipasi masyarakat dan perusahaan secara luas.
Keuntungan dari sumber daya alam tidak dengan sendirinya menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut James A. Robinson, bonus yang diperoleh dari komoditas dapat menjadi sia-sia apabila tidak diolah menjadi modal bagi kegiatan ekonomi lain. Pendapatan dari minyak, gas, atau mineral perlu dialihkan untuk membangun kapasitas produksi, memperkuat layanan publik, serta mendukung sektor yang tetap dapat berkembang ketika kegiatan ekstraksi mengalami penurunan. Tanpa pengalihan tersebut, penerimaan yang besar hanya menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka terbatas.
Dalam penjelasannya, Robinson menyebut Guinea Ekuatorial, Azerbaijan, dan Turkmenistan sebagai contoh perekonomian berbasis sumber daya alam yang menyia-nyiakan kekayaan. Penyebutan itu berkaitan dengan pola ketika pendapatan utama bertumpu pada eksploitasi komoditas, sementara hasilnya tidak cukup diarahkan untuk membentuk sumber pertumbuhan baru. Dengan demikian, kenaikan penerimaan negara selama periode tertentu tidak otomatis berubah menjadi fondasi ekonomi yang lebih beragam.
Robinson menggambarkan kronologi yang dapat terjadi dalam situasi tersebut. Pertumbuhan ekonomi bisa bertahan selama sekitar satu dekade ketika harga komoditas berada pada tingkat tinggi dan kegiatan ekstraksi terus berlangsung. Pada fase itu, pendapatan dari sumber daya alam dapat mendorong aktivitas ekonomi dan menciptakan kesan bahwa pertumbuhan akan berlanjut. Namun, kekayaan tersebut dapat lenyap apabila hasil ekstraksi tidak diinvestasikan untuk keperluan lain. Ketika produksi mulai menurun atau harga komoditas berubah, sumber pendapatan yang sebelumnya menopang pertumbuhan ikut melemah. Jika tidak tersedia sektor alternatif dan investasi yang telah disiapkan sejak awal, perekonomian akan kehilangan penyangga utamanya. Karena itu, pengelolaan bonus sumber daya alam tidak hanya berkaitan dengan besarnya penerimaan, tetapi juga dengan bagaimana penerimaan tersebut dialihkan menjadi investasi produktif untuk jangka panjang.
Agar pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen dapat bertahan lebih lama, James A. Robinson menekankan pentingnya mengarahkan pemanfaatan sumber daya alam untuk membangun sumber pertumbuhan baru. Pendapatan dari komoditas dan kekayaan alam tidak berhenti pada pembiayaan konsumsi atau kegiatan ekonomi yang bergantung pada satu sektor. Sebaliknya, sumber daya tersebut perlu diubah menjadi investasi yang memperkuat sektor-sektor lain, sehingga perekonomian memiliki basis yang lebih beragam dan tidak terlalu rentan terhadap perubahan harga komoditas global.
Sejumlah negara menunjukkan bahwa pendapatan sumber daya alam dapat digunakan untuk mendorong diversifikasi ekonomi. Oman dan Arab Saudi, misalnya, berupaya memanfaatkan penerimaan dari minyak untuk mengembangkan sektor nonminyak, termasuk industri, jasa, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi berbasis pengetahuan. Botswana juga menjadi contoh negara yang menggunakan pendapatan dari sumber daya alam, terutama berlian, untuk mendukung pembangunan serta memperluas fondasi perekonomiannya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kekayaan alam dapat menjadi modal awal bagi transformasi ekonomi apabila dikelola untuk menciptakan kapasitas produktif baru.
Dalam kerangka yang lebih luas, Robinson menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bertumpu pada tiga faktor utama. Pertama, akumulasi faktor produksi, seperti modal, tenaga kerja, keterampilan, dan infrastruktur, yang meningkatkan kemampuan suatu negara menghasilkan barang serta jasa. Kedua, adopsi teknologi, yakni kemampuan menggunakan dan menyebarkan pengetahuan, metode, serta inovasi yang membuat proses produksi menjadi lebih efisien. Teknologi memungkinkan sumber daya yang sama menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Ketiga, pertumbuhan dipengaruhi oleh struktur institusi. Institusi menyediakan insentif dan peluang bagi individu maupun perusahaan untuk berinvestasi, berinovasi, bekerja, dan mengembangkan kegiatan usaha. Ketika aturan menciptakan kesempatan yang luas dan memberikan kepastian, akumulasi faktor produksi serta adopsi teknologi dapat berlangsung lebih efektif. Dengan demikian, keberlanjutan pertumbuhan tidak hanya bergantung pada besarnya sumber daya yang tersedia, tetapi juga pada cara sumber daya tersebut diarahkan dan pada institusi yang membentuk pilihan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Menjelang PON Pantai Ancol 2026: Peluang Ekonomi untuk Jakarta | Optimisme Sektor Perbankan di Tengah Tantangan Ekonomi Global | Meningkatkan Nilai Tambah Pariwisata untuk Ekonomi Bali







