banner 728x250

CPO Menguat ke MYR4.816 per Ton, Ditopang Minyak Kedelai dan Prospek Ekspor

CPO Menguat ke MYR4.816 per Ton, Ditopang Minyak Kedelai dan Prospek Ekspor
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, setelah mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya. Pergerakan positif itu mempertahankan momentum yang terbentuk sejak perdagangan Rabu dan membawa harga kembali berada di atas MYR4.800 per ton. Pada Kamis, 22 Oktober, kontrak CPO ditutup di MYR4.792 per ton, naik MYR25 atau 0,52% dibandingkan penutupan Rabu, 21 Oktober, sebesar MYR4.767 per ton. Kenaikan beruntun tersebut menunjukkan bahwa harga masih bergerak dalam arah yang menguat menjelang akhir pekan.

Momentum itu berlanjut pada Jumat. Sekitar pukul 11.00 WIB, harga CPO tercatat MYR4.816 per ton, meningkat MYR24 atau 0,50% dibandingkan penutupan Kamis. Dengan demikian, harga bertahan di area yang lebih tinggi setelah kenaikan sehari sebelumnya, meskipun angka pada pertengahan sesi belum menjadi harga penutupan perdagangan Jumat. Perubahan harian tersebut memberi gambaran bahwa minat beli masih menopang pergerakan kontrak, sementara pelaku pasar mencermati apakah penguatan dapat dipertahankan hingga sesi berakhir.

banner 325x300

Jika harga menutup perdagangan Jumat di zona positif, CPO berpeluang mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut. Prospek itu menjadi perhatian pasar karena memperpanjang rangkaian kinerja mingguan yang positif, tetapi tetap bergantung pada pergerakan harga dalam sisa sesi dan penutupan akhir pekan. Data perdagangan pada pukul 11.00 WIB perlu dibedakan dari hasil akhir, sehingga perkembangan berikutnya akan menentukan apakah kenaikan intrahari benar-benar bertahan. Untuk saat ini, rangkaian perubahan dari MYR4.767 pada Rabu menjadi MYR4.792 pada Kamis, lalu MYR4.816 pada Jumat pagi, memperlihatkan arah pergerakan yang konsisten menguat dalam tiga sesi tersebut.

Kenaikan harga minyak kedelai memberi dukungan bagi pasar minyak sawit mentah (CPO), karena kedua komoditas merupakan minyak nabati utama yang bersaing memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan industri di pasar global. Ketika harga salah satu jenis minyak nabati meningkat, pembeli dapat menyesuaikan pilihan bahan baku berdasarkan harga relatif dan ketersediaan. Perubahan tersebut berpotensi mengalihkan sebagian permintaan ke minyak alternatif, sehingga pergerakan harga minyak kedelai kerap turut memengaruhi sentimen terhadap CPO. Namun, hubungan ini tidak selalu bergerak searah setiap saat; kondisi pasokan, nilai tukar, dan prospek konsumsi juga menentukan respons pasar.

Pada perdagangan yang menjadi perhatian, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, China, menguat 1,78%, sementara kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat, naik 0,55%. Penguatan di dua bursa tersebut menunjukkan sentimen positif pada minyak kedelai di pasar utama dan dapat membantu menopang persepsi terhadap harga minyak nabati secara umum. Meski demikian, kontrak minyak sawit di Dalian justru turun 0,19%. Perbedaan arah ini menandakan bahwa dukungan dari minyak kedelai belum sepenuhnya tercermin pada semua instrumen, serta pelaku pasar tetap mempertimbangkan faktor khusus yang memengaruhi sawit dan perdagangan regional.

Prospek ekspor Malaysia menjadi faktor pendukung lain bagi pasar CPO. Perusahaan survei kargo memperkirakan pengiriman produk minyak sawit Malaysia pada 1–20 Oktober 2026 meningkat 58,5% hingga 78,4% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Kisaran proyeksi yang lebar menunjukkan adanya ketidakpastian dalam pengukuran dan estimasi arus kargo, tetapi kedua ujung rentang sama-sama mengindikasikan kenaikan bulanan yang kuat. Jika terealisasi, pertumbuhan ekspor dapat mencerminkan permintaan luar negeri yang lebih aktif sekaligus membantu mengurangi ketersediaan produk untuk pasar domestik Malaysia. Kombinasi harga minyak kedelai yang menguat dan ekspektasi ekspor yang lebih tinggi memberi landasan bagi sentimen CPO, meski pergerakan harga tetap dapat berubah mengikuti data pasokan dan permintaan berikutnya.

Pergerakan harga energi global turut membentuk prospek permintaan minyak sawit, terutama karena minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Pada Kamis, 22 Oktober, harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Mei. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Risiko geopolitik yang menekan pasokan dapat mendorong harga minyak fosil lebih tinggi dan mengubah perbandingan biaya bahan bakar konvensional dan alternatif terbarukan.

Ketika minyak mentah menguat, biodiesel berbasis sawit berpotensi menjadi pilihan yang lebih menarik bagi produsen maupun pengguna energi. Harga bahan bakar fosil yang lebih mahal dapat meningkatkan daya saing biodiesel, sekaligus mendukung kebutuhan minyak sawit untuk campuran bahan bakar. Namun, hubungan itu tidak berlangsung secara otomatis: realisasi permintaan juga dipengaruhi kebijakan mandat biodiesel, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, serta perkembangan harga minyak nabati lainnya. Dengan demikian, penguatan Brent menjadi salah satu faktor pendukung, bukan satu-satunya penentu arah harga CPO.

Prospek pasar juga mendapat sokongan dari perkiraan Malaysian Palm Oil Council (MPOC). Lembaga tersebut memperkirakan harga CPO bertahan di atas MYR4.600 per ton pada November 2026, ditopang penguatan permintaan ekspor, konsumsi biodiesel yang tetap tinggi, dan penurunan produksi musiman. MPOC turut memproyeksikan persediaan sawit Malaysia menyusut dari November 2026 hingga Februari 2027 seiring berkurangnya produksi. Jika permintaan tetap kuat sementara keluaran menurun, pasokan yang tersedia dapat menjadi lebih ketat dan memberikan dukungan tambahan terhadap harga. Meski begitu, proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan ekspor, produksi, serta pasar energi global. Perubahan kondisi geopolitik dan harga minyak mentah dapat memengaruhi daya tarik biodiesel, sementara cuaca dan pola panen akan menentukan seberapa cepat produksi pulih. Pelaku pasar karena itu akan mencermati data persediaan bulanan dan arus perdagangan untuk menilai apakah dukungan permintaan mampu mengimbangi perubahan pasokan. Kombinasi harga energi yang meningkat dan stok yang menurun menyediakan landasan bagi CPO, tetapi volatilitas tetap menjadi pertimbangan penting bagi industri sawit dan pembeli.Meski sentimen fundamental pasar minyak sawit mentah (CPO) masih cenderung positif, kondisi tersebut tidak meniadakan kemungkinan terjadinya koreksi harga dalam jangka pendek. Dukungan dari penguatan minyak kedelai dan prospek ekspor dapat menjaga minat beli, tetapi pelaku pasar tetap perlu memperhitungkan sinyal teknikal yang menunjukkan ruang penurunan masih terbuka. Pergerakan harga yang cepat juga dapat memicu perubahan posisi, terutama ketika pasar sedang menguji level-level penting.

Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan harga CPO berpotensi kembali menguji area support MYR4.736 per ton. Perkiraan ini didasarkan pada penilaian bahwa koreksi dari MYR4.852 per ton belum sepenuhnya selesai. Dengan demikian, meskipun harga terakhir menguat ke MYR4.816 per ton, kenaikan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan jual telah berakhir. Perkembangan harga setelah menyentuh area resistance dan support akan menjadi petunjuk penting mengenai arah pergerakan berikutnya.

Level MYR4.773 per ton menjadi ambang yang patut dipantau. Apabila harga menembus ke bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi meningkat dan membawa CPO bergerak ke kisaran MYR4.706–4.773 per ton. Kisaran ini dapat menjadi area uji bagi kekuatan permintaan. Jika pembeli kembali masuk dan harga bertahan, koreksi mungkin tertahan; sebaliknya, pelemahan yang berlanjut dapat memperbesar risiko penurunan lebih jauh. Karena itu, pelaku pasar sebaiknya menilai pergerakan berdasarkan konfirmasi harga, bukan hanya perubahan intrahari.

Di sisi atas, MYR4.836 per ton merupakan salah satu area resistansi penting.

banner 325x300