banner 728x250
Bisnis  

Perumda Tirta Rora Dompu Benahi Pipa Tua dan Selidiki Sambungan Tak Resmi

Perumda Tirta Rora Dompu Benahi Pipa Tua dan Selidiki Sambungan Tak Resmi
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Dompu | Perumda Tirta Rora Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, membenahi jaringan perpipaan yang telah berusia tua untuk mengurangi gangguan distribusi air kepada pelanggan. Kondisi pipa yang belum optimal dapat memicu kebocoran, menurunkan tekanan, dan menghambat kelancaran aliran ke rumah warga. Karena itu, perbaikan infrastruktur menjadi salah satu fokus perusahaan dalam menanggapi keluhan masyarakat dan meningkatkan keandalan layanan. Langkah pembenahan dilakukan bersama penelusuran jaringan, agar kondisi pipa serta titik-titik yang berpotensi menimbulkan kehilangan air dapat diketahui dan ditangani secara lebih terarah.

Selain memperbaiki pipa, perusahaan juga menelusuri dugaan sambungan tidak resmi pada jaringan distribusi. Sambungan yang tidak tercatat dapat mengganggu pengaturan aliran dan berkontribusi terhadap kehilangan air, sehingga penertiban jaringan dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan layanan berlangsung sesuai ketentuan. Upaya ini juga berkaitan dengan penerimaan perusahaan: air yang hilang atau tidak terukur berpotensi mengurangi pendapatan yang dibutuhkan untuk mendukung pengelolaan dan pemeliharaan sistem. Dengan menekan kebocoran dan menata sambungan, Perumda diharapkan dapat menggunakan sumber daya secara lebih efisien serta memperkuat kemampuan menjaga layanan bagi pelanggan.

banner 325x300

Plt Direktur Perumda Tirta Rora, H. Didi Wahyudin, menyebut pembenahan infrastruktur dan penertiban jaringan sebagai fokus untuk menangani keluhan warga. Namun, peningkatan layanan membutuhkan proses dan tidak serta-merta membuat air mengalir sepanjang hari. Saat ini, layanan air belum dapat berlangsung 24 jam karena ketersediaan air dan kondisi perpipaan belum optimal. Perusahaan perlu mempertimbangkan kemampuan sumber air sekaligus memastikan jaringan dapat menyalurkan air secara memadai sebelum memperluas durasi distribusi. Melalui perbaikan bertahap dan penelusuran sambungan, Perumda berupaya mengurangi gangguan, menjaga kualitas layanan, serta meningkatkan pengelolaan operasional. Warga tetap diharapkan menggunakan air secara bijak dan menyampaikan keluhan melalui saluran layanan yang tersedia, sehingga informasi mengenai gangguan dapat membantu perusahaan menentukan penanganan yang diperlukan.

Dua jalur transmisi utama Perumda Tirta Rora Dompu mengalirkan air dari sumber menuju instalasi pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan. Namun, pipa pada jalur dari sumber menuju IPA Rora dan Kamudi telah berusia sekitar 40 tahun. Usia tersebut membuat jaringan rentan mengalami kebocoran dan kerusakan, sehingga volume air yang sampai ke instalasi tidak selalu sesuai kapasitas rancangannya. Gangguan pada pipa tua ini telah lama memengaruhi kelancaran layanan air bersih bagi masyarakat di wilayah yang bergantung pada kedua jalur tersebut.

Pada jalur A, air dialirkan menuju IPA Rora. Jalur ini semestinya membawa debit sekitar 100 liter per detik, tetapi saat ini jumlah yang mengalir hanya berkisar 50 hingga 60 liter per detik. Penurunan debit tersebut membatasi pasokan yang dapat diolah dan diteruskan ke pelanggan. Wilayah layanan jalur A mencakup Desa O’o dan Mangge Asi, serta Kelurahan Dorotangga, Bada, Bali, Kandai Satu, Karijawa, hingga Simpasai. Kebocoran di sepanjang pipa dapat mengurangi air sebelum mencapai instalasi, sehingga pemulihan kondisi jaringan menjadi penting untuk menjaga pasokan di kawasan-kawasan tersebut.

Jalur B menghubungkan intake Kamudi dengan IPA Selaparang. Dari kapasitas yang semestinya mencapai 40 liter per detik, debit yang tiba di instalasi kini hanya sekitar 23 liter per detik. Salah satu faktor yang turut memengaruhi kerusakan jalur ini adalah banjir yang terjadi setiap tahun. Sebagian pipa melintasi aliran sungai, sehingga terpapar risiko akibat arus dan perubahan kondisi sungai saat banjir. Ditambah usia pipa yang telah puluhan tahun, kebocoran dan kerusakan dapat berulang serta mengurangi air yang diterima instalasi. Kondisi dua jalur tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan pasokan bukan hanya berkaitan dengan kapasitas sumber, tetapi juga dengan kemampuan pipa transmisi menyalurkan air secara utuh. Perbaikan dan pembenahan jaringan diperlukan agar debit menuju IPA dapat meningkat dan layanan kepada pelanggan lebih terjaga.

Di samping pembenahan pipa tua, manajemen Perumda Tirta Rora Dompu juga menelusuri dugaan pemasangan sambungan air yang tidak melalui prosedur resmi. Untuk memastikan kondisi jaringan dan status pelanggan, perusahaan telah membentuk tim khusus. Tim tersebut bertugas mengidentifikasi jaringan yang terhubung ke pelanggan, memeriksa data administrasi, serta menelusuri kemungkinan penyimpangan pada sambungan. Langkah ini diharapkan membantu perusahaan memperoleh gambaran lebih akurat mengenai distribusi air dan penggunaan layanan di lapangan.

Berdasarkan data perusahaan pada 2026, terdapat 8.200 sambungan pelanggan, termasuk 5.675 pelanggan rumah tangga aktif. Namun, sekitar 3.000 pelanggan dilaporkan tidak membayar tagihan secara rutin setiap bulan. Kondisi itu menjadi perhatian karena pembayaran pelanggan berpengaruh langsung terhadap kemampuan perusahaan membiayai layanan. Manajemen perlu mencocokkan data pelanggan dengan kondisi jaringan, sekaligus mendorong kepatuhan pembayaran agar layanan dapat dipertahankan dan perbaikan teknis berjalan sesuai kebutuhan.

Pendapatan perusahaan saat ini rata-rata sekitar Rp150 juta per bulan. Penerimaan tersebut mencukupi kebutuhan operasional teknis dan pembayaran gaji 49 karyawan. Perusahaan memperkirakan penerimaan berpotensi melampaui Rp200 juta per bulan, atau bertambah sedikitnya Rp50 juta, apabila kepatuhan pembayaran meningkat dan kehilangan air dapat ditangani. Angka itu merupakan estimasi, bukan jaminan, sebab hasilnya bergantung pada pembayaran pelanggan serta efektivitas penanganan kebocoran dan penyimpangan jaringan. Didi mengimbau warga agar tidak membobol pipa atau membuat sambungan secara ilegal. Tindakan tersebut dapat menambah kebocoran, mengganggu tekanan air, dan mengurangi pasokan yang seharusnya diterima pelanggan lain. Karena itu, warga yang membutuhkan sambungan atau menemukan dugaan sambungan tanpa izin diminta menempuh jalur resmi dan melaporkannya kepada perusahaan. Penertiban perlu dilakukan dengan pemeriksaan yang cermat agar data pelanggan, kondisi pipa, serta kebutuhan perbaikan dapat ditangani secara tepat. Dengan kerja sama perusahaan dan masyarakat, penggunaan air dapat lebih tertib, sementara penerimaan yang terkumpul dapat mendukung keberlanjutan layanan dan pemeliharaan jaringan.Pemerintah Kabupaten Dompu merencanakan peremajaan jaringan distribusi air bersih di Kecamatan Dompu dan Woja pada tahun anggaran 2027. Rencana tersebut akan dibiayai melalui pinjaman daerah kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dengan nilai sekitar Rp40 miliar. Besaran ini merupakan penyesuaian dari usulan awal sebesar Rp70 miliar, sehingga lingkup dan kebutuhan pembiayaan diselaraskan dengan prioritas penanganan jaringan yang ada. Perencanaan itu ditujukan untuk memperbaiki infrastruktur distribusi yang selama ini menjadi salah satu faktor dalam pelayanan air kepada masyarakat.

Pembiayaan yang direncanakan terutama diarahkan untuk mengganti pipa utama, jaringan pembagi, serta sambungan rumah. Perbaikan pada bagian-bagian tersebut diharapkan membantu mengurangi gangguan dan meningkatkan penyaluran air kepada pelanggan di dua kecamatan. Namun, pekerjaan distribusi ini perlu dibedakan dari pembangunan pipa transmisi dan fasilitas pengambilan air baku. Kedua kebutuhan itu berada di luar fokus pembiayaan peremajaan jaringan yang direncanakan melalui pinjaman daerah, serta memerlukan penanganan dan koordinasi tersendiri.

Untuk pipa transmisi dan fasilitas pengambilan air baku, pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan instansi yang mengelola sumber daya air. Dukungan pemerintah pusat juga diharapkan berperan dalam merealisasikan infrastruktur tersebut. Didi menyatakan dukungan terhadap langkah bupati dalam mendorong peremajaan jaringan distribusi dan berharap persoalan layanan air dapat diselesaikan secara bertahap. Menurut harapannya, kolaborasi pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat dapat membantu memastikan kebutuhan infrastruktur ditangani sesuai kewenangan serta ketersediaan dukungan. Dengan pembagian peran yang jelas, penggantian jaringan di Dompu dan Woja dapat berjalan beriringan dengan upaya menyiapkan sumber dan jalur transmisi air, sehingga pembenahan layanan tidak hanya bertumpu pada satu jenis pekerjaan.

Baca juga: Minibus Keluarga Terperosok ke Kali Cikumpa, Polisi Masih Selidiki

banner 325x300