Kota Bandung Muhammad Farhan | Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengusulkan pengawalan yang lebih ketat bagi rombongan Persib ketika menjalani pertandingan di luar kota. Gagasan tersebut mencakup kemungkinan keterlibatan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung untuk mendampingi perjalanan tim. Pendampingan ini diharapkan dapat membantu menjaga keamanan, ketertiban, serta kelancaran mobilitas rombongan sejak keberangkatan hingga tiba di lokasi pertandingan.
Usulan Farhan terutama ditujukan bagi tim junior dan akademi Persib. Kelompok tersebut dinilai memerlukan perhatian khusus karena para pemainnya masih berusia muda dan belum memiliki pengalaman sebanyak skuad senior dalam menghadapi perjalanan maupun situasi di luar daerah. Kehadiran unsur pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat perlindungan selama perjalanan, termasuk dalam pengaturan lalu lintas, koordinasi dengan pihak terkait, serta antisipasi terhadap potensi gangguan keamanan.
Meski demikian, rencana tersebut belum menjadi keputusan operasional yang langsung diterapkan. Keterlibatan Satpol PP dan Dishub masih berupa usulan yang perlu dibahas lebih lanjut bersama manajemen Persib. Pembahasan itu diperlukan untuk menentukan bentuk pendampingan, kebutuhan personel, pola koordinasi, serta batas kewenangan masing-masing pihak. Pemerintah Kota Bandung juga perlu memastikan agar langkah pengamanan dapat berjalan secara proporsional dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dengan adanya pembicaraan lanjutan, pengawalan dapat dirancang berdasarkan kebutuhan setiap kelompok usia dan agenda pertandingan. Koordinasi pemerintah kota, manajemen klub, aparat keamanan, serta penyelenggara kompetisi akan menjadi faktor penting sebelum kebijakan tersebut dijalankan. Farhan menempatkan perlindungan pemain sebagai perhatian utama, sementara keputusan akhir mengenai penerapan pengawalan tetap menunggu hasil pembahasan bersama Persib.
Usulan pengawalan lebih ketat untuk Persib saat bertanding di luar kota muncul setelah rombongan Persib Elite Pro Academy (EPA) U-18 mengalami penyerangan di rest area KM 360 Batang, Jawa Tengah. Insiden tersebut terjadi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, ketika perjalanan tim akademi berada dalam perhatian publik. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aspek keamanan perlu mendapat perhatian yang sebanding dengan persiapan pertandingan dan agenda olahraga yang dijalankan oleh para pemain muda.
Kejadian di Batang mendorong pembahasan mengenai perlindungan rombongan Persib, khususnya ketika tim harus melakukan perjalanan ke wilayah lain untuk memenuhi jadwal pertandingan. Perjalanan darat dapat melibatkan rute panjang dan sejumlah titik pemberhentian, sehingga pengamanan tidak hanya dipandang penting ketika tim berada di stadion. Area perjalanan, termasuk lokasi persinggahan, juga perlu menjadi bagian dari perencanaan keamanan agar rombongan dapat menjalankan mobilitas dengan lebih teratur dan terlindungi.
Dalam konteks tersebut, Farhan menilai pengawalan bagi Persib perlu diperkuat. Penilaian itu disampaikan sebagai respons atas penyerangan yang dialami rombongan EPA U-18, sekaligus sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Perhatian terhadap keamanan tim akademi menjadi penting karena rombongan tersebut membawa pemain muda yang sedang menjalani pembinaan dan kompetisi. Penguatan pengawalan diharapkan dapat membantu menciptakan perjalanan yang lebih aman, baik saat keberangkatan, selama berada di luar kota, maupun ketika rombongan kembali dari agenda pertandingan.
Pemerintah Kota Bandung menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat pendampingan bagi pemain muda Persib ketika menjalani pertandingan atau agenda pembinaan di luar kota. Farhan menyampaikan bahwa pembahasan mengenai skema tersebut akan dibuka bersama manajemen Persib. Dialog ini diperlukan agar kebutuhan tim junior dan akademi dapat dipetakan secara jelas, termasuk aspek keamanan, transportasi, koordinasi perjalanan, serta komunikasi dengan pihak-pihak terkait di daerah tujuan.
Menurut Farhan, pendampingan tidak semata-mata ditujukan untuk mengawal perjalanan rombongan, tetapi juga memastikan para pemain memperoleh dukungan yang memadai sejak keberangkatan hingga kembali ke Bandung. Skema yang disusun diharapkan mampu memperjelas pembagian tugas pemerintah kota, manajemen klub, dan unsur pengamanan. Dengan koordinasi yang lebih awal, berbagai potensi kendala selama perjalanan dapat diantisipasi secara lebih terukur.
Dalam rencana tersebut, personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) turut dipertimbangkan untuk dilibatkan. Selain membantu pengamanan dan kelancaran mobilitas rombongan, personel yang ditugaskan juga dapat disiapkan sebagai pengemudi cadangan apabila situasi membutuhkan. Opsi itu menjadi bagian dari pembahasan agar perjalanan tim tetap berjalan aman, tertib, dan tidak bergantung pada satu pengemudi saja.
Pernyataan tersebut disampaikan Farhan ketika bertemu dengan orang tua pemain EPA Persib di Pendopo Kota Bandung pada Senin, 12 Oktober 2026. Pertemuan itu menjadi ruang untuk mendengarkan perhatian keluarga pemain sekaligus menjelaskan upaya yang dapat ditempuh pemerintah kota. Farhan menekankan bahwa rencana pendampingan masih perlu dirumuskan secara bersama-sama agar pelaksanaannya sesuai kebutuhan tim dan tetap mengikuti kewenangan setiap instansi.
Melalui diskusi dengan manajemen Persib, Pemerintah Kota Bandung berharap terbentuk mekanisme pendampingan yang konsisten untuk setiap agenda luar kota. Rencana ini juga diharapkan memperkuat rasa aman orang tua dan pemain, terutama ketika tim junior mengikuti kompetisi dengan jadwal perjalanan yang padat.
Farhan menyampaikan keprihatinan mendalam atas penyerangan yang menimpa rombongan Persib EPA U-18. Menurutnya, insiden tersebut tidak hanya menimbulkan rasa takut dan ketidaknyamanan bagi para pemain, pelatih, serta ofisial, tetapi juga mencoreng semangat sportivitas yang seharusnya menjadi dasar dalam setiap pertandingan. Ia mengecam keras segala bentuk teror dan kekerasan yang dilakukan terhadap rombongan tim, terlebih ketika korbannya merupakan atlet muda yang sedang menjalankan agenda olahraga.
Farhan menegaskan bahwa perbedaan dukungan, rivalitas antarklub, maupun hasil pertandingan tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk melakukan intimidasi atau penyerangan. Kekerasan terhadap atlet dan ofisial bukan bagian dari olahraga, sehingga tidak boleh dinormalisasi sebagai konsekuensi dari persaingan di lapangan. Setiap pertandingan semestinya berlangsung dalam suasana aman, tertib, dan menghormati seluruh pihak yang terlibat.
Ia juga meminta agar perlindungan terhadap rombongan tim diperkuat, terutama ketika Persib menjalani pertandingan di luar kota. Pengamanan yang memadai dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa serta memastikan pemain dan ofisial dapat menjalankan kegiatan tanpa ancaman. Namun, Farhan menekankan bahwa peningkatan pengawalan perlu berjalan beriringan dengan penegakan hukum terhadap tindakan kekerasan.
Karena itu, Farhan meminta kepolisian mengusut tuntas penyerangan terhadap rombongan Persib EPA U-18. Ia berharap seluruh rangkaian peristiwa dapat ditelusuri secara menyeluruh, termasuk dengan memeriksa keterangan korban, saksi, dan bukti-bukti yang tersedia. Proses tersebut perlu dilakukan secara profesional, terbuka, dan sesuai dengan ketentuan hukum agar pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban. Farhan menilai langkah tegas dari aparat penting untuk menjaga keamanan pertandingan sekaligus memberikan pesan bahwa teror dan kekerasan tidak memiliki tempat dalam dunia olahraga.







