Jakarta, 17 Juni 2026 – Aktivitas di kawasan depan Gerbang Utama DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026) siang, sempat diwarnai aksi penyampaian pendapat yang dilakukan puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jakarta Peduli Indonesia. Massa aksi yang didominasi mahasiswa dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta Timur, tersebut menyuarakan penolakan terhadap berbagai bentuk kerja sama yang dinilai dapat memperluas pengaruh militer Amerika Serikat di Indonesia.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.35 WIB itu berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan dalam suasana tertib. Sekitar 30 peserta hadir dalam aksi tersebut dengan koordinator lapangan Delon dan Tanggi. Mereka membawa sejumlah spanduk serta perangkat pengeras suara sebagai sarana menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan anggota parlemen.
Sejak awal aksi, para peserta secara bergantian menyampaikan pandangan mereka mengenai isu yang berkembang terkait Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Dalam orasinya, massa menegaskan bahwa Indonesia harus tetap menjaga prinsip politik luar negeri bebas dan aktif serta tidak terlibat dalam kepentingan militer negara mana pun.
Berbagai tulisan yang terpampang di atas spanduk menjadi perhatian para pengguna jalan yang melintas di sekitar kompleks parlemen. Beberapa di antaranya memuat pesan penolakan terhadap kemungkinan penggunaan Bandara Internasional Kertajati sebagai fasilitas yang mendukung operasi militer Amerika Serikat. Selain itu, terdapat pula seruan agar pemerintah mempertahankan kedaulatan nasional serta tetap konsisten menjalankan kebijakan luar negeri yang independen.
Di tengah teriknya cuaca ibu kota, para peserta aksi secara bergantian menyampaikan pendapat melalui pengeras suara. Mereka menilai Indonesia tidak boleh menjadi bagian dari kepentingan strategis negara lain yang berpotensi menyeret bangsa ini ke dalam dinamika konflik internasional. Menurut mereka, posisi Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas dan aktif harus dijaga sebagaimana amanat konstitusi.
Dalam salah satu orasi yang disampaikan, massa aksi menyoroti isu mengenai dugaan pemanfaatan Bandara Kertajati untuk kepentingan latihan militer Amerika Serikat. Mereka mempertanyakan urgensi keterlibatan pihak asing dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sektor pertahanan di Indonesia. Bagi mereka, kemampuan dan kedaulatan nasional harus menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan.
Selain isu mengenai Kertajati, para mahasiswa juga menyinggung rencana pendirian pusat pemeliharaan, perbaikan dan overhaul atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) bagi pesawat C-130 Hercules di Indonesia. Menurut mereka, keberadaan fasilitas tersebut dikhawatirkan dapat membuka ruang semakin besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam bidang pertahanan nasional.
Melalui aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jakarta Peduli Indonesia menyampaikan enam poin tuntutan kepada pemerintah. Poin pertama adalah penolakan terhadap segala bentuk penggunaan Bandara Internasional Kertajati sebagai pangkalan, sarana operasi maupun fasilitas pendukung militer Amerika Serikat. Mereka berpendapat bahwa keberadaan fasilitas tersebut harus sepenuhnya diarahkan untuk kepentingan nasional dan tidak dimanfaatkan demi kepentingan negara lain.
Tuntutan berikutnya berkaitan dengan penolakan terhadap pendirian fasilitas MRO pesawat C-130 Hercules di Indonesia. Massa aksi berpandangan bahwa proyek tersebut berpotensi memperkuat pengaruh kepentingan militer Amerika Serikat di dalam negeri. Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah mempertimbangkan secara matang segala bentuk kerja sama yang berkaitan dengan sektor pertahanan.
Aliansi tersebut juga mengingatkan pemerintah agar tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif sebagaimana yang selama ini menjadi fondasi hubungan internasional Indonesia. Mereka menegaskan bahwa Indonesia tidak seharusnya menjadi bagian dari aliansi militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat.
Selain itu, para demonstran mendesak pemerintah untuk lebih mengutamakan kepentingan nasional di atas berbagai kepentingan pihak asing. Menurut mereka, kebijakan yang menyangkut sektor strategis harus ditempatkan dalam kerangka menjaga kedaulatan negara serta melindungi kepentingan bangsa dalam jangka panjang.
Tidak hanya itu, massa aksi juga meminta adanya jaminan bahwa wilayah Indonesia tidak akan dijadikan basis pendukung maupun tameng kepentingan negara lain. Mereka menilai, posisi strategis Indonesia di kawasan harus dimanfaatkan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas, bukan justru berpotensi menyeret bangsa ini ke dalam konflik global yang semakin kompleks.
Poin terakhir yang disampaikan dalam aksi tersebut berkaitan dengan transparansi kerja sama militer antara Indonesia dan Amerika Serikat. Para peserta menilai seluruh bentuk kerja sama pertahanan harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Mereka juga meminta agar DPR RI menjalankan fungsi pengawasannya sebagai representasi rakyat sehingga setiap kebijakan yang diambil tetap berada dalam koridor kepentingan nasional.
Selama berlangsungnya aksi, situasi di sekitar Gerbang Utama DPR RI terpantau relatif kondusif. Arus lalu lintas di kawasan tersebut masih dapat berjalan normal meski sempat melambat akibat adanya aktivitas penyampaian pendapat. Aparat keamanan yang berjaga tampak melakukan pengamanan secara humanis guna memastikan jalannya aksi berlangsung tertib dan tidak mengganggu ketertiban umum.
Sejumlah peserta aksi terlihat mengenakan atribut almamater kampus serta membawa spanduk berisi berbagai pesan yang menekankan pentingnya menjaga kedaulatan nasional. Dengan menggunakan pengeras suara, mereka secara bergantian menyampaikan pandangan serta seruan kepada pemerintah agar lebih berhati-hati dalam menjalin kerja sama di bidang pertahanan dengan negara lain.
Meski menyuarakan kritik terhadap berbagai isu yang berkembang, para peserta aksi tetap melaksanakan kegiatan secara damai. Tidak terlihat adanya tindakan anarkis maupun gesekan dengan aparat keamanan. Massa lebih banyak menghabiskan waktu dengan menyampaikan orasi serta membentangkan spanduk di depan pintu masuk kompleks parlemen.
Keberadaan aksi tersebut sempat menarik perhatian masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di sekitar kawasan Senayan. Beberapa warga tampak berhenti sejenak untuk membaca isi spanduk yang dibawa para demonstran. Sementara itu, aparat keamanan terus melakukan pengawasan guna memastikan kegiatan berlangsung aman hingga selesai.
Setelah berlangsung sekitar setengah jam lebih, para peserta secara bertahap mengakhiri kegiatan mereka. Tepat pada pukul 14.06 WIB, massa aksi membubarkan diri dengan tertib. Tidak terdapat insiden menonjol selama kegiatan berlangsung, dan situasi di sekitar Gedung DPR RI kembali berjalan normal.
Aksi yang digelar Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jakarta Peduli Indonesia tersebut menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait isu kedaulatan nasional dan arah kebijakan kerja sama pertahanan Indonesia. Dengan membawa berbagai tuntutan yang mereka suarakan, para peserta berharap pemerintah dapat mempertimbangkan secara serius berbagai masukan dari masyarakat serta tetap menempatkan kepentingan bangsa sebagai prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
Pewarta: Abdul Latif

















Respon (6)