banner 728x250

Kabut Asap Membatasi Operasional Penerbangan di Sorong

Kabut Asap Membatasi Operasional Penerbangan di Sorong
banner 120x600
banner 468x60

SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Operasional penerbangan di Bandara Deo Sorong, Papua Barat Daya, mengalami gangguan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kabut asap yang menyelimuti wilayah sekitar bandara menyebabkan jarak pandang menurun sehingga dua penerbangan tidak dapat melanjutkan proses pendaratan di Sorong. Kondisi tersebut membuat pengelola dan awak pesawat mengambil keputusan pengalihan demi menjaga keselamatan penerbangan, terutama ketika pandangan pilot terhadap landasan dan lingkungan di sekitarnya belum memenuhi batas operasional yang diperlukan.

Satu penerbangan diarahkan menuju Bandara Rendani di Manokwari, sedangkan penerbangan lainnya dialihkan ke Bandara Frans Kaisiepo, Biak. Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong, Hery Purnomo, menjelaskan bahwa pesawat yang menuju Biak merupakan penerbangan kargo dalam rute Makassar-Sorong. Sementara itu, penerbangan yang dialihkan ke Manokwari adalah Batik Air yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan akhir Sorong. Pengalihan dilakukan setelah kondisi jarak pandang dinilai belum memungkinkan bagi pesawat untuk mendarat secara aman.

banner 325x300

Gangguan akibat kabut asap tidak hanya berdampak pada pesawat yang sedang menuju Sorong. Sejumlah pesawat yang telah berada di landasan juga mengalami keterlambatan keberangkatan menuju tujuan masing-masing. Pesawat-pesawat tersebut harus menunggu sampai kondisi penglihatan membaik dan operasional penerbangan dapat dilanjutkan sesuai prosedur keselamatan. Penundaan ini berpotensi memengaruhi jadwal perjalanan penumpang maupun distribusi barang, terutama karena Bandara Deo menjadi salah satu titik penting mobilitas udara di wilayah Papua Barat Daya. Petugas terkait terus memantau perkembangan jarak pandang sebelum memberikan izin bagi penerbangan untuk berangkat atau mendarat.

Di tengah kondisi kabut asap yang menurunkan jarak pandang di wilayah Sorong, AirNav Indonesia Cabang Sorong tetap menjalankan pelayanan navigasi penerbangan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Pelayanan tersebut mencakup penyampaian informasi penerbangan yang relevan kepada maskapai dan pilot, sehingga setiap pihak memiliki dasar informasi yang memadai dalam mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran operasional.

Informasi yang disampaikan AirNav meliputi perkembangan cuaca serta jarak pandang di sekitar Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong. Data tersebut bersumber dari Stasiun Meteorologi Kelas I Domine Eduard Osok Sorong sebagai otoritas yang melakukan pengamatan dan menyediakan informasi meteorologi penerbangan. Dengan adanya pembaruan secara berkala, maskapai dan penerbang dapat mengetahui perubahan kondisi atmosfer serta dampaknya terhadap rencana penerbangan.

Penyampaian informasi dilakukan melalui mekanisme komunikasi penerbangan yang telah ditetapkan. AirNav menyampaikan kondisi aktual dan peringatan yang diperlukan, terutama ketika jarak pandang berada di bawah batas minimum untuk operasi tertentu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan, sekaligus memastikan seluruh pemangku kepentingan menerima informasi yang konsisten sebelum maupun selama penerbangan berlangsung.

Hery Purnomo menegaskan bahwa keputusan untuk mengalihkan penerbangan berada di tangan pilot atau penerbang. Pilot memiliki tanggung jawab untuk menilai kondisi penerbangan berdasarkan informasi cuaca, jarak pandang, kinerja pesawat, serta berbagai faktor operasional lainnya. Sementara itu, AirNav berperan menyediakan informasi yang diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan tersebut. Dengan pembagian peran yang jelas, keputusan operasional dapat dilakukan secara profesional dan mengutamakan standar keselamatan penerbangan.

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang membatasi operasional penerbangan di Sorong. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Deo Sorong, Ahmad Bisri, menjelaskan bahwa angin dominan bertiup dari arah tenggara. Pola angin tersebut membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik panas menuju kawasan Sorong, sehingga kualitas udara dan jarak pandang di sekitar bandar udara ikut terdampak.

Penurunan jarak pandang paling signifikan tercatat pada Rabu pagi. Berdasarkan pemantauan meteorologi, jarak pandang terburuk berada di sekitar 1.000 meter, yang terjadi sejak pukul 06.05 hingga 07.00 WIT. Kondisi ini berpotensi menghambat pergerakan pesawat, terutama saat proses pendaratan dan lepas landas yang membutuhkan visibilitas memadai. Maskapai dan pengelola bandar udara perlu mempertimbangkan laporan cuaca terkini sebelum menjalankan setiap penerbangan.

Pada Kamis pagi, jarak pandang juga sempat menurun hingga 1.500 meter sekitar pukul 07.00 WIT. Ahmad menerangkan bahwa kabut asap yang muncul dalam kondisi cuaca kering dapat membuat jarak pandang berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer. Keadaan tersebut dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, tingkat konsentrasi asap, serta perkembangan pemanasan udara pada pagi hingga siang hari.

Situasi ini berkaitan dengan banyaknya titik panas yang terdeteksi di wilayah Papua Barat Daya. Hingga 8 Oktober 2026, tercatat 1.463 titik panas sejak awal Oktober. Jumlah terbanyak terdeteksi di Kabupaten Sorong Selatan. Asap dari wilayah tersebut dan daerah sekitarnya berpotensi terbawa angin tenggara menuju Sorong, terutama ketika atmosfer kering dan pergerakan udara mendukung penyebarannya. Oleh karena itu, pemantauan jarak pandang, arah angin, serta perkembangan titik panas menjadi dasar penting dalam menentukan kelancaran atau penundaan operasional penerbangan.

Garuda Indonesia Cabang Sorong melakukan penyesuaian jadwal penerbangan pada rute Jakarta–Sorong selama kabut asap membatasi jarak pandang di sekitar Bandara Domine Eduard Osok. Perubahan ini diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara yang dapat memengaruhi keselamatan serta kelancaran operasional pesawat.

General Manager Garuda Indonesia Cabang Sorong, Nadia Anisa, menyampaikan bahwa selama tiga hari terakhir pesawat baru dapat mendarat di Sorong sekitar pukul 11.00 WIT. Kondisi tersebut membuat jadwal keberangkatan dari Jakarta yang biasanya berlangsung pada pukul 00.10 disesuaikan menjadi pukul 05.00. Pengaturan waktu ini mempertimbangkan perkiraan kondisi yang lebih memungkinkan bagi pesawat untuk melakukan pendaratan di Sorong.

Penyesuaian jadwal dilakukan untuk menghindari kemungkinan penerbangan dialihkan ke bandara lain apabila kabut asap masih mengganggu jarak pandang saat pesawat tiba. Pengalihan dapat berdampak pada waktu tempuh, ketersediaan transportasi lanjutan, serta rencana perjalanan penumpang. Dengan mengubah waktu keberangkatan, maskapai berupaya meningkatkan peluang penerbangan tiba di tujuan sesuai rencana operasional yang telah diperbarui.

Selain mengurangi risiko pengalihan, perubahan tersebut diharapkan membantu penumpang mengatur perjalanan lanjutan dari Sorong. Penumpang dapat menyesuaikan jadwal transportasi, akomodasi, maupun agenda berikutnya berdasarkan informasi terbaru dari maskapai. Garuda Indonesia juga perlu terus menyampaikan perkembangan jadwal secara berkala agar penumpang memiliki waktu yang cukup untuk melakukan persiapan.

Pada Senin, Selasa, dan Rabu, masing-masing terdapat satu penerbangan rute Sorong–Jakarta yang mengalami keterlambatan sekitar lima hingga enam jam. Keterlambatan ini mencerminkan dampak kabut asap terhadap rangkaian operasional penerbangan, termasuk waktu kedatangan pesawat dan jadwal keberangkatan berikutnya. Maskapai memantau kondisi tersebut sambil menyesuaikan layanan berdasarkan situasi terbaru di lapangan.

banner 325x300