JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Upaya mengubah cara pandang warga terhadap lebah trigona menjadi langkah penting di kawasan transmigrasi Sumalata. Serangga kecil yang selama ini dianggap mengganggu ternyata memiliki nilai jual tinggi dan dapat dikembangkan sebagai sumber penghasilan keluarga. Melalui pengetahuan yang tepat, keberadaan koloni di sekitar rumah tidak lagi harus dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai peluang usaha berbasis potensi alam setempat.
Lebah trigona telah lama ditemukan di lingkungan permukiman warga Sumalata. Sarangnya kerap menempel pada atap, dinding, atau bagian lain dari rumah. Karena bentuknya yang tidak biasa dan jumlahnya yang dapat bertambah, sebagian warga menganggap lebah tersebut sebagai hama. Sarang yang muncul sering dibakar atau diusir agar tidak mengganggu penghuni rumah. Perlakuan itu membuat koloni kehilangan kesempatan untuk dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Anggapan lain yang berkembang adalah mitos bahwa lebah kecil tersebut dapat menyebabkan tuli. Namun, informasi itu tidak didukung fakta mengenai karakter trigona. Berbeda dari sebagian jenis lebah lainnya, trigona tidak memiliki sengat sehingga tidak menyerang manusia dengan cara menyengat. Pengetahuan ini penting disampaikan agar warga dapat membedakan risiko nyata dari kekhawatiran yang bersumber dari mitos.
Selain relatif aman, trigona menghasilkan madu yang bernilai ekonomi. Harga madu trigona dapat mencapai Rp85.000 per 100 mililiter, atau sekitar Rp600.000 hingga Rp650.000 per liter, bergantung pada kualitas dan pemasarannya. Nilai tersebut menunjukkan bahwa koloni yang sebelumnya dibakar sebenarnya menyimpan potensi pendapatan. Budidaya secara teratur dapat membuka peluang bagi warga untuk memperoleh tambahan penghasilan, sekaligus mendorong pemanfaatan lingkungan tanpa merusak habitat. Dengan pemahaman dan pendampingan yang memadai, lebah trigona dapat berubah dari hewan yang disalahpahami menjadi komoditas lokal bernilai.
Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga menyelenggarakan pelatihan budidaya lebah trigona di Sumalata pada 18–20 Agustus 2026. Kegiatan ini dirancang untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap lebah trigona, yang selama ini kerap dianggap sebagai hama atau serangga pengganggu. Melalui pelatihan tersebut, lebah trigona diperkenalkan sebagai sumber daya lokal yang dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberikan peluang penghasilan tambahan bagi warga.
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta. Sebanyak 26 peserta merupakan warga yang mewakili enam satuan permukiman di wilayah Sumalata, sedangkan empat peserta lainnya berasal dari anggota Yonif 824. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperluas pemahaman mengenai manfaat budidaya lebah trigona dan mendorong terbentuknya jejaring pengelola di tingkat masyarakat. Peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga memperoleh gambaran praktis mengenai pengelolaan koloni yang dapat diterapkan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
Sudarsono, seorang praktisi trigona, menjadi pemandu utama dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan karakteristik lebah trigona, termasuk sifatnya yang tidak menyengat, kemampuan beradaptasi pada lingkungan tropis, serta perannya dalam membantu penyerbukan tanaman. Pengetahuan tentang karakter lebah menjadi dasar penting agar peserta dapat membedakan perilaku koloni yang sehat, mengenali kebutuhan habitat, dan menghindari tindakan yang berpotensi mengganggu perkembangan sarang.
Materi berikutnya membahas pengelolaan koloni, mulai dari penempatan stup, pemeliharaan lingkungan, pemantauan pertumbuhan, hingga pencegahan gangguan. Peserta juga mempelajari teknik pemanenan madu secara tepat agar hasilnya tetap higienis dan koloni tidak rusak. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan budidaya trigona secara bertahap, mengolah hasilnya menjadi produk bernilai ekonomi, dan mengubah keberadaan lebah dari sesuatu yang dianggap merugikan menjadi peluang usaha berbasis potensi setempat.
Ading Suhana, warga Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolinggula, merupakan salah satu peserta pelatihan budidaya lebah trigona yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Ekspedisi Patriot Unair. Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengetahui tentang lebah trigona, termasuk cara pemeliharaan dan potensi hasil yang dapat dikembangkan dari keberadaannya di lingkungan sekitar.
Menurut Ading, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pengelolaan koloni, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber pakan, serta peluang menghasilkan madu. Ia melihat kegiatan itu membuka prospek yang menjanjikan bagi masyarakat. Selain menambah wawasan, budidaya trigona dinilai berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan bagi warga apabila dilakukan secara berkelanjutan dan dikelola dengan baik.
Ketua Tim 1 Ekspedisi Patriot Unair, Johny Alfian Khusyairi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan teknik budidaya. Pelatihan itu juga dimaksudkan untuk mengubah anggapan masyarakat yang selama ini memandang trigona sebagai hama. Padahal, lebah tanpa sengat tersebut dapat dipelihara sebagai penghasil madu dengan nilai jual yang tinggi.
Melalui pemahaman itu, masyarakat diharapkan dapat melihat keberadaan trigona secara lebih positif. Koloni yang sebelumnya dianggap mengganggu dapat dikelola menjadi sumber produksi madu, sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal. Pengetahuan mengenai pemeliharaan yang tepat juga penting agar pengembangan budidaya tidak merusak habitat dan sumber pakan lebah.
Johny berharap peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan pemeliharaan alam. Pengembangan budidaya trigona perlu dilakukan dengan tetap menjaga vegetasi, ketersediaan bunga, dan keseimbangan lingkungan, sehingga manfaat ekonomi dari madu dapat dirasakan tanpa mengabaikan keberlanjutan ekosistem.
Desa Cempaka Putih dipilih sebagai lokasi pelatihan karena memiliki banyak tanaman buah yang berpotensi menjadi sumber pakan alami bagi lebah trigona. Keberadaan vegetasi tersebut membuat peserta dapat mempelajari budidaya lebah dalam lingkungan yang mendukung kebutuhan dasar serangga, terutama ketersediaan bunga dan nektar. Pemilihan lokasi ini juga memberikan kesempatan kepada warga untuk mengenali hubungan tanaman di sekitar rumah, kelestarian lingkungan, dan pemeliharaan lebah trigona secara lebih dekat.
Selama dua hari, para peserta menginap di Desa Cempaka Putih untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Pelatihan tidak hanya berisi penyampaian teori mengenai lebah trigona dan kebutuhan tempat tinggalnya, tetapi juga dilengkapi praktik langsung. Dengan cara tersebut, peserta dapat memahami tahapan pembuatan stup, sekaligus melihat bagaimana pengetahuan yang diperoleh diterapkan menjadi keterampilan yang dapat dilakukan secara mandiri.
Dalam sesi praktik, peserta membuat stup atau rumah lebah menggunakan bahan kayu dan bambu. Setiap peserta membuat dua stup secara mandiri, mulai dari menyiapkan bahan hingga merangkai bagian-bagian rumah lebah tersebut. Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak sekadar mengenal bentuk stup, melainkan mampu mengulangi proses pembuatannya ketika kembali ke rumah masing-masing. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kemudian diterapkan di lingkungan tempat tinggal setiap peserta.
Selain membuat stup baru, sebagian peserta juga mengembangkan metode penyambungan selang dari sarang alami yang berada di pohon kelapa menuju stup buatan. Cara ini menjadi bagian dari upaya peserta untuk menerapkan hasil pelatihan sesuai kondisi yang mereka temukan di lapangan. Dengan pengalaman praktik tersebut, kegiatan di Desa Cempaka Putih memberi bekal teknis yang dapat digunakan warga dalam memulai pemeliharaan lebah trigona di rumah masing-masing.







