BOGOR, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, menilai aktivasi energi hijau berpotensi memperkuat perekonomian Indonesia. Pandangan tersebut menempatkan energi terbarukan, termasuk panas bumi, bukan semata sebagai sumber listrik alternatif, melainkan sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Pengembangan energi hijau dapat menciptakan nilai tambah melalui pembangunan proyek, peningkatan kapasitas teknologi, serta pembentukan rantai pasok domestik yang melibatkan berbagai pelaku usaha. Dengan potensi sumber daya alam yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan sektor ini sebagai salah satu penopang transformasi ekonomi nasional.
Peluang ekonomi tersebut terlihat dari kebutuhan investasi dalam eksplorasi, pembangunan pembangkit, penyediaan peralatan, dan penguatan jaringan transmisi. Setiap tahapan dapat mendorong aktivitas perusahaan nasional, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan permintaan terhadap jasa konstruksi, rekayasa, manufaktur, dan pemeliharaan. Investasi di bidang panas bumi dan energi terbarukan juga berpotensi menarik modal jangka panjang karena proyeknya mendukung agenda pengurangan emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi. Apabila didukung kebijakan yang konsisten, pengembangan proyek dapat memperluas basis industri dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekonomi rendah karbon.
Energi hijau juga memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan sektor manufaktur. Ketersediaan energi yang lebih bersih dan andal dapat membantu industri memenuhi tuntutan pasar global, terutama ketika pembeli semakin memperhatikan jejak karbon dalam rantai pasok. Kondisi ini membuka ruang bagi tumbuhnya industri hijau, mulai dari produksi komponen energi terbarukan hingga pengolahan bahan baku dan pengembangan teknologi efisiensi energi. Karena itu, pembahasan mengenai energi hijau perlu mencakup ekosistem yang lebih luas, yakni hubungan investasi, infrastruktur, industri, tenaga kerja, dan konsumsi energi. Penguatan keterkaitan tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta mendukung perubahan struktur ekonomi Indonesia menuju kegiatan bernilai tambah lebih tinggi.
Kebutuhan investasi hijau Indonesia diperkirakan berada pada kisaran US$45 miliar hingga US$60 miliar. Dengan asumsi nilai tukar Rp17.890 per dolar AS, kebutuhan tersebut setara dengan sekitar Rp804,9 triliun sampai Rp1.073 triliun. Perkiraan ini menunjukkan besarnya modal yang diperlukan untuk mempercepat peralihan menuju kegiatan ekonomi yang lebih rendah emisi sekaligus memperkuat basis industri nasional.
Yudistian menyampaikan proyeksi tersebut dalam media gathering yang dikutip pada 5 Oktober 2026. Besaran investasi itu mencakup dua sisi utama yang saling berkaitan. Sisi pertama adalah penyediaan energi terbarukan, termasuk kebutuhan untuk memperluas ketersediaan sumber energi yang lebih bersih guna mendukung permintaan listrik dan kegiatan ekonomi. Pengembangan energi terbarukan menjadi bagian penting karena transisi energi memerlukan peningkatan kapasitas serta kesiapan sistem pendukungnya.
Sisi kedua adalah pengembangan industri hijau. Bidang ini berkaitan dengan penguatan aktivitas industri agar mampu menerapkan proses produksi yang lebih berkelanjutan dan memanfaatkan energi secara lebih efisien. Dengan demikian, kebutuhan investasi tidak hanya diarahkan pada penyediaan energi, tetapi juga pada pembentukan kapasitas industri yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Kisaran US$45 miliar hingga US$60 miliar tersebut menggambarkan skala kebutuhan secara keseluruhan, bukan angka untuk satu bidang saja. Pemisahan energi terbarukan dan industri hijau membantu memperlihatkan bahwa agenda ekonomi hijau memiliki cakupan luas. Keduanya perlu berkembang secara beriringan agar pasokan energi yang lebih bersih dapat mendukung aktivitas industri, sementara industri yang berkembang dapat memperkuat permintaan dan pemanfaatan energi terbarukan. Dalam konteks itu, kebutuhan investasi hingga Rp1.073 triliun mencerminkan tantangan sekaligus peluang bagi penguatan transformasi ekonomi Indonesia.
Yudistian menilai investasi hijau dalam skala besar memiliki potensi untuk memberikan sumbangan berarti terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Berdasarkan pandangan tersebut, tambahan terhadap PDB diproyeksikan berada di sekitar 6 persen, dengan kemungkinan mencapai tingkat maksimum hingga 11 persen. Angka ini merupakan perkiraan mengenai peluang ekonomi yang dapat terbuka apabila investasi hijau dikembangkan secara luas dan konsisten, bukan gambaran mengenai capaian yang telah terealisasi.
Proyeksi tersebut berkaitan dengan terbentuknya ekosistem industri hijau. Investasi pada energi terbarukan dan infrastruktur pendukung tidak hanya dipandang sebagai penambahan kapasitas energi, tetapi juga sebagai pemicu berkembangnya berbagai kegiatan ekonomi yang saling terhubung. Ketika proyek-proyek energi hijau berjalan, kebutuhan terhadap teknologi, peralatan, jasa konstruksi, pembiayaan, pemeliharaan, serta sumber daya manusia dapat ikut meningkat.
Rangkaian kegiatan itu berpotensi mendorong munculnya industri baru dan memperkuat rantai pasok domestik. Produsen komponen, penyedia layanan teknis, lembaga pembiayaan, serta pelaku usaha yang mendukung pengelolaan energi dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Dengan demikian, pengaruh investasi hijau terhadap pertumbuhan ekonomi tidak hanya dihitung dari nilai proyek energi yang dibangun, tetapi juga dari aktivitas industri dan jasa yang terbentuk di sekitarnya.
Dalam kerangka yang disampaikan Yudistian, semakin besar dan terintegrasi investasi hijau, semakin besar pula peluang kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Namun, besaran sekitar 6 persen hingga kemungkinan maksimum 11 persen tetap perlu dipahami sebagai proyeksi yang bergantung pada skala investasi, kesiapan industri, kebijakan pendukung, dan kemampuan membangun ekosistem hijau. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ruang pertumbuhan yang potensial, sekaligus menegaskan bahwa dampak ekonomi akan bergantung pada proses pengembangan yang berlangsung secara nyata.
Kebutuhan listrik dari industri hijau diperkirakan meningkat secara signifikan pada periode 2026 hingga 2034. Berdasarkan proyeksi yang ada, permintaan energi untuk mendukung kegiatan industri tersebut dapat mencapai sekitar 3,5 hingga 6,3 kali lipat dibandingkan tingkat kebutuhan saat ini. Kenaikan ini mencerminkan semakin luasnya aktivitas produksi, investasi, dan pengolahan yang mengutamakan efisiensi sumber daya serta penggunaan energi dengan emisi lebih rendah.
Pertumbuhan kebutuhan tersebut juga berkaitan erat dengan penerapan dan tuntutan standar environmental, social, and governance (ESG). Perusahaan perlu memenuhi persyaratan keberlanjutan dari investor, pembeli global, mitra usaha, maupun regulator. Aspek lingkungan, terutama sumber energi yang digunakan dalam proses produksi, menjadi bagian penting dalam penilaian tersebut. Industri yang mampu menunjukkan penggunaan energi terbarukan dan pengelolaan emisi yang lebih baik akan lebih siap menghadapi perubahan persyaratan pasar internasional.
Ekosistem industri hijau yang mendorong peningkatan permintaan listrik mencakup berbagai sektor. Manufaktur berorientasi ekspor membutuhkan pasokan energi yang konsisten untuk menjaga daya saing dan memenuhi standar rantai pasok global. Sektor tekstil juga menghadapi dorongan untuk mengurangi jejak karbon pada proses produksi. Di sisi lain, perkembangan kendaraan listrik meningkatkan kebutuhan energi untuk pembuatan komponen, perakitan, serta berbagai fasilitas pendukungnya. Pusat data memerlukan listrik dalam jumlah besar dan pasokan yang andal, sementara industri pengolahan mineral membutuhkan energi intensif untuk memproses bahan baku menjadi produk bernilai tambah.
Perkembangan sektor-sektor tersebut perlu diimbangi dengan penyediaan energi terbarukan yang memadai, andal, dan sesuai dengan kebutuhan operasional industri. Pengembangan kapasitas pembangkit, jaringan transmisi, serta infrastruktur pendukung perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan manufaktur berorientasi ekspor, tekstil, kendaraan listrik, pusat data, dan industri pengolahan mineral. Keterpaduan ini penting agar pemenuhan standar ESG dapat didukung oleh pasokan energi yang berkelanjutan.







