BATAM, KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kawasan transmigrasi Barelang di Batam menjadi ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Indonesia dan Jerman. Melalui kegiatan lintas negara ini, para peserta tidak hanya mempelajari konsep pembangunan berkelanjutan di ruang kelas, tetapi juga mengamati secara langsung kondisi, potensi, dan tantangan kawasan. Barelang, yang mencakup Batam, Rempang, dan Galang, dipilih sebagai lokasi untuk memahami hubungan pengembangan wilayah, kehidupan masyarakat, serta pengelolaan lingkungan.
Selama berada di lapangan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat karakter kawasan secara lebih dekat. Mereka dapat mengenali berbagai sumber daya yang berpotensi dikembangkan, mulai dari sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pemanfaatan ruang yang mempertimbangkan daya dukung alam. Pengamatan tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk berdiskusi dan menyusun gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan ini menempatkan pengalaman langsung sebagai bagian penting dalam proses belajar.
Pertukaran pengetahuan mahasiswa Indonesia dan Jerman juga memperkaya pembahasan mengenai arah pembangunan di Barelang. Perspektif dari kedua negara memungkinkan peserta membandingkan pengalaman, menguji gagasan, serta merumuskan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan inklusif. Gagasan pembangunan hijau yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai kajian akademik, melainkan dapat menjadi masukan untuk melihat peluang pengembangan kawasan secara lebih bertanggung jawab. Dengan demikian, kawasan transmigrasi Barelang berfungsi sebagai laboratorium sosial dan lingkungan, tempat mahasiswa memahami bahwa kemajuan wilayah perlu berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Batam, Rempang, dan Galang.
Summer Course 2026 menjadi ruang pembelajaran bersama bagi mahasiswa Technical University of Munich dari Jerman dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk mempertemukan peserta dalam proses belajar yang tidak hanya berlangsung melalui pembahasan akademik, tetapi juga melalui pengamatan langsung terhadap kondisi kawasan transmigrasi Barelang. Dengan demikian, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami pengembangan hijau melalui konteks yang nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat serta lingkungan setempat.
Pembelajaran lapangan dalam program tersebut berlangsung selama 10 hari dan mencakup Batam, Rempang, serta Galang. Rentang lokasi itu memberikan pengalaman yang memungkinkan mahasiswa melihat keterkaitan gagasan yang dipelajari dan situasi yang dihadapi di lapangan. Selama mengikuti rangkaian pembelajaran, peserta berhadapan dengan kondisi yang menjadi bagian penting dalam memahami tantangan dan peluang pengembangan kawasan secara lebih menyeluruh. Pengalaman tersebut membantu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh secara akademik dengan realitas yang tidak selalu dapat dipahami hanya melalui teori.
Keberagaman latar belakang keilmuan peserta turut memperkaya proses pertukaran pengetahuan selama Summer Course 2026. Mahasiswa dari Jerman dan Indonesia membawa sudut pandang yang berbeda, kemudian mempertemukannya dalam pembelajaran yang berorientasi pada kondisi nyata. Pertemuan lintas negara dan lintas keilmuan ini membuka ruang untuk melihat suatu persoalan dari lebih dari satu perspektif, sekaligus mendorong pemahaman yang lebih kontekstual. Bagi peserta, pengalaman selama 10 hari di Batam, Rempang, dan Galang menjadi bagian dari proses untuk menguji, memperluas, serta mengaitkan pengetahuan akademik dengan keadaan di lapangan. Melalui pendekatan tersebut, program ini menempatkan pembelajaran langsung sebagai unsur penting dalam memahami pengembangan hijau di kawasan transmigrasi Barelang.
Selama berada di kawasan transmigrasi Barelang, mahasiswa Indonesia dan Jerman mempelajari berbagai aspek yang membentuk perkembangan wilayah secara langsung. Pengamatan tidak hanya diarahkan pada potensi ekonomi, tetapi juga pada hubungan kegiatan produksi, kondisi lingkungan, ketersediaan infrastruktur, dan kehidupan masyarakat. Kawasan ini menjadi ruang pembelajaran untuk memahami bagaimana sumber daya lokal, aktivitas warga, serta dukungan konektivitas dapat dikaji secara bersama dalam perencanaan pembangunan.
Dari sisi ekonomi, peserta menelaah peluang pengembangan yang dapat tumbuh dari karakter dan potensi kawasan. Kajian tersebut ditempatkan dalam konteks pengembangan kawasan ekonomi yang terintegrasi, yaitu pendekatan yang menghubungkan kegiatan ekonomi dengan pengelolaan ruang, lingkungan, sarana dasar, dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan tidak dipahami secara sektoral atau hanya berfokus pada pertumbuhan usaha, melainkan sebagai proses yang mempertimbangkan keterkaitan antarkomponen wilayah serta keberlanjutan pemanfaatan sumber daya.
Aspek lingkungan menjadi bagian penting dalam pembelajaran tersebut. Mahasiswa diajak memperhatikan kondisi alam dan tantangan pengelolaan kawasan, kemudian menghubungkannya dengan pilihan pembangunan yang lebih bertanggung jawab. Infrastruktur juga dipelajari untuk melihat perannya dalam mendukung mobilitas, pelayanan, dan kegiatan masyarakat. Pada saat yang sama, interaksi dengan kehidupan warga membantu peserta memahami kebutuhan, pengalaman, serta dinamika sosial yang tidak selalu terlihat melalui pembahasan teoretis.
Kegiatan di Barelang karena itu tidak berhenti pada penyampaian konsep di ruang belajar. Berdasarkan kondisi yang mereka temui, mahasiswa didorong untuk menyusun gagasan pengembangan kawasan yang lebih hijau dan terintegrasi. Proses ini menuntut mereka menggabungkan hasil pengamatan ekonomi, lingkungan, infrastruktur, dan sosial ke dalam cara pandang yang menyeluruh. Gagasan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan eksplorasi akademik, tanpa mendahului keputusan pembangunan atau menyimpulkan dampak ekonomi yang belum disebutkan.
Kawasan Barelang dipilih sebagai ruang pembelajaran karena memiliki karakter yang memungkinkan penggabungan berbagai kegiatan ekonomi dalam satu wilayah. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi, Nirwan Ahmad Helmi, menjelaskan bahwa kawasan tersebut dapat mempertemukan pengembangan pertanian, perikanan, usaha masyarakat, serta akses ekonomi ke Batam. Keterhubungan itu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mengenai pengembangan hijau, karena peserta dapat melihat hubungan potensi kawasan dan kegiatan ekonomi masyarakat secara langsung.
Menurut Nirwan, para peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga akan belajar dan bekerja bersama. Proses tersebut diharapkan memberi ruang untuk memahami pengelolaan potensi setempat melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat dan kegiatan usaha yang telah berkembang. Dalam arah pengembangan Barelang, perikanan dan kelautan dipandang sebagai penggerak ekonomi utama. Keduanya perlu didukung oleh layanan bagi usaha kecil agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Selain pengembangan perikanan dan kelautan, pariwisata budaya juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Pengembangannya harus tetap menghormati komunitas Melayu pesisir sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya setempat. Pada saat yang sama, masyarakat transmigrasi dan masyarakat lokal perlu dilibatkan dalam proses pengembangan kawasan. Keterlibatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus pelaku dalam kegiatan ekonomi. Dengan menggabungkan pertanian, perikanan, usaha masyarakat, dan pariwisata budaya, Barelang menjadi ruang untuk mempelajari pengembangan yang bertumpu pada potensi kawasan serta hubungan antarmasyarakat.














