Jakarta | Simulasi elektabilitas dalam survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan Prabowo Subianto di urutan teratas dalam persaingan calon presiden. Presiden tersebut memperoleh 31,6 persen suara responden, unggul dibandingkan nama-nama lain yang masuk dalam pengukuran. Hasil ini menjadi bagian dari survei bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”, yang dirilis pada Minggu, 12 Oktober 2026.
Di posisi kedua, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih 11,4 persen. Angka itu menempatkannya di atas Anies Baswedan, yang memperoleh 10,1 persen. Selisih Dedi dan Anies sebesar 1,3 poin persentase menunjukkan bahwa keduanya berada dalam jarak yang relatif berdekatan, meski pada simulasi tersebut Dedi menempati peringkat lebih tinggi.
Pertanyaan yang diajukan kepada responden menggambarkan pilihan dalam skenario pemilihan langsung saat ini: siapa yang akan mereka pilih sebagai presiden jika pemilihan digelar sekarang. Karena itu, angka yang dilaporkan mencerminkan jawaban responden terhadap simulasi tersebut pada waktu survei dilakukan. Hasilnya bukan hasil pemungutan suara, melainkan gambaran preferensi yang terekam melalui survei.
Posisi Prabowo yang memimpin dengan 31,6 persen memperlihatkan jarak cukup besar dari dua nama berikutnya dalam daftar. Sementara itu, capaian Dedi Mulyadi menonjol karena ia berada di urutan kedua, mengungguli Anies dalam pertanyaan pilihan presiden tersebut. Meski demikian, peringkat dan persentase dalam survei perlu dibaca sesuai konteks metode, waktu pengumpulan data, serta rumusan pertanyaan yang digunakan.
Survei PPI ini memetakan persaingan elektabilitas dalam konteks evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Hasil simulasi memberi potret mengenai nama yang dipilih responden apabila pemilihan berlangsung pada saat survei, bukan kepastian mengenai hasil kontestasi mendatang. Dengan demikian, temuan utamanya adalah Prabowo berada di posisi teratas, diikuti Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan berdasarkan persentase yang diumumkan.
Dalam simulasi capres yang pertama, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 6,9 persen. Angka tersebut merupakan hasil yang tercatat untuk Gibran pada simulasi awal dalam survei PPI. Dengan demikian, persentase ini perlu dibaca sesuai konteks pertanyaan dan skenario simulasi pertama, bukan sebagai angka dari simulasi lain atau sebagai hasil akhir pemilihan. Penyebutan angka secara tepat membantu menggambarkan posisi nama-nama yang tercantum dalam hasil survei tersebut.
Di bawah angka Gibran dalam rangkaian nama yang dibahas pada bagian ini, Ganjar Pranowo memperoleh 4,4 persen. Hasil itu juga merujuk khusus pada simulasi capres pertama. Persentase Ganjar disampaikan sebagaimana tercatat, tanpa mengubahnya menjadi perkiraan atau mengaitkannya dengan alasan tertentu. Perbandingan angka Gibran dan Ganjar hanya menunjukkan selisih hasil yang ditampilkan dalam skenario awal tersebut.
Sementara itu, AHY memperoleh 2,3 persen dalam simulasi yang sama. Angka ini melengkapi hasil untuk tiga nama lain yang tercantum, yakni Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan AHY. Urutan hasilnya adalah Gibran dengan 6,9 persen, Ganjar dengan 4,4 persen, lalu AHY dengan 2,3 persen. Ketiganya merupakan persentase yang dilaporkan dalam simulasi capres pertama, sehingga tidak semestinya dicampur dengan angka dari skenario survei yang berbeda.
Data ini menyajikan hasil sebagaimana tersedia untuk masing-masing nama, tanpa memberikan penjelasan mengenai faktor yang mungkin memengaruhi perolehan tersebut. Karena itu, pembaca dapat melihat angka dan urutannya secara langsung: 6,9 persen untuk Gibran, 4,4 persen untuk Ganjar, serta 2,3 persen untuk AHY. Penegasan bahwa angka-angka tersebut berasal dari simulasi pertama menjaga konteks hasil tetap jelas. Bagian ini terbatas pada pelaporan persentase yang tercantum dan tidak menambahkan tafsir tentang dukungan pemilih, kecenderungan politik, ataupun penyebab perbedaan angka di ketiganya.
Ketika simulasi survei dikerucutkan menjadi 17 nama ketua umum partai politik, peta elektabilitas menunjukkan perubahan posisi dan jarak dukungan di tokoh yang diuji. Prabowo Subianto memperoleh angka tertinggi, yakni 34 persen. Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan 19,4 persen, terpaut 14,6 poin persentase dari Prabowo. Hasil ini menggambarkan bahwa dalam susunan nama tersebut, dukungan kepada Prabowo tetap lebih besar, sementara Anies menjadi tokoh dengan angka tertinggi berikutnya. Angka-angka ini merujuk pada skenario simulasi yang dilaporkan, bukan penetapan siapa yang akan maju atau menang dalam pemilihan.
Di bawah dua nama teratas, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meraih 11,1 persen, sedangkan Gibran Rakabuming Raka memperoleh 10,9 persen. Selisih keduanya hanya 0,2 poin persentase, sehingga posisi AHY dan Gibran dalam simulasi ini tampak berdekatan. Perbedaan tipis tersebut perlu dibaca sesuai konteks pengukuran, tanpa menganggap bahwa urutan kecil ini dengan sendirinya menunjukkan perubahan dukungan yang pasti. Hasil survei dapat dipengaruhi oleh susunan tokoh yang disodorkan kepada responden, waktu pengumpulan data, serta metodologi yang digunakan. Karena itu, angka masing-masing nama lebih tepat dipahami sebagai gambaran pada saat survei dilakukan.
Pengerucutan menjadi 17 nama memberi pembaca cara lain untuk melihat persaingan, tetapi tidak serta-merta menjadikan daftar itu sebagai daftar kandidat resmi. Nama-nama dalam simulasi merupakan pilihan yang diuji untuk mengukur respons responden, bukan konfirmasi pencalonan. Begitu pula, persentase yang tercatat bukan hasil pemungutan suara dan tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi pasti hasil pemilihan. Dengan batasan tersebut, temuan utamanya adalah Prabowo memimpin pada skenario ini, Anies menempati posisi kedua, dan AHY serta Gibran berselisih sangat tipis. Perbandingan ini dapat menjadi salah satu bahan untuk membaca dinamika politik, sembari mempertimbangkan bahwa peta dukungan masih dapat berubah seiring perkembangan situasi dan pilihan responden.
Dalam simulasi dengan lima nama yang diperkirakan maju sebagai calon presiden pada 2029, Prabowo memperoleh dukungan tertinggi, yakni 40,5 persen. Angka tersebut menempatkannya jauh di atas empat tokoh lain yang masuk dalam daftar pengujian. Hasil ini menggambarkan posisi Prabowo dalam skenario yang hanya mencakup lima nama tersebut, bukan keseluruhan kemungkinan kandidat maupun hasil pemilihan yang akan datang.
Anies berada di posisi berikutnya dengan 17,7 persen, disusul AHY yang memperoleh 14 persen. Gibran mencatat dukungan 12,2 persen, sedangkan Pramono Anung mendapatkan 3,9 persen. Dengan demikian, hasil simulasi menunjukkan jarak dukungan Prabowo dan nama-nama lain dalam daftar, sementara Anies menempati urutan kedua. Persentase tersebut merupakan angka yang dilaporkan untuk skenario lima nama itu.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menyampaikan keterangan mengenai tiga simulasi calon presiden yang dilakukan dalam survei tersebut. Hasil lima nama ini menjadi salah satu bagian dari pengujian elektabilitas yang dipaparkan. Karena setiap simulasi menggunakan susunan nama kandidat tertentu, pembacaan angka perlu merujuk pada skenario yang sedang dibahas. Informasi yang tersedia tidak mencantumkan rincian tambahan mengenai susunan maupun hasil dua simulasi lainnya.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. PPI melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Responden berusia minimal 17 tahun atau telah menikah, sesuai kriteria yang disebutkan dalam keterangan survei. Metode tatap muka dan cakupan lintas provinsi tersebut menjadi konteks pengumpulan data yang mendasari hasil simulasi.
Survei ini memiliki margin of error sebesar 2,83 persen. Angka tersebut perlu diperhatikan saat membaca perbedaan dukungan antarnama, karena hasil survei merupakan estimasi berdasarkan jawaban responden dan bukan penghitungan suara pemilu.
Baca juga: Kritik Prabowo kepada Para Pakar yang Mencemaskan | Pertimbangan Matang Prabowo dalam Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menkeu | Prabowo Dorong Danantara Dukung Pendanaan LRT Jakarta















