JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Perkembangan kecerdasan buatan di dunia bisnis memasuki tahap baru. Selama beberapa tahun terakhir, teknologi ini terutama dikenal sebagai alat untuk menjawab pertanyaan, merangkum dokumen, menyusun teks, menganalisis informasi, atau memberikan rekomendasi berdasarkan data yang tersedia. Kini, penerapannya mulai bergerak lebih jauh: kecerdasan buatan diarahkan untuk menjalankan pekerjaan secara langsung, bukan sekadar membantu manusia memahami persoalan atau memilih tindakan.
Perubahan tersebut terlihat melalui kemunculan agentic AI, yaitu sistem yang dirancang untuk memahami konteks, menetapkan langkah yang diperlukan, mengakses sumber data yang relevan, serta menjalankan rangkaian tugas dalam suatu alur kerja. Dalam lingkungan bisnis, sistem semacam ini dapat membantu mengelola permintaan pelanggan, memeriksa informasi, menyusun laporan, memperbarui catatan, atau meneruskan pekerjaan kepada pihak yang tepat. Kemampuannya tidak hanya bergantung pada satu perintah, tetapi juga pada pemahaman terhadap tujuan, aturan, dan kondisi yang berubah selama proses berlangsung.
Peralihan dari pemberi jawaban menjadi pelaksana pekerjaan berpotensi mengubah cara karyawan berinteraksi dengan teknologi. Karyawan mungkin tidak lagi menggunakan perangkat lunak hanya dengan memasukkan data atau memilih menu, melainkan memberikan tujuan dan mengawasi proses yang berlangsung. Sistem kemudian dapat menangani sejumlah langkah rutin, sementara manusia tetap diperlukan untuk menetapkan prioritas, menilai risiko, memvalidasi keputusan penting, dan menangani situasi yang memerlukan pertimbangan etis atau pengetahuan khusus. Karena itu, perkembangan ini tidak secara otomatis berarti seluruh pekerjaan manusia akan digantikan. Dampaknya lebih mungkin berupa perubahan pembagian tugas, tuntutan keterampilan baru, serta pergeseran perhatian manusia dari pekerjaan administratif menuju pengawasan, koordinasi, dan pengambilan keputusan strategis.
Agentic AI mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan sehari-hari. Berbeda dari perangkat lunak yang hanya menunggu perintah, agen AI dapat memahami tujuan, menyusun tahapan kerja, menjalankan tugas, serta menyesuaikan tindakan berdasarkan hasil yang diperoleh. Kemampuan tersebut memungkinkan pekerjaan yang sebelumnya memerlukan rangkaian proses manual ditangani dengan lebih cepat dan konsisten. Namun, otomatisasi ini tidak berarti bahwa seluruh keputusan bisnis diserahkan kepada mesin.
Dalam praktiknya, manusia tetap memegang kendali atas arah perusahaan. Para pemimpin dan tenaga profesional menetapkan sasaran, menyusun strategi, menentukan batas kewenangan, serta menilai risiko yang mungkin muncul. Agen AI berperan sebagai pelaksana cerdas yang membantu menghubungkan berbagai langkah operasional, sementara keputusan yang membutuhkan konteks, penilaian etis, dan pemahaman terhadap prioritas bisnis tetap berada di tangan manusia. Pola kerja ini dapat meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan tanggung jawab pengambilan keputusan.
Sektor pengadaan menjadi salah satu contoh yang jelas. Proses pengadaan sering melibatkan pemeriksaan dokumen, pencarian informasi pemasok, perbandingan penawaran, pembaruan data, pembuatan laporan, dan pemantauan status pesanan. Berbagai kegiatan administratif tersebut menyita waktu, meskipun sebagian besar dapat dilakukan berdasarkan aturan dan data yang terstruktur. Agen AI dapat membantu mengelola tahapan itu, menemukan ketidaksesuaian, mengingatkan tenggat, serta menyajikan informasi yang relevan kepada tim pengadaan.
Dengan berkurangnya beban administratif, tenaga profesional dapat memusatkan perhatian pada aktivitas yang memberikan nilai lebih besar. Mereka dapat membangun hubungan dengan pemasok, merancang strategi sumber daya, menegosiasikan persyaratan penting, mengelola risiko, dan memastikan keputusan pengadaan sejalan dengan tujuan perusahaan. AI tidak menggantikan keahlian tersebut, melainkan menyediakan dukungan agar keahlian manusia digunakan pada persoalan yang lebih kompleks.
Christian Klein, CEO SAP SE, menyatakan bahwa perkembangan ini menjadi momentum terobosan bagi business AI dan bahwa autonomous enterprise telah hadir. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai memasuki tahap baru, ketika agen AI terintegrasi ke dalam alur kerja, dengan manusia tetap menentukan strategi, pengawasan, dan keputusan akhir.
Dalam pernyataannya, Christian Klein menjelaskan bahwa Joule dan SAP Autonomous Suite dibangun di atas SAP Business AI Platform. Pernyataan tersebut menempatkan kecerdasan buatan bukan sebagai fitur tambahan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai fondasi untuk menghubungkan cara organisasi memahami informasi, menjalankan proses, dan mengambil keputusan. Melalui pendekatan ini, kemampuan AI dapat hadir secara lebih terintegrasi dalam lingkungan bisnis, dengan mempertimbangkan hubungan data, alur kerja, serta kebutuhan berbagai fungsi yang saling bergantung.
Klein juga menyebut bahwa pendekatan tersebut membantu organisasi seperti Novartis, Morgan Foods, Nestlé, dan PwC menghubungkan kecerdasan di seluruh fungsi bisnis untuk menghasilkan dampak bisnis yang nyata. Penyebutan berbagai organisasi itu menggambarkan arah pengembangan SAP Business AI Platform sebagai penghubung lintas fungsi, bukan sekadar teknologi yang digunakan dalam satu departemen atau untuk satu jenis tugas. Nilai utamanya terletak pada kemampuan menyatukan pemahaman dan tindakan di dalam struktur bisnis yang kompleks.
Dalam kerangka tersebut, Joule dan SAP Autonomous Suite dapat dipahami sebagai bagian dari ekosistem agentic AI yang dirancang untuk bekerja melampaui interaksi percakapan. Sistem ini diarahkan untuk menghubungkan proses dan data lintas fungsi sehingga kecerdasan dapat mengalir dari satu tahap kerja ke tahap berikutnya. Dengan demikian, AI berperan dalam membentuk kesinambungan operasional dan mendukung penciptaan hasil yang lebih terukur. Namun, teknologi tetap berfungsi sebagai pendukung keputusan dan pelaksanaan kerja, bukan pengganti arah strategis organisasi. Penentuan prioritas, penilaian risiko, serta pemaknaan terhadap dampak bisnis tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa ambisi SAP adalah membangun lingkungan kerja yang lebih terhubung, ketika AI membantu mengoordinasikan berbagai kemampuan bisnis, sementara manusia mempertahankan kendali atas tujuan dan strategi yang hendak dicapai.
Morgan Foods mulai menyiapkan fondasi untuk mengadopsi agentic AI dalam operasional rantai pasoknya. Persiapan tersebut mencakup upaya menghubungkan berbagai sumber data yang digunakan dalam kegiatan bisnis, sehingga informasi penting dapat dilihat sebagai bagian dari alur kerja yang lebih terpadu. Bagi perusahaan, fondasi data menjadi unsur penting karena agen AI memerlukan akses terhadap informasi yang relevan untuk membantu menghubungkan kondisi di berbagai bagian rantai pasok.
Pendekatan ini membuka peluang untuk mengubah cara perusahaan merespons perubahan. Jika sebelumnya keputusan lebih banyak diambil secara reaktif setelah muncul kebutuhan atau gangguan, kemampuan agen AI dapat mendukung pendekatan yang lebih prediktif. Agen dapat menghubungkan data permintaan, tingkat persediaan barang, dan pasokan dari para pemasok dengan lebih cepat. Keterkaitan tersebut membantu menghadirkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi rantai pasok, tanpa mengubah posisi manusia sebagai pihak yang menentukan arah dan pertimbangan bisnis.
Steve Hankins, Chief Financial Officer Morgan Foods, menegaskan bahwa kekuatan utama perusahaan tetap berasal dari manusia yang bekerja bersama agen AI. Sekitar 1.000 karyawan berperan dalam menjalankan rantai pasok Morgan Foods, sementara teknologi membantu mereka bekerja dengan lebih baik. Pernyataan ini menunjukkan bahwa penerapan agentic AI dipandang sebagai kerja sama kemampuan manusia dan dukungan teknologi. Agen dapat membantu menghubungkan serta membaca data yang tersebar, sedangkan karyawan tetap menjalankan peran penting dalam operasional rantai pasok dan pemanfaatan informasi tersebut dalam pekerjaan mereka.







