banner 728x250

Teknologi Panas Bumi PGE Dukung Hasil Kubis Petani Kamojang

Teknologi Panas Bumi PGE Dukung Hasil Kubis Petani Kamojang
banner 120x600
banner 468x60

KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Panen tersebut memiliki nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Capaian ini menjadi inti kegiatan budidaya kubis yang dilakukan kelompok tani di wilayah tersebut, dengan hasil yang dihitung berdasarkan volume panen dan nilai penjualannya.

Dalam kegiatan tersebut, KTH Cikondang memanfaatkan pupuk Geothermal Organic Fertilizer atau Geo-Fert. Pupuk ini dikembangkan melalui pemanfaatan energi panas bumi, sehingga penggunaannya menjadi bagian dari proses budidaya kubis varietas Granova di lahan pertanian Desa Laksana. Pemanfaatan Geo-Fert tercatat dalam kegiatan yang menghasilkan panen sekitar 70 ton dari area seluas 1,2 hektare.

banner 325x300

Hasil panen dari lahan KTH Cikondang itu kemudian memiliki nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Angka tersebut menggambarkan nilai ekonomi dari kubis Granova yang dipanen di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Dengan demikian, kegiatan panen ini mencakup pemanfaatan Geo-Fert yang dikembangkan melalui energi panas bumi, budidaya pada lahan seluas 1,2 hektare, serta perolehan sekitar 70 ton kubis dengan nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Seluruh hasil tersebut berasal dari kegiatan KTH Cikondang di lokasi yang disebutkan.

Penggunaan Geo-Fert memberikan dampak langsung terhadap kegiatan budidaya kubis yang dilakukan petani di Kamojang. Pupuk yang dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi panas bumi PGE tersebut digunakan sebagai bagian dari pengelolaan nutrisi tanaman selama satu musim budidaya. Bagi petani, pemakaian Geo-Fert membantu mengurangi kebutuhan pembelian pupuk dari luar sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih rendah.

Dalam budidaya kubis pada lahan seluas 1,2 hektare, petani menggunakan sekitar 30 ton Geo-Fert. Pemakaian pupuk tersebut membantu menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta. Angka penghematan ini menjadi salah satu manfaat yang dirasakan dalam penerapan Geo-Fert, terutama karena kebutuhan pupuk untuk lahan budidaya dapat dipenuhi dengan memanfaatkan produk tersebut sesuai pola aplikasi yang telah ditetapkan.

Pola penggunaan Geo-Fert dilakukan dengan membedakan waktu aplikasi pupuk organik padat dan pupuk cair. Pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman. Aplikasi pada tahap awal ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahan dan penyediaan bahan organik sebelum bibit kubis ditanam. Dengan demikian, pupuk padat ditempatkan dalam rangkaian kegiatan pengolahan lahan, bukan diberikan secara berkala setelah tanaman tumbuh.

Sementara itu, pupuk cair digunakan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya. Pemberian dengan interval tersebut menjadi bagian dari pemeliharaan tanaman sejak masa pertumbuhan hingga kegiatan budidaya berlangsung. Pengaturan aplikasi pupuk padat dan pupuk cair membuat penggunaan Geo-Fert mengikuti tahapan budidaya kubis secara terstruktur. Selain mendukung kebutuhan pemupukan, penerapan ini membantu petani mengendalikan pengeluaran untuk pupuk, dengan penghematan yang tercatat sekitar Rp20 juta pada lahan 1,2 hektare tersebut.

Panen kubis di Kamojang menjadi bagian dari kegiatan Harepan yang dilaksanakan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026. Kegiatan tersebut menunjukkan pemanfaatan hasil penerapan pupuk Geo-Fert dalam mendukung kegiatan pertanian warga. Melalui panen ini, masyarakat dapat melihat hasil dari penggunaan produk yang dikembangkan untuk membantu pengelolaan lahan dan budidaya tanaman secara lebih produktif.

Harepan tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga mencerminkan keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Penerapan Geo-Fert menjadi salah satu bagian dari kegiatan tersebut, khususnya dalam mendukung pertumbuhan tanaman kubis yang dibudidayakan petani Kamojang. Pelaksanaan kegiatan bersama masyarakat sepanjang September 2026 memperlihatkan adanya pendampingan dan kerja sama dalam mengembangkan praktik pertanian di wilayah sekitar area operasi PGE.

Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Andi Joko Nugroho menyampaikan bahwa panas bumi juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat digunakan kembali untuk bertani. Pernyataan ini menegaskan salah satu bentuk pemanfaatan panas bumi dalam mendukung pengolahan limbah organik, sehingga hasilnya dapat digunakan kembali dalam kegiatan pertanian masyarakat.

Informasi mengenai keterlibatan PGE dalam kegiatan Harepan tersebut berasal dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Sabtu. Keterangan itu menyebutkan bahwa panen hasil bumi dan penerapan pupuk Geo-Fert dilaksanakan PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026. Dengan demikian, panen kubis menjadi bagian dari kegiatan yang menghubungkan pengelolaan limbah organik, pemanfaatan produk untuk bertani, dan dukungan terhadap kegiatan pertanian warga di sekitar wilayah Kamojang.

Geo-Fert merupakan pupuk organik yang produksinya memanfaatkan ekses uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Ekses tersebut memiliki suhu sekitar 60–70 derajat Celsius dan digunakan sebagai sumber panas dalam tahap pengeringan bahan pupuk. Pemanfaatan energi panas bumi ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di sekitar fasilitas pembangkit, sekaligus mendukung pengolahan pupuk organik secara lebih efisien.

Dalam proses konvensional, pengeringan pupuk organik dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari, bergantung pada kondisi bahan dan lingkungan. Dengan memanfaatkan panas dari ekses uap PLTP Kamojang, proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat, yakni sekitar 12 jam. Percepatan ini membantu mempersingkat waktu produksi Geo-Fert sehingga pupuk dapat diproses dan disiapkan untuk digunakan dalam kegiatan pertanian dengan lebih efisien. Teknologi ini juga menunjukkan bahwa panas sisa dari kegiatan pembangkitan listrik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif lainnya.

Pemanfaatan Geo-Fert kemudian dikaitkan dengan budidaya kubis petani di Kamojang. Beberapa kubis yang dipanen dilaporkan memiliki bobot sekitar 6 kilogram per buah, sedangkan rata-rata kubis lokal disebut berada di kisaran 3 kilogram. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya hasil panen yang menonjol, tetapi tidak dapat langsung disimpulkan semata-mata disebabkan oleh penggunaan Geo-Fert atau teknologi panas bumi. Bobot kubis juga dapat dipengaruhi oleh varietas, kualitas benih, kondisi tanah, ketersediaan air, cuaca, teknik pemeliharaan, serta waktu panen. Karena itu, pemanfaatan ekses uap dan produksi Geo-Fert lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari dukungan teknologi terhadap praktik pertanian, bukan satu-satunya faktor yang menentukan ukuran hasil panen.

banner 325x300