Kabupaten Bandung | Di tengah kemajuan kecerdasan buatan yang mengubah cara orang bekerja, sebagian anak muda justru mulai melirik bidang yang sering dianggap tradisional: pertanian. Kontras ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak serta-merta menghapus kebutuhan akan pekerjaan yang berhubungan dengan pangan dan pengelolaan sumber daya alam. Ketika sejumlah tugas rutin dapat diotomatisasi, aktivitas di lahan pertanian tetap memerlukan tenaga manusia, pengetahuan praktis, serta kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah.
Gambaran mengenai prospek tersebut tercantum dalam Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF). Laporan itu memproyeksikan petani dan pekerja pertanian sebagai salah satu kelompok profesi dengan pertumbuhan tertinggi secara global hingga 2030. Proyeksi ini berkaitan dengan perubahan kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor, termasuk produksi pangan, yang dipengaruhi perkembangan demografi, kondisi ekonomi, teknologi, dan transisi hijau. Dengan demikian, pertanian tidak hanya dipandang sebagai bidang lama, tetapi juga sebagai sektor yang tetap memiliki peran penting dalam perekonomian masa depan.
WEF memperkirakan sektor pertanian akan membutuhkan tambahan sekitar 35 juta pekerja dalam lima tahun ke depan. Angka ini menggambarkan skala kebutuhan tenaga kerja yang diproyeksikan meningkat di tingkat dunia, bukan jumlah lowongan yang tersedia di satu negara tertentu. Penting untuk menegaskan bahwa proyeksi tersebut bersifat global dan tidak secara khusus merujuk pada Indonesia. Kebutuhan aktual di setiap negara dapat berbeda, bergantung pada struktur industri, kebijakan, tingkat mekanisasi, produktivitas, dan kondisi pasar tenaga kerja setempat.
Meski demikian, temuan itu memberi konteks bagi generasi muda yang sedang mempertimbangkan pilihan karier. Pertumbuhan kebutuhan pekerja menunjukkan bahwa pertanian dapat menawarkan ruang kerja yang relevan, terutama ketika sektor ini beradaptasi dengan teknologi dan metode produksi baru. Kecerdasan buatan, sensor, analisis data, dan otomatisasi dapat mendukung pengambilan keputusan, tetapi penerapannya tetap membutuhkan pekerja yang memahami proses pertanian di lapangan. Karena itu, peluang ke depan mungkin tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan konvensional, melainkan juga peran yang memadukan keterampilan agrikultur dengan kompetensi digital. Namun, besarnya proyeksi global tidak otomatis menjamin ketersediaan pekerjaan atau kondisi kerja yang sama di setiap wilayah. Angka WEF lebih tepat dibaca sebagai petunjuk arah perubahan kebutuhan tenaga kerja, bukan kepastian mengenai peluang individual ataupun pasar kerja Indonesia secara langsung.
Sektor pertanian semakin strategis karena harus menjawab tiga tantangan yang saling berkaitan: kebutuhan pangan dunia yang terus bertambah, dampak perubahan iklim terhadap produksi, dan terbatasnya regenerasi tenaga kerja. World Economic Forum (WEF) menyoroti bahwa pertanian tidak hanya berperan menyediakan bahan pangan, tetapi juga perlu beradaptasi agar pasokan tetap terjaga ketika cuaca semakin sulit diprediksi. Kondisi ini membuat keahlian di bidang budidaya, pengelolaan lahan, teknologi pangan, dan rantai pasok semakin dibutuhkan. Bagi generasi muda, perubahan tersebut membuka ruang untuk berkontribusi melalui pekerjaan lapangan maupun peran berbasis teknologi dan kewirausahaan.
Tekanan terhadap sistem pangan diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan populasi dunia dapat mencapai puncak sekitar 10,3 miliar jiwa pada 2080-an. Angka itu merupakan proyeksi, bukan kepastian, dan dapat berubah mengikuti perkembangan demografi. Namun, perkiraan tersebut memberi gambaran tentang skala kebutuhan yang harus dipertimbangkan. World Resources Institute memperkirakan kesenjangan pangan global perlu ditutup hingga 56 persen pada 2050 agar kebutuhan dapat dipenuhi. Perkiraan ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja belum cukup; sistem pangan juga perlu lebih efisien, tangguh, dan mampu mengurangi kehilangan hasil.
Di sisi lain, ancaman krisis iklim dapat mengganggu hasil panen melalui kekeringan, banjir, perubahan musim, serta tekanan hama dan penyakit. Petani perlu menyesuaikan metode kerja dengan kondisi yang berubah, sementara inovasi seperti pertanian presisi, varietas tahan iklim, dan pengelolaan air dapat membantu. Meski demikian, teknologi tidak menggantikan kebutuhan akan tenaga manusia yang memahami kondisi lokal dan mampu mengambil keputusan. Perpaduan pengetahuan agronomi, data, serta praktik berkelanjutan menjadi semakin penting untuk menjaga ketersediaan pangan dalam jangka panjang.
Tantangan regenerasi menambah alasan mengapa peluang kerja di sektor ini dapat terbuka. Presiden World Farmers’ Organisation, Arnold Puech d’Alissac, memperingatkan bahwa banyak petani saat ini telah berusia lanjut dan akan segera pensiun. Jika semakin sedikit anak muda yang mengambil alih usaha tani, pengetahuan dan kapasitas produksi berisiko tidak berlanjut dengan baik. Situasi tersebut menghadirkan kebutuhan akan petani baru sekaligus tenaga profesional di bidang pendukung, mulai dari agribisnis hingga teknologi pertanian. Bagi Gen Z, sektor ini bukan semata pekerjaan tradisional, melainkan ruang untuk membangun karier yang menjawab kebutuhan masyarakat. Peluangnya akan bergantung pada dukungan pendidikan, akses lahan dan modal, serta kebijakan yang membantu petani muda berkembang.
Hendro Gunawan, 29 tahun, memilih bekerja sebagai petani kentang di kawasan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pertanian dapat menjadi ruang kerja yang relevan bagi generasi muda, termasuk ketika banyak orang membicarakan perubahan pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan. Bagi Hendro, profesi petani bukan pekerjaan yang patut dipandang sebelah mata. Ia melihat sektor ini memiliki nilai dan peluang yang layak dipertimbangkan, bukan sekadar pekerjaan tradisional yang ditinggalkan oleh anak muda.
Pandangan Hendro bertolak dari kebutuhan manusia yang mendasar: pangan. Ia memahami bahwa selama manusia membutuhkan makanan, pertanian akan tetap memiliki peran penting. Pangan yang dikonsumsi masyarakat berasal dari hasil pertanian, sehingga pekerjaan menanam dan menghasilkan bahan pangan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini memberi makna lebih luas pada pekerjaannya. Menjadi petani bukan hanya tentang menjalankan usaha, melainkan juga turut menopang pemenuhan kebutuhan yang akan terus ada.
Di sisi lain, Hendro melihat adanya peluang ekonomi di sektor pertanian. Usaha tani kentang dapat menjadi sumber penghidupan, sekaligus bidang yang menawarkan kesempatan bagi mereka yang bersedia menekuninya. Peluang tersebut tidak berarti bahwa pertanian bebas dari tantangan; namun, keberadaan kebutuhan pangan yang berkelanjutan memberi alasan untuk melihat sektor ini secara serius. Bagi generasi muda yang mempertimbangkan pilihan karier, pertanian dapat dipahami sebagai salah satu jalur kerja dengan fungsi nyata dan prospek yang terkait kebutuhan masyarakat.
Pengalaman Hendro mengingatkan bahwa pembicaraan tentang masa depan kerja tidak hanya berkisar pada teknologi baru. Di tengah era AI, kebutuhan akan pangan tetap membuat pertanian relevan. Teknologi dapat mengubah berbagai cara bekerja, tetapi peran sektor yang menghasilkan bahan pangan tidak serta-merta hilang. Hendro tidak meremehkan profesi petani karena ia melihat alasan kuat bagi keberlanjutan bidang tersebut: manusia akan selalu membutuhkan pertanian. Pernyataan itu menegaskan bahwa pekerjaan ini mempunyai nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial yang mendasar.
Wawancara dengan Hendro berlangsung di Kamojang, Jawa Barat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Ceritanya memperlihatkan satu sudut pandang dari anak muda yang memilih bertani kentang dan menilai pekerjaannya dengan keyakinan. Bagi Hendro, pertanian bukan pilihan tanpa masa depan, melainkan sektor yang tetap dibutuhkan dan dapat membuka peluang. Pandangannya mengajak pembaca menilai profesi petani berdasarkan kontribusi serta potensinya, bukan semata-mata berdasarkan anggapan lama tentang pekerjaan tersebut.
Dalam pengamatan Hendro, banyak petani di lingkungan sekitarnya telah berusia di atas 40 tahun. Ia melihat bahwa kelompok yang selama ini mengerjakan lahan dan menjaga kegiatan pertanian sebagian besar bukan anak muda.
Baca juga: Peluang Kerja Melalui Job Fair Jakarta 2026 | Inisiatif Pertamina: Peluang Baru dalam Industri Migas Indonesia | Kenaikan Drastis Harga Cabai Rawit di Jakarta: Analis Dinas Pertanian















