banner 728x250

Hotspot Sumsel Menembus 1.917 Titik, Lahan Gambut OKI Paling Terdampak

Hotspot Sumsel Menembus 1.917 Titik, Lahan Gambut OKI Paling Terdampak
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Sumatra Selatan mencatat 1.917 hotspot pada Senin, 12 Oktober 2026. Jumlah tersebut menjadi angka tertinggi yang terpantau sepanjang musim kemarau tahun ini, sekaligus menunjukkan meningkatnya indikasi aktivitas panas di sejumlah wilayah. Data ini memberikan gambaran mengenai kondisi kewaspadaan kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika cuaca kering dan curah hujan rendah dapat mempercepat munculnya titik panas.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan sebaran hotspot terbanyak di Sumatra Selatan. Dari total 1.917 titik yang terpantau, sebanyak 1.271 titik berada di wilayah tersebut. Konsentrasi ini membuat OKI menjadi pusat perhatian dalam pemantauan terbaru, khususnya karena sebagian besar titik panas terdeteksi di kawasan lahan gambut.

banner 325x300

Lahan gambut diketahui memiliki karakteristik yang membuatnya lebih rentan mengalami pengeringan dan menyimpan panas dalam periode panjang. Dalam pemantauan kali ini, jumlah hotspot di lahan mineral disebut tidak sebanyak titik yang terpantau di lahan gambut. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan untuk meningkatkan pengawasan pada kawasan gambut, termasuk melalui pemeriksaan lapangan dan pencegahan sejak indikasi awal muncul.

Informasi mengenai sebaran titik panas itu bersumber dari sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan Sipongi milik Kementerian Kehutanan. Sipongi digunakan untuk mendeteksi indikasi panas berdasarkan data pemantauan, sehingga hotspot tidak dapat langsung dipahami sebagai kepastian telah terjadi kebakaran. Setiap titik tetap memerlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan untuk memastikan penyebab, lokasi, serta tingkat ancaman yang ditimbulkannya. Dengan demikian, angka 1.917 hotspot menjadi dasar penting bagi pemerintah dan petugas terkait untuk mempercepat pemantauan, mengidentifikasi wilayah berisiko, serta mengambil langkah pencegahan di OKI dan daerah lain di Sumatra Selatan.

Banyaknya titik panas yang terdeteksi di Sumatera Selatan, terutama pada kawasan lahan gambut Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), perlu segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan langsung di lapangan. Kepala Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Sudirman, menjelaskan bahwa data hotspot belum cukup untuk menggambarkan kondisi kebakaran secara menyeluruh. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan lokasi titik panas, luas area yang terdampak, serta apakah indikasi tersebut benar-benar menunjukkan kebakaran yang masih berlangsung.

Verifikasi lapangan juga menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan bentuk penanganan yang paling sesuai. Tim perlu membedakan titik panas yang berada di lahan terbuka, perkebunan, atau kawasan gambut, karena karakter setiap lokasi memengaruhi tingkat kesulitan pemadaman. Pada lahan gambut, api dapat menjalar di bawah permukaan dan tetap menyala meskipun tidak selalu terlihat dari udara. Kondisi tersebut membuat proses pendinginan dan pemantauan harus dilakukan secara berulang.

Operasi penanganan masih melibatkan satuan tugas darat dan udara. Selain OKI, wilayah yang menjadi fokus adalah Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Pola operasi dilakukan secara terpadu: helikopter lebih dahulu menjalankan patroli untuk memantau lokasi dan perkembangan api. Setelah titik yang memerlukan penanganan teridentifikasi, tim darat bergerak menuju area tersebut, sementara operasi water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air dari udara. Langkah ini digunakan untuk membantu membatasi penyebaran api, khususnya ketika akses menuju lokasi sulit dijangkau melalui jalur darat.

Sudirman menyampaikan bahwa laporan mengenai hotspot harus diikuti pengecekan kondisi faktual agar respons tidak hanya berdasarkan pembacaan citra atau data pemantauan. Koordinasi kru udara, petugas darat, dan unsur terkait diperlukan untuk memastikan setiap indikasi kebakaran mendapat tindak lanjut. Dengan pemeriksaan yang lebih terarah, sumber daya pemadaman dapat diprioritaskan ke wilayah yang memiliki ancaman paling besar terhadap lingkungan dan masyarakat.

Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) mencatat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebagai wilayah dengan titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak di Sumatera Selatan. Sebaran titik api tersebut berada di sejumlah kawasan, termasuk Menang Raya, Riding, dan Pulu Beruang. Catatan itu menunjukkan bahwa aktivitas penanganan karhutla di OKI mencakup wilayah yang cukup luas, terutama kawasan lahan gambut yang memiliki karakter mudah terbakar ketika berada dalam kondisi kering.

Selain tiga lokasi tersebut, karhutla juga tercatat di kawasan Suaka Margadatwa Padang Sugihan. Kawasan ini disebut telah terbakar selama lebih dari sebulan. Durasi kebakaran yang panjang membuat penanganan di lapangan perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan menyesuaikan kondisi medan serta ketersediaan sarana pendukung. Petugas masih berupaya memadamkan api menggunakan potensi yang tersedia di lokasi, tanpa mengabaikan tantangan yang muncul selama proses penanganan.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyampaikan bahwa tim darat menghadapi kesulitan dalam menemukan sumber air. Sungai dan kanal buatan di sejumlah area banyak yang mengering, sehingga akses untuk memperoleh air menjadi terbatas. Kondisi tersebut turut menyulitkan upaya pemadaman, khususnya di wilayah yang jauh dari sumber air atau memiliki akses medan yang tidak mudah dilalui. Selain itu, material lahan yang kering membuat api cepat membesar dan merambat ke area lain. Situasi ini menjadi kendala tersendiri bagi petugas yang masih melakukan penanganan dengan potensi yang tersedia di lapangan.

Kualitas udara di Palembang berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5, yang dapat mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

Berdasarkan pemantauan stasiun Talang Betutu, konsentrasi PM2.5 pada pukul 00.00–08.00 WIB berada pada kisaran 120,6 hingga 354,5 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, pada pukul 09.00–15.00 WIB, angkanya tercatat berkisar 144,7 hingga 229,8 mikrogram per meter kubik. Nilai tersebut masih menunjukkan pencemaran udara yang tinggi, meskipun konsentrasinya cenderung menurun dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pada periode sebelumnya, PM2.5 di wilayah Palembang sempat menembus 900 mikrogram per meter kubik.

Penurunan konsentrasi PM2.5 tetap perlu dibaca bersama perkembangan titik panas di Sumatera Selatan. Data yang tersedia mencatat 42 titik panas di Ogan Komering Ulu Timur, 17 titik di Ogan Komering Ulu Selatan, dan 8 titik di Penukal Abab Lematang Ilir. Angka-angka tersebut merupakan data yang tercantum dalam bahan sumber. Daftar yang tersedia tidak lengkap, sehingga tidak dapat digunakan untuk menetapkan total keseluruhan titik panas atau menyebut wilayah lain di luar data tersebut.

Pemantauan kualitas udara dan titik panas terus menjadi bagian penting dalam melihat dampak kebakaran lahan, terutama ketika asap masih memengaruhi kondisi atmosfer Palembang. Data ISPU dari stasiun Talang Betutu menggambarkan perubahan konsentrasi PM2.5 sepanjang hari, sedangkan pencatatan hotspot memberikan informasi mengenai sebaran indikasi panas di sejumlah wilayah. Kedua pemantauan tersebut menjadi rujukan untuk mengikuti kondisi udara dan perkembangan titik panas berdasarkan data yang tersedia.

banner 325x300