banner 728x250

Enam Tahun Menanti Pekerjaan, Suci Berharap Lamaran Tak Lagi Berujung Senyap

Enam Tahun Menanti Pekerjaan, Suci Berharap Lamaran Tak Lagi Berujung Senyap
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebuah bursa kerja digelar di Gedung Smesco, Jakarta Selatan. Sejak acara berlangsung, para pencari kerja mendatangi stan perusahaan yang berpartisipasi. Mereka melihat informasi lowongan, menanyakan persyaratan, dan menyampaikan berkas lamaran kepada perwakilan perusahaan. Di peserta yang hadir, Suci, 24 tahun, warga Jakarta Barat, datang dengan tujuan mencari pekerjaan. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya untuk menemukan kesempatan kerja setelah bertahun-tahun menunggu.

Suci telah menganggur sejak lulus dari sekolah menengah kejuruan pada 2020. Sejak itu, ia menjalani masa tanpa pekerjaan formal, sementara keinginan untuk memperoleh pekerjaan tetap menjadi harapan yang belum terwujud. Bursa kerja di Smesco memberinya ruang untuk bertemu langsung dengan sejumlah perusahaan dan mengetahui peluang yang tersedia. Seperti peserta lain, ia dapat mendatangi stan-stan yang menarik perhatiannya, mencari keterangan mengenai posisi yang dibuka, serta mengikuti proses pengajuan lamaran sesuai ketentuan masing-masing perusahaan.

banner 325x300

Acara semacam ini mempertemukan pencari kerja dan perusahaan dalam satu tempat, sehingga peserta dapat mengakses informasi lowongan tanpa harus mendatangi kantor perusahaan satu per satu. Bagi Suci, kehadiran di bursa kerja tersebut merupakan langkah untuk terus mencari peluang setelah lama menganggur. Namun, kedatangannya tidak dengan sendirinya berarti ia telah memperoleh tawaran atau kepastian pekerjaan. Pada hari itu, ia berada di para pencari kerja yang berusaha menyampaikan lamaran dan membuka kemungkinan baru. Harapannya adalah agar upaya tersebut tidak kembali berakhir tanpa kabar, seperti pengalaman yang kerap dirasakan pelamar setelah mengirimkan berkas. Di tengah ramainya stan dan peserta, Suci mengikuti kesempatan yang tersedia, dengan hasil proses lamaran yang belum diketahui.

Dalam upayanya mendapatkan pekerjaan, Suci juga pernah mengalami kerugian akibat penipuan lowongan kerja di dua tempat berbeda. Menurut keterangannya, ia membayar Rp2,5 juta di Jakarta Timur dan Rp1,8 juta di Cengkareng. Jika kedua pembayaran itu dijumlahkan, nilainya mencapai Rp4,3 juta. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pencarian kerja yang dijalani Suci tidak hanya diwarnai penantian panjang, tetapi juga risiko kehilangan uang saat ia berusaha memperoleh kesempatan bekerja.

Suci menyampaikan bahwa saat itu ia sangat ingin mendapatkan pekerjaan. Keinginan tersebut membuatnya bersedia mendaftar dengan beragam persyaratan. Dalam keadaan seperti itu, kesempatan untuk bekerja tentu menjadi hal yang penting baginya, sehingga ia berupaya memenuhi ketentuan yang diminta dalam proses pendaftaran. Namun, pengalaman di Jakarta Timur dan Cengkareng justru berakhir dengan kerugian finansial. Kedua jumlah yang ia bayarkan berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari pengalaman pahit dalam perjalanan mencari kerja.

Rincian yang tersedia tentang dua kejadian itu terbatas pada lokasi dan jumlah uang yang dibayarkan, sehingga tidak ada dasar untuk menyimpulkan hal lain mengenai pihak yang terlibat atau prosesnya. Yang dapat dicatat adalah bahwa Suci mengeluarkan total Rp4,3 juta dalam dua pengalaman penipuan lowongan kerja tersebut. Kisah ini menjadi sisi lain dari perjuangannya menanti pekerjaan selama bertahun-tahun: ketika seseorang sangat membutuhkan pekerjaan dan bersedia mengikuti beragam persyaratan, kerugian semacam itu dapat menambah beban dalam proses pencarian. Pengalaman Suci juga mengingatkan bahwa penantian memperoleh pekerjaan dapat berjalan berdampingan dengan risiko, tanpa menghapus harapan untuk menemukan kesempatan yang lebih baik. Bagi Suci, perjalanan itu mencakup bukan hanya lamaran yang belum menghasilkan pekerjaan, tetapi juga dua pembayaran yang kini ia ceritakan sebagai kerugian. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya biaya yang telah ia keluarkan dalam usaha mencari pekerjaan, tanpa perlu menambahkan rincian yang tidak disampaikan.Di tengah penantian panjang untuk memperoleh pekerjaan, Suci tetap berusaha menjaga peluangnya tetap terbuka. Ia tidak hanya menunggu kabar dari lamaran yang telah dikirimkan, tetapi juga berupaya menambah pengalaman dan keterampilan sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja. Salah satu langkahnya adalah mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Upaya tersebut memberinya ruang untuk terus mengembangkan diri, sekaligus menunjukkan bahwa proses mencari pekerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan. Bagi Suci, pelatihan menjadi bagian dari ikhtiar agar ia tetap siap ketika kesempatan kerja datang. Dengan terus belajar dan memperluas bekal, ia berusaha menjaga harapan tetap tumbuh.

Dalam bursa kerja kali ini, Suci memanfaatkan kesempatan yang tersedia dengan mengajukan lamaran kepada sejumlah perusahaan ritel yang membuka stan. Kehadiran berbagai stan memberinya kesempatan untuk mencari informasi mengenai lowongan sekaligus menyampaikan minat secara langsung melalui proses yang disediakan masing-masing perusahaan. Ia menempuh langkah itu sambil berharap lamaran kali ini memperoleh tanggapan, bukan berakhir tanpa kabar seperti pengalaman yang mungkin dialami pencari kerja lain. Namun, upaya tersebut tetap menjadi bagian dari strategi Suci untuk menemukan pekerjaan yang sesuai. Ia terus mencoba memanfaatkan kesempatan yang hadir, meski hasil dari setiap lamaran belum dapat dipastikan. Bursa kerja itu menjadi salah satu jalur yang ia tempuh.

Di luar bursa kerja tersebut, Suci juga mencari peluang secara mandiri melalui platform pencarian kerja Jobstreet dan Glints. Dengan menggunakan kanal tersebut, ia dapat menelusuri informasi lowongan dan mengajukan lamaran tanpa bergantung pada satu sumber kesempatan saja. Pencarian daring itu melengkapi langkah yang ia lakukan secara langsung di bursa kerja, sehingga upayanya menjangkau lebih dari satu cara. Suci tetap berusaha aktif mencari kabar tentang pekerjaan yang tersedia, sembari mengembangkan pengalaman dan keterampilannya melalui pelatihan. Berbagai jalur tersebut mencerminkan kegigihannya untuk terus mencoba setelah bertahun-tahun menanti kesempatan. Ia berharap langkah yang ditempuhnya dapat mempertemukan dirinya dengan pekerjaan yang diharapkan.

Setelah mengirimkan lamaran dan menjalani wawancara di beberapa perusahaan, Suci masih belum menerima panggilan maupun kabar lanjutan. Situasi itu membuatnya bertanya-tanya tentang proses yang telah ia jalani, sebab setiap tahapan yang dilalui belum disertai kepastian mengenai hasilnya. Ia mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi setelah wawancara, dan hingga kini belum mendapat informasi apakah lamaran tersebut masih dipertimbangkan atau telah selesai diproses. Bagi Suci, menunggu tanpa penjelasan menjadi hal yang membingungkan, terlebih ia sungguh berharap dapat segera memperoleh kesempatan untuk bekerja.

Karena itu, ia berharap pihak HRD dapat memberi kabar kepada pelamar, termasuk ketika belum ada keputusan atau ketika proses tidak berlanjut. Menurutnya, informasi singkat sekalipun akan membantu seseorang memahami keadaan dan menentukan langkah berikutnya, alih-alih terus menunggu dalam ketidakpastian. Suci tidak meminta perlakuan khusus; ia hanya berharap setiap orang yang sudah meluangkan waktu untuk melamar dan mengikuti wawancara memperoleh kepastian. Ia juga menyampaikan kebingungannya karena telah berusaha memenuhi tahapan yang diminta, tetapi belum mengetahui tindak lanjut dari perusahaan-perusahaan tersebut. Ia ingin memahami keadaan yang sebenarnya, tanpa menebak-nebak sendiri.

Suci mengatakan bahwa ia ingin segera bekerja dan bersedia menerima penghasilan sekecil apa pun, selama mendapat kesempatan untuk mulai bekerja. Keinginan tersebut datang di tengah penantian yang panjang, sementara komentar dari keluarga dan saudara kerap ia dengar dan membuatnya merasa lelah. Ia tidak ingin terus berada dalam keadaan tanpa kepastian; yang ia harapkan adalah kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan serta memperoleh pekerjaan. Melalui permohonannya, Suci meminta agar pihak HRD tidak membiarkan pelamar menunggu tanpa kabar, dan berharap lamaran yang telah ia ajukan dapat memperoleh tanggapan.

Baca juga: Kekacauan Pencurian Motor di Cipayung Berujung Amuk Massa | Kericuhan Dipicu Dugaan Pembunuhan Pelajar, Agats Asmat Diguncang Aksi Kekerasan Berujung Maut

banner 325x300