banner 728x250

Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga

Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026, Greenpeace Indonesia menggelar aksi di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Aksi tersebut berlangsung di salah satu persimpangan paling dikenal di ibu kota, ketika aktivitas warga dan kendaraan mulai meningkat. Organisasi lingkungan itu membentangkan dua spanduk berukuran besar di sekitar monumen untuk menyampaikan pesan mengenai krisis iklim dan beban biaya hidup. Pilihan lokasi yang ramai membuat pesan aksi dapat terlihat oleh pengguna jalan yang melintas maupun warga yang beraktivitas di kawasan tersebut. Pesan yang disuarakan menghubungkan persoalan lingkungan dengan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

Krisis iklim kerap dibahas melalui dampak jangka panjang terhadap lingkungan, tetapi kampanye ini juga menyoroti konsekuensi yang dirasakan warga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan memasangkan isu iklim dan biaya hidup, Greenpeace Indonesia mengarahkan perhatian pada hubungan perubahan kondisi lingkungan dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dua spanduk itu menjadi sarana utama untuk menyampaikan seruan tersebut di ruang publik. Aksi di Bundaran HI juga menempatkan persoalan iklim dalam konteks perkotaan, tempat kepadatan aktivitas, mobilitas, dan kebutuhan warga saling bertemu. Kehadiran pesan visual berskala besar dimaksudkan agar isu yang dibawa mudah dikenali di tengah lalu lintas pagi.

banner 325x300

Berdasarkan pantauan sekitar pukul 08.30 WIB, petugas gabungan telah bersiaga di lokasi. Pada waktu itu, spanduk yang sebelumnya dibentangkan terlihat sudah terlipat. Lalu lintas di sekitar Bundaran HI terpantau padat, sejalan dengan ramainya kegiatan pagi di pusat Jakarta. Situasi tersebut menjadi gambaran kondisi lokasi setelah aksi berlangsung, tanpa mengubah pokok pesan yang disampaikan melalui spanduk. Aksi Greenpeace Indonesia ini mengangkat krisis iklim bukan semata sebagai isu lingkungan, melainkan juga sebagai persoalan yang berkaitan dengan biaya hidup warga. Pemasangan pesan di ruang publik yang ramai memperluas perhatian terhadap kaitan kedua hal tersebut, sementara pantauan pagi mencatat keberadaan petugas, kondisi spanduk, serta kepadatan arus kendaraan.

Pesan yang dibawa dalam aksi Greenpeace di Bundaran HI menempatkan krisis iklim bukan sebagai persoalan lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan ancaman yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Dua spanduk dipasang dengan arah hadap berbeda untuk menyampaikan desakan kepada publik dan pemerintah. Spanduk pertama bertuliskan “Tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup” dan menghadap ke utara, ke arah Istana Merdeka. Susunan pesan itu menghubungkan upaya mengatasi perubahan iklim dengan kebutuhan warga menghadapi tekanan biaya hidup.

Spanduk kedua berbunyi “Bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?” dan menghadap ke selatan Bundaran HI. Kalimat tersebut menyoroti kaitan bencana yang dinilai semakin parah dan kesulitan yang dialami masyarakat. Pertanyaan mengenai kerja pemerintah menjadi bentuk tuntutan agar pemegang kebijakan memberikan tanggapan yang nyata terhadap ancaman iklim. Penempatan dua spanduk ke arah yang berlawanan membuat pesan aksi dapat menjangkau sisi berbeda dari ruang publik sekaligus menegaskan bahwa persoalan ini membutuhkan perhatian luas.

Melalui aksi tersebut, Greenpeace menilai krisis iklim kian menambah beban kehidupan warga. Dampaknya dapat berkaitan dengan keselamatan, kondisi tempat tinggal, mata pencaharian, serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika bencana mengganggu aktivitas dan sumber penghasilan, tekanan ekonomi dapat ikut meningkat. Karena itu, pesan tentang biaya hidup dan bencana disampaikan sebagai dua persoalan yang saling berhubungan, bukan isu yang berdiri sendiri. Aksi ini mendesak pemerintah untuk lebih serius menangani ancaman iklim, melindungi keselamatan masyarakat, dan menjaga kesejahteraan warga. Desakan tersebut juga mengingatkan bahwa kebijakan penanganan krisis perlu memperhitungkan kelompok yang paling rentan terhadap dampak bencana dan perubahan kondisi lingkungan. Dengan menyampaikan seruan secara terbuka di salah satu pusat aktivitas Jakarta, Greenpeace berupaya mendorong perhatian publik terhadap tanggung jawab pemerintah serta pentingnya langkah yang berpihak pada kebutuhan masyarakat. Pesan pada spanduk mengajak agar penanganan krisis iklim tidak ditunda, sebab beban yang ditanggung warga dapat semakin berat ketika risiko terus meningkat dan perlindungan belum memadai.

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menyoroti bahwa dampak krisis iklim tidak dirasakan secara merata. Kelompok pekerja yang rentan secara ekonomi cenderung menanggung beban paling berat, karena penghasilan dan kondisi kerja mereka sering bergantung langsung pada lingkungan serta aktivitas sehari-hari. Ketika cuaca ekstrem atau bencana ekologis terjadi, mereka mungkin tidak memiliki tabungan, perlindungan kerja, maupun akses memadai untuk segera memulihkan keadaan. Risiko tersebut dapat menjalar dari gangguan kesehatan dan keselamatan menuju hilangnya kesempatan bekerja. Karena itu, krisis iklim bukan hanya persoalan perubahan lingkungan, tetapi juga persoalan keadilan yang menyangkut kemampuan warga untuk bertahan hidup dan memperoleh penghidupan layak.

Cuaca ekstrem dan bencana ekologis dapat mengancam keselamatan serta kesehatan pekerja, sekaligus mengganggu mata pencaharian mereka. Banjir, panas berlebih, atau kondisi lingkungan yang memburuk dapat membuat pekerjaan di luar ruangan menjadi berbahaya dan menghambat kegiatan usaha. Pekerja harian, pedagang kecil, buruh, serta warga yang mengandalkan sumber daya alam berisiko kehilangan jam kerja atau pelanggan saat aktivitas terhenti. Ketika pekerjaan terganggu, pendapatan ikut tertekan, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Dampak ini berlapis: kerugian ekonomi dapat membatasi kemampuan keluarga untuk memperoleh layanan kesehatan, memperbaiki tempat tinggal, atau menghadapi gangguan berikutnya. Mereka yang memiliki pilihan kerja dan perlindungan paling sedikit sering kali paling sulit pulih.

Tekanan juga muncul melalui kenaikan harga pangan. Gangguan terhadap produksi dan distribusi akibat kondisi iklim dapat membuat bahan kebutuhan pokok semakin mahal, sehingga bagian pendapatan yang harus digunakan untuk makan bertambah. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, perubahan harga tersebut dapat memaksa pengurangan belanja lain dan memperbesar kerentanan. Jeanny juga menekankan kabut asap berkepanjangan sebagai contoh dampak krisis ekologis yang memengaruhi kehidupan warga. Paparan asap dapat memicu gangguan kesehatan, sedangkan jarak pandang yang buruk dan kualitas udara yang menurun dapat menghambat perjalanan, kegiatan usaha, serta pekerjaan sehari-hari. Dengan demikian, dampak krisis iklim dan ekologis terasa sekaligus pada tubuh, waktu kerja, penghasilan, dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar.

Di tengah dampak krisis iklim yang kian terasa, masyarakat juga harus menghadapi tekanan ekonomi sehari-hari. Kenaikan biaya hidup membuat kebutuhan pokok dan pengeluaran rumah tangga semakin sulit dijangkau, sementara ketidakpastian pekerjaan menambah beban bagi banyak keluarga. Situasi tersebut diperparah oleh gelombang pemutusan hubungan kerja yang mengancam sumber penghasilan dan membuat warga semakin khawatir mengenai masa depan. Bagi masyarakat yang sudah rentan, perubahan kondisi lingkungan bukan persoalan yang terpisah dari keseharian: dampaknya hadir bersamaan dengan persoalan pekerjaan, pendapatan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Jeanny membandingkan keadaan yang dihadapi warga itu dengan sejumlah janji pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintah, menurut janji yang disampaikan, menargetkan penciptaan lapangan kerja, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, warga masih menghadapi pekerjaan yang tidak pasti, biaya hidup yang meningkat, dan ancaman kehilangan penghasilan. Perbandingan tersebut menyoroti jarak sasaran kebijakan yang diumumkan dan pengalaman masyarakat yang harus menanggung tekanan ekonomi sekaligus menghadapi risiko iklim. Ketahanan pangan dan energi, misalnya, berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga, sehingga pelaksanaannya penting bagi warga yang merasakan perubahan harga maupun gangguan pada kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan Jeanny janji penciptaan kerja dan peningkatan kesejahteraan perlu dinilai bersama langkah nyata untuk.

Baca juga: Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan

banner 325x300