banner 728x250

Gempa Dangkal Beruntun Terjadi di Sukabumi dan Bogor, BMKG Paparkan Pemicu

Gempa Dangkal Beruntun Terjadi di Sukabumi dan Bogor, BMKG Paparkan Pemicu
banner 120x600
banner 468x60

Bogor | Sukabumi, Bogor, dan sejumlah wilayah di sekitarnya mengalami rangkaian gempa tektonik pada Kamis sore, 15 Oktober 2026. Berdasarkan analisis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG), aktivitas sesar aktif menjadi pemicu kejadian tersebut. Pelaksana tugas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, menyatakan gempa pertama terjadi pada pukul 17.49 WIB. Gempa itu tergolong dangkal jika ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. Karakteristik tersebut menjadi bagian penting dalam memahami sumber kejadian, karena menunjukkan bahwa aktivitas berlangsung pada lapisan relatif dekat dengan permukaan bumi.

Gempa tektonik beruntun dapat terjadi ketika bagian-bagian kerak bumi bergerak dan melepaskan energi secara bertahap. Dalam peristiwa ini, BBMKG mengaitkan sumber guncangan dengan sesar aktif di kawasan tersebut. Sesar merupakan bidang atau zona rekahan pada kerak bumi yang memungkinkan blok batuan di kedua sisinya bergeser. Ketika tekanan yang terkumpul melampaui kekuatan batuan, pergeseran dapat memicu gempa. Rangkaian kejadian tidak serta-merta berarti seluruh guncangan berasal dari titik yang sama, sehingga penentuan sumber dan hubungan antargempa memerlukan kajian terhadap data waktu, lokasi, serta kedalaman setiap kejadian.

banner 325x300

Istilah gempa dangkal merujuk pada kedalaman hiposenter yang relatif dekat dengan permukaan, sementara episenter adalah titik di permukaan bumi tepat di atas pusat gempa. Kedua informasi itu membantu ahli menjelaskan karakter sumber gempa, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan besarnya dampak di setiap lokasi. Kondisi tanah, jarak dari sumber, kekuatan guncangan, dan mutu bangunan turut memengaruhi dampak yang dirasakan. Karena itu, penjelasan mengenai aktivitas sesar aktif memberikan konteks awal bagi masyarakat untuk memahami kejadian di Sukabumi dan Bogor. BBMKG menyampaikan pemicu berdasarkan analisis kebumian, sedangkan perkembangan informasi sebaiknya merujuk pada pembaruan resmi lembaga tersebut.

Berdasarkan analisis BMKG, dua gempa yang tercatat di wilayah Sukabumi dan Bogor memiliki pusat gempa di darat serta kedalaman yang tergolong dangkal. Kejadian pertama memiliki magnitudo 3,5. Pusatnya berada pada koordinat 6,73 derajat lintang selatan dan 106,61 derajat bujur timur, atau sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi. Kedalaman hiposenternya tercatat sembilan kilometer di bawah permukaan bumi. Informasi lokasi dan kedalaman tersebut membantu menggambarkan posisi sumber gempa, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kedua kejadian berasal dari sumber yang sama.

Gempa kedua memiliki magnitudo 4,1, lebih besar daripada kejadian pertama. BMKG mencatat pusatnya pada koordinat 6,73 derajat lintang selatan dan 106,60 derajat bujur timur, sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor. Gempa ini terjadi pada kedalaman lima kilometer. Kedua titik koordinat tersebut berdekatan, sementara kedalaman sumbernya sama-sama berada pada kisaran dangkal. Meski demikian, lokasi relatif terhadap wilayah administratif yang disebutkan berbeda: gempa pertama dijelaskan berada di utara Kabupaten Sukabumi, sedangkan gempa kedua berada di barat daya Kota Bogor.

Perbedaan magnitudo dan kedalaman penting untuk dicermati ketika membaca laporan gempa. Magnitudo 4,1 menunjukkan energi yang lebih besar dibandingkan magnitudo 3,5, sedangkan angka kedalaman menunjukkan jarak sumber gempa dari permukaan. Karena kedua gempa berpusat di darat dan bersumber pada kedalaman lima hingga sembilan kilometer, keduanya dikategorikan sebagai gempa dangkal. Gempa dangkal dapat lebih mudah dirasakan di sekitar pusatnya daripada gempa yang sumbernya jauh di bawah permukaan, walaupun dampak yang dirasakan juga dipengaruhi jarak, kondisi tanah, bangunan, serta faktor setempat lainnya.

Data koordinat, jarak, magnitudo, dan kedalaman merupakan rincian utama dalam penjelasan BMKG mengenai kedua kejadian tersebut. Kedekatan posisi tidak cukup untuk memastikan hubungan tektonik atau mekanisme pemicu tertentu tanpa keterangan analisis lanjutan. Karena itu, informasi tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran lokasi dan karakter dasar masing-masing gempa, bukan sebagai kesimpulan bahwa keduanya pasti saling berkaitan. Masyarakat dapat merujuk pembaruan resmi BMKG untuk memperoleh keterangan tambahan mengenai perkembangan aktivitas dan hasil analisis sumber gempa.

Laporan mengenai gempa di Sukabumi dan Bogor menunjukkan bahwa getaran dirasakan dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda di sejumlah wilayah. Perbedaan ini dicatat menggunakan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yang menggambarkan dampak guncangan berdasarkan apa yang dirasakan masyarakat dan respons benda di sekitarnya. Karena itu, tingkat intensitas di satu lokasi tidak dapat dianggap mewakili seluruh daerah terdampak. Catatan tersebut menjelaskan pengalaman yang dilaporkan warga, bukan ukuran yang seragam untuk setiap orang di wilayah yang sama.

Pamijahan dan Kabandungan tercatat mengalami intensitas IV MMI. Pada tingkat ini, getaran dapat dirasakan banyak orang yang berada di dalam rumah dan oleh beberapa orang di luar bangunan. Guncangan juga bisa menimbulkan respons pada benda atau bagian rumah: gerabah dapat pecah, jendela maupun pintu berderik, sementara dinding dapat mengeluarkan bunyi. Gambaran tersebut membantu menjelaskan bahwa getaran terasa cukup nyata, meskipun pengalaman setiap warga dapat berbeda menurut posisi dan kondisi bangunan.

Intensitas III MMI dilaporkan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak. Getaran pada tingkat ini terasa nyata di dalam rumah, dengan sensasi yang dapat dibandingkan dengan berada di dalam truk yang sedang melintas. Perbandingan tersebut menggambarkan bagaimana guncangan mungkin dirasakan, bukan berarti semua warga mengalami sensasi dengan kekuatan yang persis sama. Catatan untuk lokasi-lokasi ini berbeda dari laporan intensitas IV MMI di Pamijahan dan Kabandungan.

Sementara itu, Palabuhan Ratu, Pabuaran, dan Cicantayan melaporkan intensitas II MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh beberapa orang dan dapat membuat benda ringan yang digantung bergoyang. Dampaknya lebih terbatas dibandingkan uraian untuk tingkat III dan IV MMI, tetapi tetap menunjukkan bahwa guncangan teramati oleh sebagian warga. Rincian menurut wilayah ini memberi gambaran yang lebih tepat mengenai sebaran dampak: respons yang dicatat berkisar dari benda gantung yang bergerak hingga bunyi pada bagian rumah atau gerabah pecah, sesuai laporan intensitas masing-masing lokasi.

Ana menyampaikan bahwa hingga keterangan tersebut diberikan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat rangkaian gempa yang terjadi di Sukabumi dan Bogor. Informasi itu merujuk pada laporan yang telah diterima sampai waktu penyampaian keterangan, sehingga kondisi yang disebutkan dalam pernyataan tersebut adalah belum adanya laporan kerusakan bangunan. Tidak ada rincian tambahan mengenai bangunan tertentu ataupun kerusakan lain dalam informasi yang disampaikan.

Dengan demikian, keterangan Ana mengenai dampak pada bangunan terbatas pada status laporan yang tersedia saat itu. Ia menyebut belum ada laporan kerusakan bangunan akibat rangkaian gempa tersebut. Pernyataan ini menjadi catatan pemantauan yang disampaikan bersama informasi tentang aktivitas gempa susulan. Batas waktunya mengikuti saat keterangan diberikan; tidak ada perkembangan setelah waktu tersebut yang tercantum dalam informasi ini.

BMKG juga mencatat hasil pemantauan aktivitas gempa susulan hingga pukul 18.40 WIB. Berdasarkan pemantauan sampai waktu itu, terpantau satu gempa susulan dengan magnitudo 2,4. Angka tersebut merupakan magnitudo gempa susulan yang tercatat dalam rentang pemantauan yang disebutkan, bukan jumlah seluruh rangkaian gempa. Informasi yang tersedia menyatakan satu kejadian susulan terpantau sampai pukul 18.40 WIB.

Catatan pemantauan tersebut mencakup dua hal yang disampaikan: belum adanya laporan kerusakan bangunan hingga Ana memberikan keterangan, serta terpantau satu gempa susulan bermagnitudo 2,4 sampai pukul 18.40 WIB. Kedua informasi itu menggambarkan status laporan dan pemantauan pada waktu yang telah disebutkan.

Baca juga: Guncangan Gempa M5,9 di Kepulauan Seribu: BMKG Pastikan Aman dari Tsunami | Tragedi Kecelakaan Beruntun yang Menghilangkan Tiga Nyawa di Jakarta Barat | Guncangan Gempa M5,9 di Kepulauan Seribu: BMKG Pastikan Tak Ada Potensi Tsunami

banner 325x300