Jakarta | Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di daerah agar berani menyasar pasar ekspor. Menurutnya, produk yang lahir dari kekayaan budaya dan potensi setempat memiliki peluang untuk menarik perhatian konsumen di luar negeri. Karena itu, pelaku usaha tidak perlu membatasi tujuan pemasarannya hanya pada pembeli di sekitar wilayah produksi atau di dalam negeri.
Keunikan dan autentisitas merupakan nilai yang dapat membedakan produk lokal dari barang sejenis di pasar global. Ciri khas tersebut dapat terlihat pada desain, bahan baku, teknik pembuatan, cerita di balik produk, maupun keterkaitannya dengan tradisi daerah. Jika dikembangkan dengan mutu dan penyajian yang tepat, kekhasan itu dapat menjadi daya tarik bagi konsumen yang mencari produk dengan identitas kuat. Potensi ini membuka kesempatan bagi usaha kreatif daerah untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.
Irene juga mengajak pelaku usaha memanfaatkan media sosial dan berbagai ruang digital untuk memperkenalkan produknya kepada audiens global. Kanal digital dapat membantu pelaku usaha menampilkan katalog, membagikan cerita produk, berinteraksi dengan calon pembeli, serta membangun pengenalan merek melampaui batas geografis. Dengan strategi komunikasi yang konsisten, produk lokal berpeluang ditemukan oleh konsumen internasional, termasuk mereka yang sebelumnya belum mengenal daerah asalnya. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menguji respons pasar dan memperluas jangkauan pemasaran.
Meski demikian, upaya menembus pasar ekspor perlu disertai kesiapan usaha, mulai dari menjaga kualitas dan kapasitas produksi hingga memahami kebutuhan calon konsumen. Keunikan perlu disampaikan secara jelas, sementara informasi produk harus mudah dipahami oleh audiens yang beragam. Pelaku ekraf daerah dapat memanfaatkan kanal digital untuk mengenalkan nilai dan karakter produknya, sekaligus membangun kepercayaan secara bertahap. Keterangan mengenai dorongan tersebut diterima di Jakarta pada Sabtu. Sumber tidak menyebutkan nama acara ataupun lokasi tempat Irene menyampaikan pernyataannya.
Menurut Irene, kekayaan bahan baku Nusantara menyediakan landasan penting bagi pelaku ekonomi kreatif untuk menciptakan produk yang memiliki nilai lebih. Potensi tersebut mencakup bahan alam maupun ramuan herbal yang telah dikenal dan dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat. Namun, ketersediaan bahan lokal saja belum cukup untuk menjadikan sebuah produk relevan di pasar yang terus berkembang. Pelaku usaha perlu memahami karakter bahan, mengolahnya secara tepat, serta merancang produk dengan mempertimbangkan fungsi, mutu, dan pengalaman yang dicari konsumen masa kini. Dengan pendekatan tersebut, sumber daya yang berlimpah dapat diolah menjadi tawaran yang lebih bermakna, bukan sekadar bahan mentah atau barang yang mengandalkan asal-usulnya.
Pengembangan produk juga perlu berpijak pada kebutuhan konsumen modern. Perubahan selera, kebiasaan, dan harapan terhadap kualitas mendorong produsen untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan keterkaitan dengan sumber lokal. Ramuan herbal, misalnya, dapat menjadi bagian dari pengembangan produk apabila diolah dan dikomunikasikan secara sesuai dengan kebutuhan pasar. Prinsip yang sama berlaku bagi bahan alam lainnya: pengolahan, desain, dan penyampaian manfaat perlu saling mendukung agar nilai tambahnya terasa bagi konsumen. Irene menekankan pentingnya menjembatani kekayaan lokal dengan tuntutan masa kini, sehingga produk tidak hanya membawa cerita tentang bahan, tetapi juga menawarkan kegunaan dan mutu yang dapat dipertimbangkan pembeli.
Identitas lokal menjadi salah satu pembeda ketika produk Indonesia berhadapan dengan persaingan pasar yang kerap menitikberatkan harga. Jika produsen hanya berlomba menawarkan harga lebih rendah, ruang untuk mempertahankan nilai dan keberlanjutan usaha dapat menyempit. Keunikan yang berakar pada bahan, pengetahuan, dan karakter lokal dapat memberi alasan lain bagi konsumen untuk memilih sebuah produk. Identitas tersebut perlu hadir secara autentik dalam mutu maupun cara produk diperkenalkan, bukan sekadar menjadi klaim. Dengan demikian, kekayaan Nusantara dapat membantu membangun posisi yang khas sekaligus relevan di pasar dunia. Bagi Irene, pengolahan yang cermat dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen memungkinkan keunggulan lokal diterjemahkan menjadi nilai yang dikenali, dihargai, dan mampu membedakan produk Indonesia dari tawaran lain tanpa bergantung semata-mata pada harga.
Penguatan merek lokal tidak dapat bertumpu pada pelaku usaha seorang diri. Diperlukan kerja bersama pengusaha, platform digital, dan pemerintah agar produk berbasis potensi daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang. Pelaku usaha mengenali karakter bahan, keterampilan, dan cerita yang melekat pada daerahnya, sementara dukungan pemerintah dan pemanfaatan teknologi dapat membantu mengatasi hambatan dalam pengembangan usaha. Kolaborasi ini penting agar keunikan produk tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga nilai tambah yang dapat dikenali konsumen di berbagai pasar.
Menurut Irene, dukungan yang terkoordinasi dapat memperluas akses pasar sekaligus membantu pelaku usaha mengembangkan produk yang berangkat dari potensi lokal. Perluasan jangkauan tersebut membuka peluang bagi merek daerah untuk menjangkau konsumen di luar wilayah asalnya, termasuk melalui kanal digital. Namun, pertumbuhan perlu dibangun secara berkelanjutan: kualitas produk, kemampuan memenuhi permintaan, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen tetap menjadi bagian penting dari kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.
Irene juga menekankan arti perjuangan pelaku ekonomi kreatif bagi kehidupan di sekitarnya. Upaya mereka bukan semata-mata untuk membangun usaha, melainkan dapat memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan, sekaligus membuka lapangan kerja. Dengan demikian, pengembangan merek lokal berpotensi menciptakan dampak yang melampaui penjualan, karena kegiatan usaha turut menggerakkan keterampilan, pendapatan, dan kesempatan kerja di daerah. Manfaat tersebut dapat semakin terasa ketika pelaku usaha memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan bisnisnya.
Balques Manisang, Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, menjelaskan bahwa platform niaga elektronik dan teknologi digital dapat menghubungkan usaha dengan konsumen. Koneksi ini memberi kesempatan bagi produk daerah untuk ditemukan oleh pembeli yang sebelumnya sulit dijangkau melalui cara konvensional. Selain membantu mempertemukan penjual dan konsumen, ekosistem digital dapat mendukung pengembangan bisnis melalui berbagai unsur yang saling menopang. Pelaku usaha memerlukan akses terhadap teknologi dan pasar, sedangkan ekosistem yang kuat membantu mereka mengembangkan kapasitas serta menjawab kebutuhan konsumen. Apabila kolaborasi pelaku usaha, pemerintah, dan platform berjalan searah, keunikan produk lokal dapat menjadi modal untuk memperluas pasar, memperkuat merek, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah secara inklusif.Bagi Tasya Farasya, kreator konten sekaligus pendiri Mother of Pearl (MOP), kepercayaan konsumen merupakan fondasi penting bagi merek lokal untuk tumbuh. Kepercayaan tidak terbentuk hanya melalui promosi, tetapi juga melalui mutu produk, komunikasi yang terbuka, serta kemampuan jenama memahami kebutuhan penggunanya. Konsumen perlu mendapat alasan yang jelas untuk memilih produk, mulai dari manfaat yang ditawarkan hingga konsistensi pengalaman saat menggunakannya. Karena itu, inovasi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kualitas dan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan.
Inovasi juga berarti bersedia menyesuaikan produk dengan perubahan kebutuhan pasar tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap lingkungan. Tasya mencontohkan upcycling limbah kosmetik sebagai salah satu pendekatan yang dapat mengurangi sisa bahan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik seperti ini dapat menjadi bagian dari nilai sebuah merek, selama penerapannya relevan dan disampaikan secara transparan kepada konsumen. Dengan demikian, keberlanjutan bukan sekadar pesan pemasaran, melainkan pertimbangan yang hadir dalam proses pengembangan produk dan keputusan bisnis.
Pertumbuhan merek lokal, menurut pandangan tersebut, juga dapat melibatkan lebih banyak pihak dalam ekosistem ekonomi kreatif. Afiliator dan kreator konten membantu memperkenalkan produk kepada calon pelanggan melalui jangkauan serta sudut pandang yang beragam.















