Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Rabu, 28 Oktober 2026, di zona merah. Indeks ditutup pada level 5.179,06, melemah 87,07 poin atau setara 1,65% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Hasil tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat sepanjang paruh pertama perdagangan, meskipun indeks sempat memperlihatkan upaya pemulihan pada awal sesi. Pergerakan yang berubah arah beberapa kali membuat investor menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif sebelum jeda siang.
Pada awal perdagangan, IHSG bergerak naik dan sekitar pukul 09.30 WIB sempat pulih ke kisaran 5.250. Penguatan tersebut tidak bertahan lama. Setelah pukul 10.00 WIB, indeks kembali tertekan dan bergerak turun, menghapus kenaikan yang sempat tercatat pada pagi hari. Menjelang akhir jam pertama perdagangan, IHSG merosot ke kisaran 5.180. Level ini kemudian menjadi area pergerakan indeks hingga tengah hari, ketika tekanan pasar membuat indeks cenderung mendatar tanpa mampu kembali mendekati posisi tertinggi intrahari.
Aktivitas transaksi selama sesi pertama tercatat mencapai volume 164,77 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp7,25 triliun. Angka tersebut menggambarkan perdagangan yang berlangsung di tengah perubahan arah indeks, dari pemulihan awal menuju pelemahan dan konsolidasi di level yang lebih rendah. Penutupan sesi pertama pada 5.179,06 menjadi gambaran sementara kondisi pasar pada hari itu; perkembangan pada sesi berikutnya masih dapat memengaruhi arah IHSG sepanjang perdagangan. Pergerakan intrahari yang sempat pulih lalu kembali turun juga menunjukkan bahwa sentimen pasar belum cukup kuat untuk mempertahankan penguatan pagi. Dengan demikian, pelaku pasar dapat mencermati kelanjutan transaksi dan faktor eksternal yang menjadi perhatian investor, termasuk arah kebijakan The Fed, sebelum menilai kecenderungan indeks pada akhir hari.
Pelaku pasar keuangan global maupun domestik cenderung mengambil sikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil obligasi, dan minat investor terhadap aset berisiko di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam kondisi menunggu, pelaku pasar umumnya menilai ulang posisi investasi sambil mencermati petunjuk terbaru mengenai inflasi dan kondisi ekonomi.
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan pada Rabu waktu Amerika Serikat, atau Kamis, 29 Oktober, pukul 01.00 WIB. Pengumuman tersebut akan dilanjutkan dengan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan dipertahankan pada kisaran 3,75%–4,00%, setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Meski perkiraan utama mengarah pada tidak adanya perubahan, keputusan resmi dan penjelasan yang menyertainya tetap berpotensi memicu respons pasar.
Investor juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama mengenai perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya. Pilihan kata dalam konferensi pers dapat memberi petunjuk tentang seberapa lama suku bunga akan berada pada tingkat saat ini, serta faktor apa yang dapat mendorong perubahan arah kebijakan. Karena itu, perhatian tidak hanya tertuju pada angka suku bunga, tetapi juga pada penilaian bank sentral terhadap risiko ekonomi ke depan.
Sikap yang lebih hawkish—atau mengisyaratkan kebijakan ketat lebih lama—dapat mendorong penguatan dolar AS dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat mengubah ekspektasi investor mengenai prospek kebijakan, meski belum tentu berarti pelonggaran segera. Bagi Indonesia, perubahan sentimen tersebut dapat memengaruhi rupiah, arus modal asing, serta daya tarik Surat Berharga Negara (SBN). Dolar yang menguat dan imbal hasil AS yang meningkat berpotensi membuat investor lebih selektif terhadap pasar berkembang. Sebaliknya, tekanan eksternal yang lebih ringan dapat membantu menjaga minat pada aset domestik. Pergerakan IHSG dan rupiah karena itu dapat ikut dipengaruhi oleh penafsiran pasar atas keputusan dan komunikasi The Fed.
Minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) melemah tajam dalam lelang Selasa, 27 Oktober 2026. Pemerintah menerima penawaran masuk sebesar Rp31,09 triliun, turun 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya. Nilai tersebut menjadi yang terendah sejak November 2024, menandakan kehati-hatian pelaku pasar dalam menyerap surat utang pemerintah. Penurunan ini terjadi ketika kondisi pasar masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, termasuk keputusan The Fed yang dinantikan investor. Dalam situasi tersebut, perubahan selera risiko dapat membuat investor meminta kompensasi lebih tinggi sebelum membeli obligasi, atau memilih menunda transaksi sampai prospek pasar dinilai lebih jelas. Dengan demikian, hasil lelang mencerminkan bukan sekadar perubahan jumlah permintaan, melainkan juga sikap lebih selektif terhadap risiko dan harga surat utang negara.
Tekanan permintaan tampak bersamaan dengan kenaikan imbal hasil. Yield rata-rata tertimbang SUN bertenor sekitar 10 tahun mencapai 7,54%, level tertinggi sejak November 2022. Angka itu naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 basis poin dibandingkan awal 2026. Kenaikan yield berarti investor meminta imbal hasil lebih besar untuk menempatkan dana pada obligasi pemerintah. Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun, lebih rendah daripada target indikatif Rp30 triliun. Selisih tersebut menunjukkan bahwa penyerapan dalam lelang tidak mencapai sasaran yang telah ditetapkan, sekaligus memberi gambaran mengenai keterbatasan minat pada tingkat harga dan imbal hasil yang tersedia. Besarnya yield juga menjadi perhatian karena tenor panjang biasanya sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, inflasi, dan persepsi risiko fiskal.
Gabungan penawaran yang menyusut dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan pemerintah. Untuk menarik investor pada lelang berikutnya, pemerintah berpotensi perlu menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga biaya penerbitan utang baru dapat bertambah. Perkembangan tersebut juga dapat berimbas ke pasar keuangan lebih luas. Kekhawatiran melemahnya minat terhadap SBN dapat memicu arus keluar dana, terutama jika investor mengalihkan portofolio ke aset lain atau pasar di luar negeri. Jika tekanan itu berlanjut, saham dan rupiah berisiko ikut tertekan melalui berkurangnya likuiditas serta meningkatnya kehati-hatian investor. Meski demikian, hasil satu lelang tidak otomatis menentukan arah pasar selanjutnya. Pelaku pasar akan mencermati lelang berikutnya, perkembangan yield, dan respons kebijakan untuk menilai apakah pelemahan permintaan bersifat sementara atau mencerminkan perubahan minat yang lebih luas.
Perkembangan ekonomi China menjadi salah satu sentimen eksternal yang dicermati pelaku pasar, di tengah perhatian terhadap arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan IHSG. Data terbaru menunjukkan laba perusahaan industri di China mencapai CNY 6,03 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 15,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski tetap tumbuh kuat, laju tersebut sedikit melambat dari kenaikan 15,7% yang tercatat pada Januari hingga Agustus. Perlambatan tipis ini memberi gambaran bahwa pemulihan laba belum sepenuhnya merata, sehingga investor turut menilai sumber serta keberlanjutan pertumbuhan tersebut.
Penguatan laba terutama ditopang manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan, dan produksi peralatan elektronik. Sektor-sektor ini memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi dan kebutuhan terhadap produk bernilai tambah lebih tinggi. Namun, lemahnya permintaan domestik China masih membebani sejumlah industri. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kenaikan penjualan dan laba, sekalipun bidang teknologi mencatat kinerja yang lebih baik.
Baca juga: Dandim 0906/Kkr Hadiri Acara Puncak Prosesi Penutupan Erau | Penutupan 15 Bank di Indonesia Per September 2026 152 kunjungan











