banner 728x250

BMKG Perkirakan Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur di Sebagian Besar Indonesia

Prediksi Keterlambatan Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 tidak akan berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia. Kedatangan musim hujan diprediksi terjadi secara bertahap, mengikuti kondisi masing-masing wilayah. Dengan demikian, sebagian daerah dapat lebih dahulu memasuki periode hujan, sementara wilayah lain masih menunggu perubahan pola musim.

Dalam perkiraan tersebut, awal musim hujan diprediksi mengalami keterlambatan di sebagian besar wilayah Indonesia. Waktu dimulainya hujan diperkirakan mundur dibandingkan pola yang biasanya menjadi acuan. BMKG menyampaikan bahwa perbedaan waktu tersebut menunjukkan karakter musim hujan yang tidak sama antarwilayah, sehingga perubahan musim perlu dipantau berdasarkan perkembangan kondisi setempat.

banner 325x300

Perkiraan keterlambatan ini berkaitan dengan pengaruh El Nino yang masih berlangsung. Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan BMKG dalam melihat perkembangan musim hujan 2026/2027. Pengaruh El Nino membuat kedatangan musim hujan diperkirakan belum terjadi secara bersamaan, melainkan berlangsung bertahap sesuai dinamika atmosfer di setiap daerah.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tanda masuknya musim hujan dapat muncul pada waktu yang berbeda satu wilayah dan wilayah lainnya. Pernyataan mengenai awal musim hujan 2026/2027 merupakan gambaran umum berdasarkan pemantauan dan perkiraan BMKG, bukan penetapan waktu yang berlaku seragam untuk seluruh Indonesia. Informasi perkembangan musim akan mengikuti pembaruan kondisi yang diamati dari waktu ke waktu.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik tercatat mencapai 2,63. Nilai tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan berlangsungnya El Nino dalam kategori sangat kuat. Kondisi laut di kawasan Pasifik itu turut menjadi perhatian dalam pemantauan dinamika atmosfer dan pola cuaca Indonesia pada periode mendatang.

Menurut keterangan BMKG, El Nino sangat kuat tersebut diproyeksikan masih bertahan hingga awal 2027. Keberlanjutan kondisi ini menjadi salah satu dasar dalam memperkirakan perubahan waktu datangnya musim hujan di berbagai wilayah. Dampaknya tidak terjadi secara seragam, tetapi terlihat dalam perbedaan awal musim hujan antarwilayah dan zona musim.

Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa anomali suhu muka laut dengan nilai 2,63 merupakan salah satu indikator El Nino kategori sangat kuat. Ia juga menyatakan bahwa kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Keterangan itu menjadi bagian dari penjelasan BMKG mengenai faktor yang memengaruhi mundurnya awal musim hujan pada sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG memperkirakan awal musim hujan akan datang lebih lambat di 529 zona musim. Jumlah tersebut mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia. Dengan demikian, pengaruh El Nino sangat kuat diperkirakan masih terasa ketika sebagian wilayah memasuki periode yang semestinya menandai dimulainya musim hujan. Perkiraan tersebut menjadi gambaran mengenai cakupan wilayah yang berpotensi mengalami keterlambatan awal musim hujan hingga periode pemantauan berikutnya.

Perkembangan awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan berlangsung secara bertahap. Berdasarkan perkiraan BMKG, sebagian wilayah Indonesia belum memasuki periode hujan pada waktu yang sama. Perubahan kondisi dari satu bulan ke bulan berikutnya menunjukkan bahwa kedatangan hujan akan terjadi secara berangsur, sesuai dengan perkembangan masing-masing zona musim. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca dan pembaruan resmi di daerahnya, terutama ketika memasuki masa peralihan menuju musim hujan.

Pada November 2026, sebanyak 185 zona musim atau sekitar 24,66 persen dari luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim hujan. Angka tersebut menggambarkan bagian wilayah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki periode hujan pada bulan tersebut. Namun, perkiraan ini tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan langsung mengalami hujan secara serentak atau konsisten. Kondisi di setiap zona musim tetap dapat berbeda, sehingga hujan pada awal periode mungkin belum berlangsung merata.

Memasuki Desember 2026, jumlah zona musim yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan bertambah menjadi 266 zona musim. Cakupannya diperkirakan sekitar 17,31 persen luas daratan Indonesia. Perbedaan waktu November dan Desember menunjukkan bahwa sejumlah daerah masih mungkin mengalami kondisi yang relatif lebih kering sebelum hujan turun secara lebih konsisten. Dengan demikian, perkembangan awal musim hujan perlu dipahami sebagai proses bertahap, bukan perubahan serentak di seluruh wilayah. Informasi bulanan ini dapat menjadi gambaran mengenai waktu dimulainya musim hujan pada zona-zona yang disebutkan dalam perkiraan, tanpa menafsirkan kondisi di wilayah lain di luar data tersebut.

Keterlambatan awal musim hujan 2026/2027 di sejumlah wilayah Indonesia tidak serta-merta menunjukkan bahwa curah hujan sepanjang musim akan berada di bawah kondisi normal. Waktu dimulainya musim dan jumlah hujan yang terkumpul merupakan dua hal yang berbeda. Musim hujan dapat datang lebih lambat, tetapi akumulasi curah hujannya tetap berada pada kisaran yang lazim berdasarkan karakter iklim setiap wilayah. Karena itu, masyarakat perlu membedakan informasi mengenai pergeseran awal musim dari prediksi sifat curah hujan selama periode musim berlangsung.

BMKG memperkirakan akumulasi curah hujan pada 510 zona musim berada dalam kategori normal. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia. Perkiraan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah mengalami awal musim yang mundur, kondisi hujan secara keseluruhan diprediksi tidak menyimpang dari pola normal. Namun, kategori normal tidak berarti hujan turun secara merata setiap hari. Distribusi hujan tetap dapat berubah antardaerah dan antarwaktu, sehingga informasi prakiraan perlu dipantau bersama perkembangan cuaca terbaru.

Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai Desember 2026 hingga Februari 2027. Pada Desember 2026, puncak musim hujan diprediksi terjadi di 155 zona musim, yang mencakup sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia. Memasuki Januari 2027, sebanyak 162 zona musim atau sekitar 25,68 persen luas daratan diperkirakan mencapai puncaknya. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa puncak hujan tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia, melainkan mengikuti variasi pola musim tiap wilayah. Perkembangan pada Februari 2027 tetap menjadi bagian dari periode puncak yang diprakirakan, tanpa rincian angka atau wilayah khusus dalam bahan informasi ini.

banner 325x300